HTTP Status[404] Errno [0]

PKS ‘Kebakaran Jenggot’

08 February 2013 01:13
PKS ‘Kebakaran Jenggot’
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh : M Aji Surya

UntitledPENANGKAPAN Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) oleh KPK dalam kasus impor daging sapi benar-benar telah membuat partai berbasis Islam ini kalang kabut. Untuk mengembalikan citra partai akan dilaksanakan pertobatan nasional. Tepatkah?

Sungguh sangat bisa dimengerti hiruk pikuk yang terjadi pasca penangkapan tersebut. Bagaikan sebuah keluarga, manakala sang ayah digiring menjadi tersangka maka kegelisahan dan keresahan akan terasa di dalam rumah. Apalagi, di era reformasi ini, baru satu presiden partai yang ‘diambil’ KPK plus siaran media yang sedemikian massif. Terlebih lagi, partai ini selalu mengidentikkan dirinya dengan warna putih: bersih dan anti korupsi. Penangkapan itu sejatinya telah meruntuhkan jati diri rumah yang namanya PKS.

Justru dalam kondisi yang demikian kikuk, sangat diperlukan sebuah kebijakan yang tepat dengan mengandalkan kematangan pribadi, hati yang dingin dan pikiran yang jernih. Tanpa adanya sebuah strategi yang tepat, maka PKS akan seperti seorang yang kebingungan dan tidak tahu arah. Akibatnya akan sangat merugikan partai itu sendiri.

Sebenarnya, mundurnya sang presiden dalam waktu kurang dari satu hari sejak digiring KPK merupakan langkah yang paling tepat yang akan meminimalisir dampak negatif yang mungkin akan timbul. Apalagi setelah itu secara kilat dilaksanakan pengangkatan presiden baru yang semestinya memberikan respon positif atas kinerja KPK. Menyerahkan sepenuhnya kepada kredibilitas KPK atas masalah ini justru akan mengangkat PKS sebagai sebuah partai yang memahami kebutuhan rakyat tentang kepatuhan hukum.

Sayangnya, sejak awal, pengurus teras PKS terlihat demikian kalut dan nervous. Penjemputan itu datang secara mendadak dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Jubir KPK aktif menanggapi permintaan wawancara di televisi sehingga masalah ini segera masuk ke ranah publik hingga pelosok desa. Dampak media inilah yang kemungkinan dikhawatirkan menjadi batu sandungan dalam pemilu mendatang pasca sebuah survei mengindikasikan PKS tidak lagi berada di papan menengah di mata pemilih.

PKS semakin murung saat sang presiden baru, Anis Matta, menyampaikan khotbahnya dengan nada emosi yang tinggi. Padahal, emosi adalah awal dari sebuah petaka. Ada dua hal yang kurang pas diungkapkan oleh Anis Matta dalam khotbah politiknya itu. Pertama, adalah teori konspirasi dan kedua, ajakan untuk pertobatan nasional.

Sebagaimana muncul di media sosial, teori konspirasi ini justru membuat PKS seolah menjadi partai yang lupa diri. Menurut ukuran yang diyakini publik, KPK dipastikan memiliki bukti-bukti yang cukup. Bahkan publik meyakini kisaran 90 persen bahwa seorang yang disangkakan KPK akan menjadi terpidana. Itu semua karena KPK dinilai sangat kredibel dalam soal penegakan hukum.

Kalau saja benar ada konspirasi yang ingin menjatuhkan PKS maka hal tersebut pastilah hal yang lazim dalam politik namun tidak bisa dijadikan satu dengan urusan penegakan hukum korupsi. Sebab apapun yang terjadi dengan mantan presiden PKS tersebut akan dibuktikan di muka persidangan dan sampai ada putusan yang pasti akan bisa bernaung di bawah adagium hukum asumsi tak bersalah.

Sebenarnya kalau saja Anis Matta tidak emosional, dampak negatif kejadian itu akan lebih bisa diredam. Bukankah masalah ini cukup mirip dengan kasus yang dialami oleh mantan Menpora? Pengunduran Menpora dirasakan telah mengurangi riak-riak politik yang tidak perlu. Bahkan, partainya tidak memberikan pembelaan yang berlebihan yang dapat memperburuk situasi. Kasus-kasus lain juga banyak, hanya semua itu tergantung pada manajemen masalah di dalam partai.

Menurut saya, yang paling sulit dimengerti justru ajakan Anis Matta untuk pertobatan nasional. Inilah ide mendadak, emosional sehingga susah masuk logika publik. Sampai saat ini konsep pertobatan nasional ini memang belum jelas benar, apa maunya dan bagaimana akan dilaksanakan. Namun yang diingat masyarakat bahwa yang namanya “tobat” itu berkaitan erat dengan yang namanya “kesalahan”.

Ajakan melakukan tobat nasional sangat bertentangan dengan konsep konspirasi yang dikemukakan presiden baru. Konspirasi adalah sebuah usaha yang direkayasa sehingga terjadilah apa yang sebenarnya tidak mesti terjadi. Dengan ajakan bertobat, maka publik menjadi bingung, apakah ini konspirasi ataukah pengakuan dosa?

Bagaimana bila pertobatan nasional diletakkan dalam kerangka sebuah kebangkitan partai? Sebagian petinggi PKS sepertinya sangat sulit untuk dapat memberikan pencerahan tentang persamaan pertobatan nasional ini dengan yang namanya istighfar yang selayaknya dilakukan oleh umat Islam sebelum menjalankan sebuah kegiatan. Bisa jadi karena waktunya tidak tepat saja. Ajakan pertobatan nasional yang dilontarkan saat ini hanya akan dipahami oleh publik sebagai sebuah pengakuan kesalahan yang terkait dengan tersangkutnya mantan presiden PKS dalam urusan impor daging sapi.

Yang menjadikan semua tambah aneh di dalam kaca mata publik adalah ajakan melakukan tobat nasional padahal yang disangka salah adalah pengurus partai. Mana mungkin orang-orang yang, katakakanlah tidak melakukan korupsi, lalu diminta tobat tentang korupsi. Bukankah ini justru menyeret banyak orang pada sebuah perangkap yang memang tidak pernah dikehendaki? Sudah barang tentu kebijakan emosional ini akan dijauhi publik, kecuali loyalis PKS.

Sangat sulit membayangkan untuk mengajak tobat tanpa memaparkan masalahnya. Tanpa bicara apa yang salah. Ini tentu sangat berbeda mengajak bertobat masyarakat dalam keadaan normal atau setiap orang melakukan kesalahan yang sama.

Yang semestinya ditelorkan adalah kebijakan PKS untuk melakukan permintaan maaf kepada masyarakat karena ada salah satu kadernya yang sedang dalam proses hukum. Pertobatan para pengurus PKS secara nasional kepada masyarakat pasti akan memantik simpati yang luar biasa. Pengakuan salah akan diikuti oleh kata maaf dan empati. Tetapi kalau satu dua orang pengurus “salah” lalu mengajak lainnya untuk bertobat bersama, pastilah susah dijual. Kini mau tidak mau PKS harus dilakukan kerja ekstra untuk mengurangi dampak negatif yang sudah meluas *** detik.com

M. Aji Surya, penulis adalah pengamat sosial alumnus UII Yogyakarta


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya