HTTP Status[404] Errno [0]

Korban Penganiayaan Minta Kapolda Tangkap Bupati Wajo

26 January 2013 10:03
Korban Penganiayaan Minta Kapolda Tangkap Bupati Wajo
Empat korban yang diduga dianiaya Bupati Wajo Burhanuddin Unru yakni Akhiruddin, Muhammad Azis, Dakirwan, dan Nurfahmi (istri Akhiruddin) meminta Kapolda turun tangan menangkap pelaku dan komplotannya.
Empat korban yang diduga dianiaya Bupati Wajo Burhanuddin Unru yakni Akhiruddin, Muhammad Azis, Dakirwan, dan Nurfahmi (istri Akhiruddin) meminta Kapolda turun tangan menangkap pelaku dan komplotannya.

Empat korban yang diduga dianiaya Bupati Wajo Burhanuddin Unru yakni Akhiruddin, Muhammad Azis, Dakirwan, dan Nurfahmi (istri Akhiruddin) meminta Kapolda turun tangan menangkap pelaku dan komplotannya.

BugisPos — Empat korban penganiayaan Bupati Wajo, Burhanuddin Unru, menggelar konferensi pers di Media Center Ilham-Aziz (IA), Jl Boulevard, Makassar, Jumat (25/1/2013).

Mereka, Akhiruddin, Muhammad Azis, Dakirwan, dan Nurfahmi (istri Akhiruddin). Mereka didampingi kuasa hukum Akbar. Dua korban lainnya, Haji Dg Tapalang dan Asriadi tidak sempat hadir.

Akhiruddin, mengatakan, ia dan lima rekannya bertetangga dianiaya menjelang pencoblosan Pilgub Sulsel 22 Januari 2013. Menurut Akhiruddin dan M Azis, Burhanuddin Unru bersama premannya yang mengenakan seragam FKPPI datang dan menggeledah di kediaman M Azis di Kampung Doping, Wajo, pukul 03.30 Wita, Selasa (22/1/2013).

“Saya yang pertama ditinju Bupati Wajo. Dia menarik saya, lalu saya ditendang, ditinju lagi sampai bengkak mata saya. Kadis Pendidikan Wajo, Jasman Juanda yang memegang saya, lalu Bupati Wajo tinju saya lagi. Kemudian kami diikat diseret keluar rumah. Ada polisi, tapi mereka hanya menonton, tidak mau menolong kami,” kata M Azis, saat menceritakan kronologis kejadian.

Akhiruddin menambahkan. “Kami dipukul Bupati Wajo, kami diikat lalu diseret, kemudian Burhanuddin menyuruh premannya lagi memukul kami. Burhanuddin menyeret kami di tengah banyak orang, kami seperti dijadikan binatang diikat, diseret, diarak-arak di jalanan. Lalu, Bupati Wajo berteriak-teriak bahwa kami adalah teroris yang diutus Ilham-Aziz, dan mengatakan jangan pilih IA, tiga kali dia ucapkan itu,” ungkap Akhiruddin sambil memperlihatkan bekas ikatan di tangannya kepada wartawan.

Seperti dirilis Tribun Timur.com, dalam waktu bersamaan, lanjut Akhiruddin, Burhanuddin memerintahkan kepada anak buahnya untuk merampas mobil Daihatsu Terios dan motor milik Akhiruddin.

“Saya mau menolong suami saya, tapi saya diancam badik mau dibunuh oleh preman Burhanuddin, di bawah rumah berkeliaran premannya bawa badik, saya berteriak minta bantuan polisi, tapi polisi hanya melihat-lihat saja, mereka hanya menonton, kami betul-betul kecewa, kami tidak bisa percaya lagi sama polisi di Wajo, ada apa ini?,” ungkap Nurfahni.

Sekitar pukul 04.00 Wita hingga pukul 06.30 Wita subuh menjelang pagi itu, menurut Akhiruddin, Burhanuddin Unru memimpin penggeledahan dan menganiaya empat warga Desa Doping rekannya di Beceng-Beceng E (kawasan Desa Doping).

Selanjutnya, menurut para korban ini, Burhanuddin Unru yang juga tim pemenangan incumbent Syahrul Yasin Limpo ini dan premannya menculik keenam korban menuju Kantor DPD Golkar Wajo.

“Di kantor Golkar, kami diinterogasi oleh Burhanuddin Unru, Burhanuddin memaksa kami untuk mengaku bagi-bagi uang dan sarung di Kecamatan Penrang, agar kami juga mengaku teroris utusan Ilham-Aziz, padahal kami tidak seperti itu, aneh sekali ini Bupati,” ujar Akhruddin.

M Azis, mengungkapkan lagi, saat dipaksa Burhanuddin Unru di kantor Golkar tersebut, Ia diancam akan dibunuh oleh Burhanuddin Unru.

“Saya disuruh mengaku bahwa saya disuruh Sekda Kolut, bahwa saya bagi-bagi sarung, stiker IA, kalau saya tidak mengaku, Burhanuddin Unru akan membunuh saya. Bagaimana kami mau mengaku kalau kami tidak begitu. Di kantor itu kami terus dipukuli. Ada banyak polisi, tapi polisi membiarkan kami dianiaya,” ungkap M Azis.

Nurfahni, mengatakan, pihaknya sudah melaporkan kejadian tersebut ke Polres Wajo. “Cuma ada perlakuan tidak adil oleh polisi, BAP kami tidak dibaca, mereka sekongkol Bupati Wajo. Makanya, kami minta Kapolda agar ini diproses di Makassar, tangkap itu Bupati Wajo. Masak visum kami tidak dikeluarkan, jadi kami visum kembali di RS Bayangkara (Makassar),” katanya.

Akbar juga menyesalkan upaya Polres Wajo dalam mengusut penganiayaan tersebut. Pasalnya, yang ditangkap Polres Wajo saat ini bukan Bupati Wajo.

“Bupati Wajo yang menganiaya warga, kenapa bukan Burhanuddin yang ditangkap? Ada apa ini polisi?. Makanya, kami minta Kapolda tangkap Burhanuddin Unru, kalau tidak mau, jangan salahkan warga dan kami akan bawa ini ke Jakarta,” kata Akbar.

Akhiruddin, M Azis, Dakirwan, dan Nurfahni, dengan tegas, meminta Kapolda segera menangkap Burhanuddin Unru.

“Kami dipukul dan diculik Bupati Wajo dan premannya, kepada Kapolda, tangkap itu Burhanuddin Unru dan premannya. Kami tidak mau proses ini di Polres Wajo, kami tolak juga penyidiknya di Wajo, karena mereka sudah sekonkol bupati Wajo, kami mau ini diproses di Makassar,” kata M Azis.

“Kalau Kapolda tidak mau tangkap Burhanuddin Unru, maka jangan salahkan kami, kami akan duduki Wajo,” tegas Dakirwan.(gafar)

Â

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya