Jalan Beton dan Polisi Tidur

18 January 2013 01:26
Jalan Beton dan Polisi Tidur
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Beberapa tahun terakhir, kota Makassar sedang diwarnai oleh proyek jalan beton. Istilahnya ; betonisasi. Yang tadinya jalan aspal, tapi aspalnya selalu saja berantakan setiap tahun terutama kalau musim banjir, maka diubahlah jalan itu menjadi jalan beton ; itulah yang disebut betonisasi. Boleh jadi Makassar ke depan akan penuh dengan jalan beton dimana-mana, sebab, kata Ir.Muhammad Ansar, Kadis PU Kota Makassar, jalan beton memang biayanya dua kali lipat dari jalan aspal, tapi jangka waktu ketahanannya bisa mencapai 30 tahun, dibanding jalan aspal yang hanya ditarget paling lama 5 tahun sudah keok. Pemeliharaan jalan beton juga rada enteng, tak perlu ada tambal sulam kiri kanan setiap tahun.

Betonisasi di area pemerintahah IASmo ini, sebenarnya juga untuk menjawab kecurigaan banyak orang. Selama ini banyak yang curiga, bahwa sengaja jalan-jalan di Malkassar pakai aspal, karena diketahui musuh bebuyutannya aspal itu ialah air genangan. Banjir. Begitu aspal ditimpuk air genangan, maka siap-siaplah tahun depan jalan ini diproyekkan lagi. Itu artinya anggaran akan kembali mengalir, dan duit akan terbagi-bagi. Kita tahu kalau Makassar langganan banjir setiap tahun, maka kota inipun akan menjadi langganan proyek jalan yang menggiurkan. Itu yang kira-kira menari-nari di otak banyak orang yang memang suka melirik miring soal pembangunan di Makassar.

Dengan proyek jalan beton yang punya estimasi usia 30 tahun, tentunya akan memberi pencerahan pada orang-orang, bahwa Pemkot Makassar bersungguh-sungguh ingin menghemat anggaran, supaya semua sektor bisa terbiayai dengan adil dan merata, tak hanya berkutat pada anggaran perbaikan jalan rusak yang itu-itu tonji setiap tahun.

Tahun 2013 ini, seperti ditulis di koran-koran, Pemkot Makassar menganggarkan Rp65 miliar untuk perbaikan dan pembangunan jalan. Semua jalan yang diperbaiki tak lagi pakai aspal, tapi menggunakan beton bertulang besi, biar kokoh kuat. Tahun 2012 lalu, sejumlah ruas jalan juga sudah ditutup pakai beton, permukaannya lebih tingga hingga tak mudah ditutupi banjir. Yang punya rumah rendah di sekitar situ disilakan mengangkat tinggi-tinggi pondasi rumahnya, kalau tak ingin seisi rumah jadi kolam ikan.

Tentang jalan beton, agaknya juga mengikut ornamen yang bernama polsi tidur. Maka tentu soal polisi tidur sungguh perlu diutak-atik di sini. Sebab faktanya, terutama jalan beton yang melintas di kompleks perumahan, seperti di Jl.Tamalate IV, Tamalate VI, juga di beberapa blok perumahan, sepertinya jalan beton itu magnitnya begitu kencang memicu munculnya serentetan tembok cekung penghalang melintang di jalan, yang populer disebut polisi tidur. Katanya, pak polisi tidur ini menjaga

agar pengendara tidak main balap senak dengkul, dan demi tertib lalu lintas. Tapi pada sisi lain, juga menjadi menghalang bagi pengendara karena kendaraan mereka mesti berjingkrak loncat sana loncat sini melewati si polisi tidur. Belum lagi kendaraan yang kandas mencium jidat si polisi tidur, sehingga berurusan lagi dengan bengkel segala.

Fenomena polisi tidur ini, terutama yang banyak mewarnai ruas jalan beton, mestinya sudah diantisipasi Dinas PU. Jangan pemborong sibuk bikin beton jalan, ada pula yang sibuk bikin polisi tidur. Karena kehadirannya lebih banyak menyusahkan pengendara motor dan mobil. Menekan angka balap-balap, sebetulnya juga tak mesti pake polisi tidur. Pake polisi asli kan lebih bagus, supaya pak polisi juga bisa semakin aktif kreatif menjalankan tugas pengamanan lalu lintas ***

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya