HTTP Status[404] Errno [0]

Potret Suku Kajang di Bulukumba

26 January 2013 01:31
Potret Suku Kajang di Bulukumba
Masyarakat suku Kajang

BugisPos — Suku Kajang adalah suku yang mendiami beberapa desa di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Desa yang didiami suku Kajang yang utama adalah desa Tana Toa. Selebihnya, mereka tersebar di desa Bonto Baji, Malleleng, Pattiroang, Batu Nilamung, dan Tambangan. Desa Tana Toa sebagai pusat peradaban suku Kajang, disebut Lalang Bata (dalam pagar batu). Pagar yang tersusu dari batu ini mengelilingi desa Tana Towa. Konon menurut cerita, bila ada Kerbau putih yang melompat masuk kedalam wilayah Tana Toa dengan melewati pagar batu, warna kulit Kuerabu tersebut akan langsung berubah jadi hitam.

Bahasa yang digunakan masyarakat suku Kajang, adalah bahasa Konjo yang masuk kedalam rumpun bahasa Makassar. Di daerah Bulukumba bagian timur, mulai dari Kecamatan Kajang sampai ke Bira di Kecamatan Bontobahari, masyarakatnya memang menggunakan bahasa Konjo. Bahasa ini memang mirip-mirip dengan bahasa Makassar.

Rumah adat suku Kajang berbentuk rumah panggung, ‘tak jauh beda bentuknya dengan rumah adat suku Bugis-Makassar. Bedanya, setiap rumah dibangun menghadap ke arah barat. Membangun rumah melawan arah terbitnya matahari dipercayai mampu memberikan berkah.

Wilayah desa suku Kajang dikelilingi hutan-hutan yang terawat dan masih perawan. Suku Kajang memang memiliki adat untuk menjaga lingkungan. Toh hutan-hutan itu jugalah yang menjadi sumber penghidupan bagi mereka.

Ciri khas suku Kajang yang paling menonjol adalah pakaian adatnya yang serba hitam. Bagi mereka, hitam adalah persamaan. Tidak ada beda antara hitam yang satu dengan yang lain. Selain itu, hitam juga merupakan simbol kesakralan.

Suku Kajang juga teguh untuk hidup sederhana sesuai adat. Mereka menolak segala bentuk perkembangan teknologi. Bagi mereka, teknologi dapat membuat hidup menjadi negatif dan dapat merusak lingkungan.

Tentang agama, memereka sesungguhnya adalah pemeluk agama Islam. Hanya tata cara pelaksanaan syariat Islam bagi mereka belum cukup diberikan oleh Datuk Tiro, lalu keburu sang Datuk berpindah ke Hila-hila, Tiro lalu meninggal dan dimakamkan di Hila-hila, Tiro. Datuk Tiro adalah penyiar Islam yang datang dari Sumatra bersama Datu Patimang da Datuk Ri Bandang. Batuk Tiro dalam tugas syair Islam, memperisteri seorang putri raja dari Bone Selatan, Patimpeng, lalu menetap di Kecamatan Bontotiro hingga akhir hayatnya.

Oleh karena ajaran agama yang diberikan oleh Datuk Tiro masih jauh dari cukup, terutama soal syariat, maka masyarakat Kajang pun melakukan sendiri pencarian kebenaran agama, yang kemudian mereka sebutnya sebagai agama Patuntung, yang sesungguhnya bersumber dari ajaran Islam.

Ajaran tentang menjaga lingkungan dan kesederhanaan hidup tersebut tertuang dalam ajaran agama Patuntung, agama suku Kajang. Patuntung, secara bahasa, berarti penuntun. Penuntun untuk mencari sumber kebenaran.

Ajaran utama agama Patuntung adalah jika manusia ingin mendapatakan sumber kebenaran maka manusia harus menyandarkan diri pada tiga pilar utama: menghormati Turiek Akrakna (Tuhan), tanah yang diberikan Turiek Akrakna (tana toa atau lingkungan secara umum), dan nenek moyang (To Manurung atau Ammatoa).

Percaya pada Turiek Akrakna adalah hal mendasar dalam agama Patuntung. Suku Kajang percaya bahwa Turiek Akrakna adalah sang Maha Kekal, Maha Mengetahui, Maha Perkasa, dan Maha Kuasa.

Turiek Akrakna menurunkan perintahnya kepada masyarakat Kajang melalui passang (pesan atau wahyu) yang diberikan kepada manusia pertama yang diturunkan ke dunia, To Manurung atau yang kemudian disebut Ammatoa.

Passang berisi pengetahuan hidup yang harus ditaati. Kalau tidak ditaati maka akan terjadi hal-hal buruk. Salah satu contoh passang adalah: punna suruki, bebbeki. Punna nilingkai, pesoki (kalau kita jongkok, gugur rambut dan tidak tumbuh lagi. Kalau dilangkahi, lumpuh).

Agar pasang tersampaikan dengan baik maka Turiek Akrakna memerintahkan Ammatoa untuk menjaga dan menyebarkannya. Ammatoa juga berfungsi sebagai mediator antara Turiek Akrakna dengan manusia. Makanya, adat suku Kajang sering juga disebut adat Ammatoa (una)


Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya