HTTP Status[404] Errno [0]

Pilgub Sulsel 2013 dan Harga Diri Golkar

15 January 2013 01:41
Pilgub Sulsel 2013 dan Harga Diri Golkar
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh ; Muh Iqbal LatiefÂ


UntitledKARENA itu, soliditas seluruh elemen Partai Golkar harus makin dikuatkan dan ditingkatkan menjelang 22 Januari 2013. Karena ini sudah menyangkut harga diri bagi Partai Golkar khususnya di Sulsel. Jadi jangan ada lagi kader Golkar apalagi fungsionaris Golkar yang mencoba bermain di air keruh (mengambil keuntungan pribadi dan semacamnya).

Proses pemilihan gubernur (Pilgub) Sulsel Januari ini, kini sudah memasuki babak kampanye calon gubernur. Genderang ‘perang’ sudah ditabuh, dan hasilnya akan diketahui pasca 22 Januari 2013. Banyak orang di republik ini berharap-harap cemas, siapa yang akan terpilih sebagai pemenang dalam Pilgub Sulsel ?
Ini bisa dipahami, karena beberapa alasan antara lain; (1) di dalam peta perpolitikan nasional, Sulsel adalah barometer politik di kawasan timur Indonesia. Jadi siapa yang menang dalam Pilgub Sulsel nanti, itu akan sangat berpengaruh dan menguntungkan bagi partai yang mengusungnya. Ibarat kata menguasai Sulsel bermakna dapat menguasai Indonesia Bagian timur.
Kedua, Pilgub Sulsel waktunya berdekatan dengan proses Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Sehingga Pilgub Sulsel ini, oleh partai-partai politik besar dijadikan sasaran antara untuk mendulang suara yang lebih besar lagi dalam Pileg dan Pilpres 2014, dan; (3) Yang bertarung dalam Pilgub Sulsel kali ini adalah 3 parpol besar yakni Partai Demokrat, Partai Golkar, dan Partai Gerindra. Tentulah ketiganya akan berjuang habis-habisan untuk dapat memenangkan Pilgub Sulsel. Dengan kalkulasi, jika menang di Pilgub Sulsel berarti mempermudah mendulang suara di Indonesia Bagian timur.
Karena itu, adalah logis jika semua kekuatan parpol yang bertarung ini ditumpahkan seluruhnya untuk memenangkan Pilgub Suilsel. Lantas, bagaimana dengan Partai Golkar yang selama ini dominan di Sulsel? Realitas politik menjelaskan bahwa Partai Golkar selalu menguasai perpolitikan di Sulsel yang tentu juga adalah perpolitikan di kawasan timur Indonesia.
Sejak era orde baru sampai sekarang ini, dominasi Partai Golkar di kawasan timur Indonesia khususnya di Sulsel belum tergoyahkan. Namun fenomena yang menarik, dalam dua pemilu terakhir ini (1999/2004 dan 2004/2009) jatah kursi partai Golkar Sulsel di senayan (parlemen) makin menurun. Penyebab turunnya kursi Golkar Sulsel di parlemen, bukan hanya karena makin banyaknya partai politik dan juga makin banyaknya kader Golkar yang berpindah partai. Tetapi fenomena politik yang terjadi adalah soliditas di kalangan partai Golkar sendiri juga makin menurun.

Bercermin Pilgub 2008
Menurunnya soliditas Golkar ini, puncaknya adalah ketika Pilgub Sulsel 2008 lalu, calon Golkar Amin Syam waktu itu dikalahkan oleh Syahrul Yasin Limpo. Walaupun Syahrul sendiri adalah orang Golkar dan pernah menjabat Sekretaris Umum DPD Golkar Sulsel era 1990 an, namun dengan gagalnya calon Golkar memberi indikasi bahwa soliditas Golkar Sulsel menurun. Ironisnya, dampak dari kegagalan calon Golkar waktu itu, juga berimbas pada perolehan suara Golkar dalam Pileg dan Pilpres 2009.
Jika pada Pileg 2004, suara Golkar Sulsel masih dominan dengan menguasai 16 kursi anggota DPR asal Sulsel dari 24 kursi yang diperebutkan. Pada Pileg 2009 merosot tajam dengan hanya mampu menguasai 10 kursi di parlemen dari 24 kursi diperebutkan. Yang mengejutkan justru Partai Demokrat Sulsel, berhasil menyabet 6 kursi di parlemen padahal sebelumnya (2004) tidak mendapat kursi di parlemen.
Kenyataan ini harus menjadi cermin bagi semua fungsionaris Partai Golkar baik di pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan sampai ke desa-desa. Secara infra struktur, Partai Golkar di Sulsel masih unggul dibanding Parpol lainnya, namun yang selalu bermasalah adalah soliditas dan keteguhan hati para fungsionaris Golkar. Makanya, selalu saja ada friksi karena trik-trik politik yang dimainkan terkadang tidak sejalan dengan ketentuan dan garis partai.

Harga Diri
Jika dalam Pilgub 2008 lalu, Partai Golkar walaupun kalah namun tidak terlalu kehilangan muka-sebab yang menjadi gubernur juga adalah kader Golkar. Namun untuk Pilgub Sulsel 2013 ini, nuansanya berbeda. Jika Partai Golkar ‘kalah’, maka habislah sudah masa kejayaan Golkar di Sulsel. Karena yang dihadapi bertarung adalah partai lain (Demokrat dan Gerindra). Walaupun Ilham Arief Sirajuddin dulunya adalah Ketua Golkar Makassar, namun faktanya sekarang sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Sulsel dan ini harus dipahami oleh semua komponen partai Golkar.
Karena itu, soliditas seluruh elemen Partai Golkar harus makin dikuatkan dan ditingkatkan menjelang 22 Januari 2013. Karena ini sudah menyangkut harga diri bagi Partai Golkar khususnya di Sulsel. Jadi jangan ada lagi kader Golkar apalagi fungsionaris Golkar yang mencoba bermain di air keruh (mengambil keuntungan pribadi dan semacamnya).
Jika mengamati perkembangan pooling yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survei yang ada, tampaknya pasangan Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu’mang (Sayang jilid II), masih unggul dibanding pesaing-pesaingnya. Apalagi sekarang ini kondisi Partai Demokrat makin terseok-seok dengan banyaknya kadernya yang terkena kasus korupsi.
Namun hasil survei itu tiap hari bisa berubah konstelasinya, Partai Golkar dan kader-kadernya tidak boleh terpaku dengan hasil pooling, karena bisa mengecewakan jika faktanya tidak demikian. Yang paling penting dilakukan adalah berjuang sepenuh hati, sekuat tenaga dan berusaha mengambil simpati rakyat dengan cara baik, rasional, damai, dan tidak membohongi rakyat.
Yang lebih penting lagi, tidak boleh lagi ada sikap ambivalen dari kader dan fungsionaris Golkar. Harus berjuang dengan sikap haqqul yaqin memenangkan pasangan Syahrul – Agus. Kader dan fungsionaris Golkar yang masih bermental ambivalen (mendua), sudah saatnya diperhitungkan untuk ‘dipecat’.
Yang paling mendasar lagi sinergitas antara kader dan fungsionaris Golkar dengan kader dan fungsionaris partai-partai pendukung, harus berjalan sesuai dengan garis kebijakan yang telah disepakati. Selain Golkar, Parpol pendukung Sayang II antara lain Partai PDK, PAN, PDI-P, PPP, PKNU dan lain-lain. Semangat kebersamaan antara Partai Golkar dan partai pendukung harus dijaga sampai proses Pilgub Sulsel berakhir.
Para kader dan fungsionaris Golkar harus selalu mencontoh pada sikap dan konsistensi yang selama ini ditampakkan oleh Pak Jusuf Kalla sebagai kader Golkar. Berpuluh tahun lamanya (sejak tahun 1970 an) sampai sekarang ini, Pak Kalla tetap konsisten berada di Partai Golkar. Artinya, walaupun Golkar pernah mengalami berbagai goncangan bahkan musibah, namun Pak Kalla tetap konsisten memilih dan memperjuangkan Partai Golkar sampai saat ini.
Sikap inilah yang harus dicontoh oleh kader dan fungsionaris Golkar, jangan karena iming-iming jabatan atau materi-konsistensi kader Golkar jadi melemah. Sekarang ini, Golkar Sulsel diuji untuk mempertahankan dominasinya di Sulsel-karena itu ajang Pilgub Sulsel 2013 harus menjadi siri’na (harga dirnya) Golkar Sulsel. Dan tentu Pak Kalla tidak ingin membiarkan Partai Golkar Sulsel kehilangan muka, karena jika Golkar Sulsel kalah maka lumbung suara Golkar di Timur, akan hilang baik untuk keperluan Pileg 2014 maupun Pilpres 2014.***

Muh Iqbal Latief adalah Dosen Sosiologi Unhas


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya