HTTP Status[404] Errno [0]

Artis Ikon Pemasaran Narkoba?

10 February 2013 02:19
Artis Ikon Pemasaran Narkoba?
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh Marwan Mas

UntitledKASUS korupsi dan penyalahgunaan narkoba tampaknya saling berkejaran memenuhi pemberitaan media. Penyalahgunaan narkoba semakin menggila, akibat Indonesia dipandang oleh bandar narkoba internasional sebagai pasar potensial. Hampir semua kalangan sudah terjerat barang mematikan itu. Indikasinya dapat dilihat dengan seringnya Badan Nasional Narkotika (BNN) dan polisi membongkar penyusupan narkoba di berbagai pintu masuk melalui pelabuhan laut yang tersebar di nusantara dan bandar udara.

Salah satu sasaran empuk adalah para artis yang punya banyak idola, banyak job yang tentu saja butuh stamina yang prima. Shooting dari pagi sampai siang, bahkan dilanjutkan malam hari sampai subuh, memaksa sebagian artis memilih jalan pintas dengan mengkonsumsi penguat stamina. Dengan alasan meningkatkan stamina, daya ingat, dan kepercayaan diri, narkoba telah membuai mereka.

Malah pernah terdengar kabar bahwa makanan jajanan pun, seperti permen yang diberi zat terlarang, hingga anak-anak ketagihan. Peristiwa tertangkapnya 17 orang di rumah Raffi Ahmad oleh BNN beberapa hari lalu lantaran diduga sedang pesta narkoba, merupakan suatu bukti ancaman narkoba semakin nyata dan liar. Jika artis bisa dikendalikan bandar, tentu amat menjanjikan keuntungan besar bagi mereka.

Role ModelÂ

Mengapa kalangan selebriti seperti artis menjadi sasaran jaringan mafia narkoba? Karena mereka punya uang, pergaulan luas, dan berkorelasi dengan kebutuhan saat pentas di panggung atau shooting dengan durasi waktu yang menurut ukuran manusia normal melebihi kemampuannya. Padahal, seorang artis yang jadi idola yang terjerat narkoba sampai meringkuk di penjara, sangat susah membangun kembali karirnya setelah kembali ke masyarakat.

Berbeda dengan para bandar dan pengedar, malah terkesan artis dijadikan ikon pemasaran narkoba (Suara Merdeka, Tajuk Rencana,30/1/2013). Para artis yang jadi sasaran cenderung dijadikan “role model” karena dianggap memiliki pengaruh besar bagi para fansnya. Mereka jadi pasar potensial narkoba, sehingga para bandar berharap fans dari berbagai kalangan akan menjadikan idolanya sebagai ikon modernitas untuk ditiru.

Memang tidak semua fans dan publik respek, bahkan tidak sedikit yang mengutuk atau menyayangkan sang idola terjerat narkoba. Tetapi tidak menutup kemungkinan banyak penggemar berat justru akan meniru artis idolanya. Kalau potongan rambut, model baju, sepatu, dan aksesori lainnya sudah diikuti, boleh jadi gaya hidup buruk seperti mengkonsumsi narkoba akan turut ditiru.

Tentu publik masih ingat Andika, vokalis Kangen Band yang kemudian dipecat lantaran terjerat narkoba. Setelah lepas dari penjara justru kesandung berbagai kasus lain akibat prustrasi sebagai salah satu dampak negatif narkoba. Begitu pula Raffi Ahmad, begitu banyak yang terkesima dan menyayangkan bisa tergoda barang mematikan. Berdasarkan penjelasan Humas BNN Kombes Polisi Sumirat Dwiyanto, Raffi Ahmad menggunakan zat terbaru yang kabarnya memiliki efek menguatkan stamina lebih dahsyat dibanding ekstasi.

Godaan narkoba bukan hanya menguatkan stamina, tetapi juga berpengaruh dari sisi gengsi dan popularitas dalam pergaulan. Peniruan gaya hidup sesama artis yang dapat ditiru penggemarnya, menjadi faktor penting untuk diatensi dicarikan solusinya agar tidak meluas sampai kepada akar rumput para fans. Wajar jika ada yang menilai artis merupakan ikon pemasaran narkoba yang cukup efektif.

Jernihkan Rehabilitasi

Jika menyimak berita keberhasilan BNN membongkar penyeludupan narkoba berbagai jenis, mulai ganja, sabu, ekstasi, serta barang terlarang dengan berbagai jenis baru seperti yang ditemukan dalam kasus Raffi Ahmad, bisa dipastikan perang terhadap narkoba akan memakan waktu panjang. Padahal, BNN bertekad agar Indonesia bebas narkoba pada tahun 2015.

Pengendalian mafia narkoba semakin liar dan rumit. Bukan hanya dari luar negeri, malah dari balik penjara pun para bandar yang sudah dijatuhi pidana, tetap masih leluasa mengendalikan bisnis haramnya. Ini merupakan isyarat agar semua pihak tidak lengah atas ancaman narkoba, bukan hanya dibebankan pada BNN dan polisi. Harus ada “perang total” seperti memerangi korupsi dan terorisme.

Tingginya angka peredaran narkoba di kalangan artis, remaja, pelajar, mahasiswa, bahkan pada oknum hakim dan polisi, setidaknya membuat kita semakin prihatin. Butuh keterlibatan banyak pihak untuk mengatasinya, termasuk kalangan artis. Saatnya membangun kesadaran para selebriti untuk memahami peran penting mereka sebagai idola banyak orang. Kata para pakar komunikasi, para idola dan publik figur merupakan media efektif untuk mengampanyekan perang total terhadap narkoba.

Pengembangan pasar di kalangan artis dan generasi muda harus dilumpuhkan.      Para artis menjadi sasaran empuk, selain karena punya modal kuat, juga ditopang oleh realitas tekanan pekerjaan yang secara terus-menerus (striping) dikejar waktu tayang dan siaran langsung. Para artis kita harus sadar dari jebakan para bandar narkoba yang menjadikannya sebagai “ikon pemasaran”.

Jika tidak, penyalahgunaan narkoba akan terus berkejaran dengan korupsi untuk merusak negeri ini. Menurut data BNN (Suara Merdeka,31/1/2013), pada 2012 pengguna narkoba mencapai 3,8 juta jiwa (2,21%) dari jumlah penduduk dengan perputaran uang sebesar Rp 30 triliun. Tahun ini diperkirakan naik menjadi 5,8 juta jiwa (2,8%), dan yang mencemaskan karena sekitar 45% pengguna dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Pada sisi lain, hukum harus lebih diperkuat, sebab menurut Pasal 54 UU Nomor 35/2009 tentang Narkotika, bagi pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Korban penyalahgunaan narkotika, adalah seseorang yang tidak sengaja menggunakan narkotika karena dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa, dan/atau diancam untuk menggunakan narkotika.

Implementasi ketentuan tersebut perlu dijernihkan, bahwa bagi pengguna narkoba yang belum kecanduan atau bukan korban penyalahgunaan, harus tetap dijatuhi hukuman berat dan tidak dimasukkan dalam rehabilitasi. Tentu tidak bermaksud mengkriminalisasi pengguna narkoba yang acapkali disebut hanya “korban”. Sebab realitas menunjukkan, ketentuan itu tidak menurunkan jumlah pengguna narkoba, malah semakin liar tak terkendali.***

Marwan Mas adalah Guru Besar Ilmu Hukum Universitas 45, Makassar


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya