HTTP Status[404] Errno [0]

Memilih Pemimpin Good Leader

17 January 2013 03:09
Memilih Pemimpin Good Leader
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh : Marwan Mas

UntitledMESKIPUN pelayanan kepada rakyat dengan cara mengunjungi langsung harus diintensifkan, tetapi hanyalah puncak dari sebuah gunung es. Karakter melayani seorang pemimpin merupakan langkah awal dari proses pengambilan kebijakan melalui desain rencana kerja yang betul-betul menyentuh kebutuhan rakyat.

Pada Selasa 22 Januari 2013 rakyat pemilih Sulawesi Selatan akan berdatangan di tempat pemugutan suara (TPS) untuk memilih gubernur dan wakilnya. Dari sisi penguatan demokrasi, tentu diharapkan para pemilik suara tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang hanya datang sekali dalam lima tahun. Tidak akan melepaskan hak pilihnya atau masuk golongan putih (golput), sebab nasib kelangsungan pembangunan dan perwujudan kesejahteraan rakyat lima tahun ke depan akan ditentukan di TPS.

Rakyat harus memilih pemimpin yang “good leader” atau pemimpin yang baik lantaran dipercaya mampu mewujudkan janji-janjinya dan punya masa lalu yang bersih dari indikasi korupsi. Ciri pemimpin good leader (Thomas Koren, Suara Karya, 10/1/2013) antara lain mau berkorban untuk rakyat, berkarakter melayani, mementingkan kepentingan umum, mengenyampingkan kepentingan pribadi, jujur, adil, dan bijaksana.

Jangan pilih pemimpin “great leader”, yaitu pemimpin yang mengedepankan ambisius untuk mencapai tujuannya, lebih mementingan kepentingan pribadi dan kelompoknya ketimbang kepentingan rakyat. Pemimpin yang berciri great leader punya banyak cara untuk meraih simpati rakyat. Misalnya, menjanjikan sesuatu untuk kepentingan rakyat tetapi hanyalah kedok karena tidak akan dilaksanakan setelah terpilih.
Pemimpin Melayani

Salah satu indikator “pemimpin yang melayani” dipraktikkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) melalui “blusukan”. Kata “blusukan” begitu populer di ruang publik belakangan ini yang menurut para ahli bahasa adalah Bahasa Jawa, yang berarti ”sengaja menyesatkan diri untuk mengetahui sesuatu” (Kompas,12/1/2013).

Dalam konteks kekinian, “blusukan” merupakan wujud seorang pemimpin yang doyan mengunjungi rakyatnya yang berada pada pemukiman kumuh untuk menangkap aspirasi dan kebutuhan rakyat secara langsung. Pola ini akan menebas rantai birokrasi yang berbelit, sehingga rakyat tidak perlu melaluinya untuk menyampaikan keinginannya. Saat pemimpin mengunjunginya, rakyat bisa menyampaikan kebutuhan dan aspirasinya dan secara langsung dilihat dan dirasakan oleh sang pemimpin.

Apa yang ditunjukkan Jokowi merupakan “karakter” seorang pemimpin yang good leader, yang tidak hanya terbuai oleh kursi empuk, tetapi berposisi sebagai pemimpin yang melayani rakyat. Pemimpin yang tidak hanya gesit mengunjungi rakyat saat ada maunya, saat akan mencalonkan diri sebagai presiden, gubernur, walikota, atau bupati.

Karakter Jokowi yang ditunjukkan sejak menjadi Walikota Solo periode pertama, ternyata membawa hasil yang mengejutkan saat kembali mencalonkan diri untuk periode kedua. Tanpa mengumbar janji kelas kecap nomor satu, rakyat Solo kembali memilihnya dengan suara mayoritas. Bukan hanya itu, di Jakarta pun yang mayoritas dihuni penduduk yang berpikir kritis dan realistis, Jokowi mampu menakklukkannya dengan mengalahkan gubernur incumben.

Seorang pemimpin yang “berkarakter melayani rakyat” sangat susah dicari di negeri ini, termasuk di Sulawesi Selatan. Yang banyak hanyalah (calon) pemimpin yang berperilaku elitis, punya gaya hidup yang menunjukkan perbedaan antara langit dan bumi dengan kehidupan kebanyakan rakyat, atau hanya “berhalo dan memberi salam” kepada rakyatnya saat butuh suara rakyat untuk kelangsungan kekuasaannya atau meraih kekuasaan. Saat terpilih, sifat melayani dengan mengunjungi rakyat seperti saat mencalonkan diri sudah dilupakan dengan berbagai alasan kesibukan.

Dalam konteks pemerintahan yang baik dan bersih (good governan dan clinck governan), mendatangi langsung rakyat selain sebagai bentuk pelayanan terbaik, juga menutup peran para pegawai yang senang memungli dan memeras rakyat. Mereka hidup laksana benalu dalam pohon bernama proses pengambilan kebijakan seperti dalam tender proyek, dan dalam pemberian beragam izin bagi rakyat. Malah ada tim sukses yang berperan sebagai calo proyek dan calo jabatan atau tiba-tiba menjadi pengusaha dadakan.

Meskipun pelayanan kepada rakyat dengan cara mengunjungi langsung harus diintensifkan, tetapi hanyalah puncak dari sebuah gunung es. Karakter melayani seorang pemimpin merupakan langkah awal dari proses pengambilan kebijakan melalui desain rencana kerja yang betul-betul menyentuh kebutuhan rakyat. Sebab problem pemerintah di daerah begitu beragam, termasuk bagaimana mencegah korupsi, mengamankan uang rakyat dari balas jasa terhadap pengusaha yang membiayai kampanye, atau terhadap tim sukses.
Jangan Terkecoh

Bagaimana rakyat memilih pemimpin yang good leader di tengah aneka perilaku yang saling memojokkan? Tetapi rakyat Sulawesi Selatan harus bersikap, dan akan ditentukan pada 22 Januari 2013. Lebih dari itu, harus berkaca pada kampanye yang selalu menjual kecap nomor satu. Kesalahan bersikap lantaran terpedaya atau terjebak pada ilusi dan janji, pada akhirnya hanya akan menimbulkan penyesalan.

Berbagai penyalahgunaan wewenang yang berujung korupsi dan pengingkaran janji kampanye, tentu sudah dapat dilihat pada track record dari ketiga pasangan calon. Ketiga calon gubernur sedang menduduki jabatan, ada yang gubernur, walikota, dan bupati. Rakyat pemilih dapat menilai apakah program yang dijanjikan betul-betul dapat dipenuhi dengan melihat kemampuan dan integritasnya selama memimpin.

Rakyat harus lebih cerdas dan mempertajam hati nurani, jangan terkecoh janji-janji kampanye yang boleh jadi menyesatkan. Lebih dari itu, jangan hanya menilai berbagai rayuan dari satu sisi, tetapi juga perlu menggali informasi di tengah sisa waktu kampanye yang tidak dinodai oleh bentrok antarpendukung.

Sisa kampanye menjadi momentum konfirmasi, apakah visi-misi dan program yang dijanjikan sesuai dengan fakta atau track record yang diperlihatkan selama ini. Jangan sampai hanya sekadar basa-basi yang mengelabui demi meraih suara rakyat. Tetapi begitulah demokrasi, kita disuguhi oleh partai politik tiga pasangan calon yang terpaksa harus dipilih salah satunya. Apakah ada di ataranya yang punya karakter melayani dan good leader? Biar rakyat yang menilai, memilah, dan memilihnya, yang penting dilakukan dengan damai.***

Marwan Mas adalah Guru Besar Ilmu Hukum Universitas 45, Makassar

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya