HTTP Status[404] Errno [0]

Kahar Muzakkar Bukan Pemberontak

15 January 2013 01:51
Kahar Muzakkar Bukan Pemberontak
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

UntitledBERNAMA Lengkap Abdul Kahar Muzakkar atau Abdul Qahhar Mudzakkar; lahir di Lanipa, Kabupaten Luwu, 24 Maret 1921 – meninggal 3 Februari 1965 pada umur 43 tahun; nama kecilnya Ladomeng) adalah seorang figur karismatik dan legendaris dari tanah Luwu, yang merupakan pendiri Tentara Islam Indonesia di Sulawesi. Ia adalah seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang terakhir berpangkat Letnan Kolonel atau Overste pada masa itu.

Ia tidak menyetujui kebijaksanaan pemerintahan presiden Soekarno pada masanya, sehingga balik menentang pemerintah pusat dengan mengangkat senjata. Ia dinyatakan pemerintah pusat sebagai pembangkang dan pemberontak. Pada awal tahun 1950-an ia memimpin para bekas gerilyawan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara mendirikan TII (Tentara Islam Indonesia) kemudian bergabung dengan Darul Islam (DI), hingga di kemudian hari dikenal dengan nama DI/TII di Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Pada tanggal 3 Februari 1965, melalui Operasi Tumpas, ia dinyatakan tertembak mati dalam pertempuran antara pasukan TNI dari satuan Siliwangi 330 dan anggota pengawal Kahar Muzakkar di Lasolo. Namun tidak pernah diperlihatkan pusaranya, mengakibatkan para bekas pengikutnya mempertanyakan kebenaran berita kejadiannya. Menurut kisah, jenazahnya dikuburkan di Kilometer 1 jalan raya Kendari.

Kedatangan pasukan pimpinan Worang kemudian disusul oleh pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh Kolonel A.E Kawilarang pada tanggal 26 April 1950 dengan kekuatan dua brigade dan satu batalion, di antaranya adalah Brigade Mataram yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Suharto.

Kapten Andi Azis dihadapkan ke Pengadilan Militer di Yogyakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara dan ada pula yang mengatakan bahwa andi aziz telah meninggal dunia karena di tembak oleh Suharto tetapi untuk sebahagian masyarakat Sulawesi Selatan ada pula yang mempercayai bahwa beliau tidak di tangkap dan tidak di tembak mati pernyataan ini saya kutip ketika berdiskusi dengan salah seorang tokoh pemberontak yang masih hidup saat ini dan mengeluarkan stated bahwa kahar muzakkar masih hidup kalau di tembak karena memiliki ilmu kebal (Metafisik), dan juga ada stated yang lain saya temukan ketika masuk ke sebuah perkampungan di daerah Gowa Makassar yang menyatakan bahwa Kahar Muzakkar masih hidup dan tinggal di dalam kampung ini dan sedang melakukan pergerakan.

Kini salah satu Putra Kahar Muzakkar, yakni Azis Kahar Muzakkar yang juga anggota DPD RI akil Sulsel menjadi kandidat calon Wakil Gubernur Sulsel Mendampingi Ilham Arif Sirajuddin Calon Gubernur Sulawesi Selatan dari partai Demokrat.

Biodata Kahar Muzakkar

  • Nama Lengkap: Abdul Kahar Muzakkar atau Abdul Qahhar Mudzakkar.
  • Kelahiran: Lanipa Luwu, 24 Maret 1921

Karier: Seorang tentara pejuang RI, namun belakang membelot dan melawan Republik Indonesia sampai akhir hayatnya.

Bukan Pemberontak

Apapun interpretasinya, kata ‘pemberontak’ ternyata menjadi sensitif di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel).
Hal yang tidak bisa di pungkiri, Sulsel pernah diwarnai aksi pemberontakan yang dialamatkan kepada ketua Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Kahar Muzakkar pada era1950-an.

Buktinya, setelah bakal calon gubernur incumbent Sulsel Syahrul Yasin Limpo menggaungkan ajakan melawan pemberontak, timbul reaksi kecaman dari berbagai kalangan.
Ajakan Syahrul yang juga ketua pengurus daerah (PD) Forum Komunikasi Keluarga Putra Putri Purnawirawan ABRI (FKPPI) Sulsel, terlontar saat membuka rapat pimpinan daerah (rapimda) FKPPI XIX di baruga Sangiaseri, rumah jabatan gubernur di Makassar, beberapa waktu lalu.

Munculnya kecaman, bukan tidak mungkin lantaran kuatnya kepercayaan mayoritas masyarakat Sulsel, bahwa sosok Kahar bukan lah pemberontak. Alasan itu dibenarkan oleh dosen Sejarah Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar Dr Latif.
“Kahar Muzakkar bukan lah pemberontak. Kahar tidak pernah punya keinginan keluar dari Indonesia. Makanya, gerakannya disebut Negara Islam Indonesia, ada kata Indonesia-nya,” ujar Latif seperti dikutip Tribun 9/6/2012.

Kahar, lanjutnya, tetap setia kepada Indonesia dan sila Pancasila, karena ia memperjuangkan Islam. Itulah cara Kahar memperjuangkan gagasan, dan mendapat simpati rakyat Sulsel, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.
“Dulu dibentuk tentara teritorium tujuh, panglimanya adalah Alex Kawilarang. Panglima Kawilarang tidak disetujui masyarakat Sulsel. Rakyat Sulsel terus menolak Alex yang juga orang Manado,” papar Latif.

Karena orang Sulsel tidak setuju Kawilarang sebagai panglima, Kawilarang meminta Kahar datang ke Sulsel untuk membujuk mereka.
Kahar dipercayakan Kawilarang, karena saat itu merupakan militer senior di Bugis-Makassar. Bisa dibilang, Kahar Muzakkar adalah ‘neneknya militer’ di Sulsel.
Nama-nama seperti Andi Sose dan Andi Selle, adalah didikan Kahar di era militer kesatuan (sebelum DI/TII dibentuk).
Kahar diminta mengarahkan rakyat Sulsel agar mematuhi Panglima Kawilarang. Kahar saat itu diberi pangkat Letnan Kolonel.
“Ketika Kahar datang ke Sulsel untuk menemui hampir semua pimpinan pejuang di Sulsel, Kahar menerima aspirasi rakyat Sulsel agar diberi posisi di dunia kemiliteran. Ada juga yang mau jadi pengusaha,” jelas Latif.

Namun, aspirasi masyarakat Sulsel yang dijinjing Kahar, ditolak oleh Kawilarang. Kawilarang tidak mau menerima kemauan orang Sulsel.
Kahar selaku perwakilan Sulsel, saat itu berjuang meminta kepada Kawilarang agar menerima keinginan warga sekampungnya, Tapi, lagi-lagi ditolak Kawilarang.
Lantaran Kawilarang ngotot menolak aspirasi masyarakat Sulsel, Kahar kemudian meninggalkan Kawilarang. Kahar memilih pulang kampung halamannya bersama rakyat Sulsel. Ia masuk hutan untuk memperjuangkan rakyat Sulsel.

Kahar memimpin langsung pejuang di hutan dengan membentuk kesatuan militer belum DI/TII. Saat Kahar membentuk kesatuan militer, masyarakat Sulsel ramai-ramai bergabung, seperti Andi Sose (pemilik Universitas 45 Makassar) Andi Selle, dan Makatang Dg Sibali.
Tapi, pada 1952 , sejumlah anggota basis Kahar seperti Andi Sose dan Dg Makatan, berminat masuk TNI. Dari situ, Kahar menerima kemauan rekannya.
Kemudian, Kahar mengubah formasi kesatuan militernya. Pada 1952, lapis pertama pertahanan Kahar banyak yang masuk TNI. Jadi, Kahar mengubah kesatuan militernya menjadi Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII).
“Hal yang perlu digarisbawahi waktu Kahar membentuk DI/TII, tidak ada fakta bahwa Kahar mendiskreditkan agama lain,” terang Latif.

Justru, tuturnya, kehadiran DI/TII juga melindungi agama non-Islam. Bahkan, non-Islam banyak yang bergabung.
“Saya mau katakan, ideologi Kahar adalah bagian dari Pancasila. Jadi, kalau ada sebutan pemberontak, bukan zamannya lagi, situasi sekarang berbeda,” beber Latif (*)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya