HTTP Status[404] Errno [0]

Tari Mabbissu dari Pangkep

12 January 2013 01:53
Tari Mabbissu dari Pangkep
Atraksi Tari Bissu
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

BugisPos — Kesenian olah kekebalan tubuh, ternyata tidak hanya dimiliki oleh masyarakat Banten dengan debusnya, Namun diwilayah Indonesia lainnya tepatnya di Desa Assaurajang, Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkajene Kepulauan atau lebih dikenal dengan kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan mempunyai seni yang hampir mirip dengan debus, yakni tari Mabbissu atau Maggiri, demikian dirilis wisatnews

Makna kata dari Mabbissu ini berasal dari kata “ma” yang artinya tarian dan bissu berasal dari kata bessi yang bermakna bersih atau suci dan kuat. Sedangkan bissu sendiri mempunyai makna karena tidak haid, tidak berdarah, atau suci.

Dan secara secara fisik, Bissu berarti orang yang kebal terhadap senjata tajam, tidak mampu ditembus oleh keris, parang atau timah panas.

Oleh karenanya dalam kesenian ini, para Bissu selalu mempertontonkan kesaktian mereka dalam bentuk tari yang disebut dengan Mabbissu atau Tari Bissu.

Biasanya, Ritua tari Mabbissu ini selalu dilaksanakan oleh 6 orang Bissu dengan dipimpin oleh ketua Bissu di daerah itu. Untuk melangkapi proses pertunjukannya, keenam Bissu tersebut berdandan seperti layaknya perempuan dengan berpakaian warna keemasan dan badik di pinggang.

Kemudian, diiringi tabuhan gendang yang berirama khas, sambil para bissu ini melantunkan alunan mantra mitis dengan berbahasa To Rilangi yang merupakan bahasa kuno orang Bugis.

Sambil menari mengitari Arajangnge yakni sebuah benda yang dikeramatkan dan diyakini sebagai tempat ruh leluhur beristihat.
Di depan Arajangnge itu pun disiapkan berbagai sesaji, mulai dari kue-kue tradisional Bugis, buah, ayam sampai kepala kerbau dan sapi sebagai bentuk persembahan kepada leluhur mereka.

Prosesi puncak dari ritual tarian ini adalah adanya nagiri atau menusuk-nusuk tubuh mereka dengan badik, sehingga tari ini juga disebut dengan Maggiri, karena nagiri berarti menusuk, yang ditambahkan dengan awalan “ma” didepannya yang berarti tarian.

Saat gerakan maggiri ini diperagakan, kita dapat menyaksikan para Bissu itu menusuk telapak tangan maupun leher mereka dengan badik yang runcing dan tajam, namun tidak terluka sedikit pun, walaupun dilakukan berkali-kali dengan sekuat tenaga.

Peragaan ini akan berlanjalan dengan lancar, jika ada persyaratan dalam tarian ini terpenuhi. Namun jika tidak terpenuhi, maka badik tersebut akan menembus tubuh mereka.

Saat alunan musik gendang semakin keras dan cepat, maka gerakan para Bissu ini semakin pelan dan mulai œtrans atau kehilangan kesadaran.

Pada saat kehilangan kesadaran inilah, para Bissu mulai memeragakan gerakan maggiri. Para penari akan melepaskan keris panjang yang terselip dipinggang, kemudian menusukkannya ke telapak tangan, perut, dan tenggorokan mereka.

Tujuannya dari gerakan ini adalah untuk menguji apakah roh leluhur/dewata yang sakti sudah merasuk ke dalam diri mereka. Apabila kebal terhadap senjata tajam, berarti penari telah dirasuki oleh roh leluhur mereka yang dipercaya dapat memberikan berkat.

Namun sebaliknya, apabila badik itu menembus dan melukai tubuh mereka, berarti yang merasukinya adalah roh lemah atau bahkan yang terjadi adalah para penari ini tidak dirasuki roh leluhur sama sekali (una)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya