HTTP Status[404] Errno [0]

Awas … Tanggal 26 “Hari Bencana”

10 February 2013 02:13
Awas … Tanggal 26 “Hari Bencana”
Tragedi Tsunami Aceh
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

BugisPos —Tak ada yang memperhatikan sebelumnya, ternyata gelombang bencana yang menimpa tanah air, selalu jatuh pada tanggal 26. Entah itu kebetulan semata atau ada misteri yang tersembunyi dari angka 26 itu. Padahal angka 26 itu sebelumnya tidak pernah begitu dianggap, beda dengan mitos tentang angka 13 yang dianggap sebagai angka sial yang sudah sering didengar sebelumnya.

Beberapa bencana yang terjadi di tanah air tepat jatuh pada tanggal 26 diantaranya :

  1. Tanggal 26 Desember 2004, terjadi gempa yang berkekuatan 9,2 skala richter yang memicu terjadinya Tsunami yang menerpa Nanggro Aceh Darussalam, pulau Nias, sebagian Sumut, hingga kenegara Thailand dan Srilangka. Kurang lebih 173.981 jiwa yang melayang, belum lagi prasarana dan infrastruktur daerah yang luluh lantak diterjang badai Tsunami.
  2. Tanggal 26 Mei 2006, terjadi gempa bumi yang menerjang Jogyakarta dan sekitarnya. Ratusan jiwa melayang, ribuan warga kehilangan tempat tinggal.
  3. Tanggal 26 Juni 2010, terjadi gempa bumi di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat. Gempa yang berkekuatan 6,3 Skala Richter berlangsung pada jam 16.50 Wib.
  4. Tanggal 26 Oktober 2010, terjadi Tsunami di pulau Mentawai dan letusan gunung Merapi di Sleman Yogjakarta. Lebih dari 400 jiwa yang meinggal pada Tsunami di Mentawai dan ini akan terus bertambah seiring dibuatnya tulisan ini. Serta ratusan jiwa yang meninggal dunia termasuk seorang jurnalis dan Kuncen Merapi Mbah Maridjan yang ikut tewas tertimpa awan panas atau Wedus Gembel gunung Merapi yang mencapai panas hingga 600 derajat celcius.

Selain bencana diatas, ternyata masih banyak lagi bencana yang skalanya lebih kecil yang terjadi pada tanggal tersebut. Seperti banjir di Ponorogo yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2007. Ternyata bencana yang terjadi pada tanggal 26 bukan hanya terjadi pada dekade sekarang ini. Berdasarkan data yang dikumpulkan BugisPos, bencana alam pada tanggal 26 juga pernah terjadi di dekade lalu di belahan dunia ini. Berikut data-data bencana alam yang pernah terjadi :

  1. Tanggal 26 Januari 1531, terjadi gempa bumi di Lisbon Portugal. Lebih dari 30.000 jiwa yang menjadi korban.
  2. Tanggal 26 Januari 1700, terjadi gempa tektonik di Samudra Pasifik yang menghentikan sebagian besar pelayaran dunia.
  3. Tanggal 26 Juli 1805, terjadi gempa bumi di Naples, Calabria, Italy. Lebih dari 26 ribu yang tewas.
  4. Tanggal 26 Agustus 1883, meletusnya gunung Krakatau yang memicu Tsunami, yang hingga saat ini merupakan letusan gunung yang paling dahsyat. Untuk saat ini perlu di waspadai status gunung anak Krakatau yang mulai mengeluarkan letusannya hingga 8 kali sehari.

Berdasarkan data-data bencana alam yang pernah terjadi, tak salah kiranya apabila tanggal 26 ini dapat mengusik beberapa praktisi paranormal untuk meneliti makna yang tersembunyi dari tanggal 26 ini. Karena segala yang ada di bumi ini baik itu detik, menit, angka ataupun tanggal pasti memiliki makna tersendiri. Contohnya : Tuhan dalam kitab sucinya menyampaikan bahwa alam semesta beserta isinya diciptakan dalam tempo 6 hari. Ini membuktikan bahwa hari-hari dalam seminggu memiliki makna yang tersirat yang wajib kita “baca”. Karena Tuhan sendiri memberitahukan kita bahwa segala yang Dia ciptakan di bumi ini merupakan tanda-tanda kekuasaanya, baik itu hari atau tanggal sekalipun.

Berhubungan dengan tanggal 26 ini, beberapa pendapat yang berusaha mengurai makna yang tersimpan dibalik tanggal tersebut, mengungkapkan bahwa: Pada kitab suci Alquran surah ke 26 (Asy Syu’araa’: Para Penyair) memberitakan tentang musibah atau bencana yang pernah ditimpakan umat-umat terdahulu. Diantaranya kisah nabi Musa As, nabi Ibrahim As, nabi Nuh As dan kaumnya yang ditenggelamkam, kisah nabi Hud As dan kaumnya, kisah nabi Shaleh As dan kaumnya, kisah nabi Luth As dan kaumnya, serta kisah nabi Syuaib dan kaumnya. Semua kisah nabi-nabi tersebut diberitakan pada surah ke-26 yang memberitakan terjadinya bencana alam akibat kedurhakaan serta kemaksiatan mereka. Mereka ditimpakan bencana oleh Tuhan karena tak mengindahkan peringatan yang disampaikan oleh para nabi.

Ada pula yang menghubungkan tanggal 26 dengan surah ke 2 (Al Baqarah) ayat ke 6 yang bunyinya : Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Mereka berpendapat bahwa musibah yang ditimpakan yang terjadi pada tanggal tersebut merupakan akibat tak mengindahkan peringatan Tuhan, walaupun telah diberi peringatan, maka tersurat pada surah ke 2 ayat ke 6.

Apabila tanggal 26 dihubungkan dengan juz 26, pada awal surah dan akhir surah pada juz tersebut yakni surah Al Ahqaaf, Qaaf dan awal surah Adz Dzaarriyaat, pada surah tersebut memuat berita bencana yang ditimpakan kepada kaum Tsamud, Aad dan penduduk Aikah serta kaum Tubba.

Walaupun keterangan-keterangan tersebut seakan-akan dicari-cari hubungannya, perlulah kiranya kita merespon dengan positif segala pendapat mengenai tanggal 26 tersebut. Karena semuanya bertujuan untuk memberi peringatan kepada kita, agar senantiasa menjauhi segala perbuatan-perbuatan yang mengundang terjadinya bencana alam. Karena awal terjadinya bencana kepada manusia disebabkan oleh telah tertutupnya telinga serta mata hati manusia akan peringatan-peringatan Tuhan.

Apabila menilik tanggal 26 yang menggunakan tarikh masehi atau Syamsiah yaitu penanggalan yang diatur dari perputaran bumi mengelilingi matahari, berbeda yang dipakai oleh kaum Muslim yang menggunakan tarikh Hijriah atau Qamariah yang memakai sistim peredaran bulan mengelilingi bumi. Sehingga terjadi perbedaan 9 hari setiap tahunnya bagi tarikh hijriah. Jadi perlu kiranya kita mengetahui misteri tanggal 26 dari versi berbeda, untuk memperkaya wawasan dalam hal menguak makna tanggal 26 dengan hubungannya dengan terjadinya bencana. Bencana tanggal 26 Oktober 2010 bertepatan dengan tanggal 18 Dzulqaidah 1431 H, demikian pula bencana gempa Tasikmalaya tanggal 26 Juni bertepatan dengan tanggal 13 Rajab, demikian pula terjadi gempa dan letusan gunung api di beberapa waktu yang lalu, selalu bertepatan dengan waktu bulan muda atau bulan purnama. Bukan hanya bencana yang terjadi pada tanggal 26, akan tetapi dengan tanggal yang lainpun pada tarikh masehi, selalu bertepatan dengan bulan muda pada tarikh Hijriah. Apa hubungannya bulan muda dengan terjadinya gempa ataupun letusan gunung api ?. Para ahli berpendapat bahwa gaya gravitasi bumi terhadap bulan turut mempengaruhi magma yang ada diperut bumi untuk bergejolak, tetapi ini baru kesimpulan sementara para ahli, perlu penelitian yang mendalam dalam masalah ini. Ketika MITOS membuka kitab suci Al-Quran untuk mengcari hubungan ini, yaitu Surah ke 54 Al-Qamar (bulan). Surah yang dinamai Al-Qamar atau bulan ini, memberitakan dengan lebih jelas, kaum-kaum yang terdahulu yang diberi bencana oleh Tuhan. Disini diberitakan bagaimana kaum Add diterbangkan oleh angin hingga 7 hari berturut-turut, demikian pula kaum Luth yang ditimbun oleh tanah dan batu oleh Tuhan akibat perbuatan-perbuatan maksiat mereka. Apabila kita menarik garis lurus antara penemuan para ahli dengan Surah yang bertajuk Bulan ini, sepertinya tuhan sudah menyiratkan kepada kita bahwa alam akan bergolak dengan keadaan bulan yang akan memicu bergejolaknya magma di perut bumi.

Di masa yang akan datang para ilmuwan kita, akan dapat membuktikan hubungan ini dengan lebih ilmiah, sehingga tak ada lagi prasangka bahwa ini sesuatu yang dihubung-hubungkan. Padahal Tuhan di dalam kitab sucinya, telah memberi tanda tersirat tentang tanda-tanda alam. Sebagaimana Tuhan juga menyebut lebah, semut maupun laba-laba, itu semua merupakan tanda-tanda tersirat yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk dapat mempelajarinya. Karena kejadian yang menimpa manusia dimasa lalu akan berputar kembali dimasa sekarang, seperti berputarnya bumi. Contohnya: dimasa lampau ada kaum Luth yang menyukai sesama jenis, sekarang bukan hal tabu lagi dimata kita kaum Homo dan Lesbian yang lebih mendapat tempat dimasyarakat kita. Demikian pula kaum Add yang memiliki bangunan yang tinggi-tinggi dan menjadi sombong dengan itu, sekarang diberbagai belahan dunia membangun bangunan pencakar langit sebagai symbol keunggulan negaranya. Apakah hal itu masih bisa disanggah ?

Pendapat lain yang dihimpun BugisPos mengenai tanggal 26 ini adalah, pendapat ini mengatakan bahwa karena penanggalan ini menggunakan penanggalan masehi yang pakai oleh sebagian besar penduduk dunia, perlu kiranya kita menghubungkan dengan abjad atau aksara latin yang dipakai oleh sebagian besar bangsa-bangsa di dunia. Aksara tersebut berjumlah 26, dimulai dari A sampai dengan Z. Awal ditemukannya bentuk-bentuk aksara serta jumlah aksara merupakan simbolis dari suatu kejadian dimasa itu. Jadi penemu aksara latin yang berjumlah 26 itu, bukan kebetulan semata jumlahnya 26, akan tetapi merupakan perlambang dari suatu kejadian-kejadian dimasa itu.

Adapula yang menghubungkan kejadian-kejadian di negeri ini dengan kepemimpinan di negeri ini, mengacu kepada pesan-pesan yang ditinggalkan para leluhur kita yang tertulis di Lontara, diantaranya adalah pesan yang disampaikan oleh Mangkubumi kerajaan Gowa, Karaeng Pattingaloang. Salah satu pesannya adalah: Negeri akan rusak binasa apabila para hakim dan pejabat makan sogok, serta para pemimpin sudah tidak menyayangi rakyatnya. Pesan lain yang disampaikan oleh raja Bone, La Patau Petta Matanna Tikka Matinro’e ri Nagauleng. Pesannya adalah: Ciri-ciri pemimpin yang tidak baik adalah banyaknya terjadi bencana alam di suatu negeri. Pesan-pesan tersebut disampaikan beberapa abad yang lampau, akan tetapi apabila kita menilik keadaan zaman sekarang, pesan-pesan tersebut masih sangat relevan dengan keadaan zaman sekarang. Dimana kita saksikan sendiri, salah satu Gubernur yang daerahnya tertimpa bencana, malah berangkat keluar negeri dengan alasan promosi budaya. Malah anggota Dewan yang dikatakan terhormat, malah berlomba-lomba studi banding keluar negeri dengan berbagai alasan yang membuat rakyat yang diwakilinya menjadi sesak nafas, sesak bukan akibat terkena penyakit asma akan tetapi karena menahan rasa geram di hati. Apabila keadaan ini terus berlangsung, maka tak perlu kita mewaspadai tanggal 26, 27, ataupun tanggal lainnya. Karena musibah akan terus berdatangan menimpa negeri kita, tak tahu kapan datangnya, yang jelas bencana datang apabila kita lengah atau lupa melihat gejala-gejala alam yang merupakan perpanjangan tangan dari peringatan-peringatan yang diberikan tuhan.

Ada pula yang mengungkapkan bahwa terjadinya bencana alam tanggal 26, dimulai dengan Tsunami di Mentawai hingga letusan Merapi, menghubungkan dengan kepemimpinan negeri ini, hanya akan berlangsung 26 bulan saja, atau Cuma 2 tahun 4 bulan seperti banyak diprediksikan oleh paranormal diberbagai media. Ini terhitung untuk periode kedua masa bakti kepemimpinannya. Alasannya adalah sejak pemerintahan ini menjabat, bencana yang menimpa negeri ini sebagian besar terjadi pada tanggal 26. Jadi banyak yang menyimpulkan bahwa ada misteri pada angka 26 dengan pemerintahan sekarang ini.

Sering kita mendengar, ceramah maupun dakwah yang disampaikan oleh para da’i, baik itu di mesjid maupun di layar kaca, bahwa kejadian atau bencana yang menimpa suatu negeri diakibatkan oleh banyaknya perbuatan maksiat yang dilakukan ditempat tersebut. Sehingga Tuhan memberikan peringatan berupa alam yang bergejolak agar manusia ditempat itu menjadi sadar akan dosa-dosanya. Akan tetapi ada pertanyaan yang menggelayut dipikiran para pembaca bahkan dipikiran semua orang, yaitu : Mengapa bencana hanya menimpa daerah-daerah yang kecil saja ? Mengapa tidak menimpa kota besar seperti Jakarta, yang lebih banyak perbuatan maksiatnya ? Apakah Tuhan tidak adil ?.

Ada pandangan yang disampaikan oleh seseorang yang tak mau disebutkan namanya mengenai pertanyaan tadi, ketika bertemu BugisPos beberapa waktu yang lalu. Dia menyebutkan bahwa daerah yang tertimpa bencana disebabkan perbuatan maksiat, Tuhan melihat berapa persentase dari jumlah orang yang berbuat maksiat dengan orang yang tidak, serta berapa persentase orang yang memberi peringatan. Kemungkinan daerah yang tertimpa bencana akibat perbuatan maksiat, persentase yang berbuat maksiat lebih banyak dari pada yang tidak, itulah sebagian besar daerah bencana, juga merupakan daerah tujuan wisata. Yang mana jumlah wisatawan yang datang, lebih banyak dari pada jumlah penduduk ditempat itu. Seperti yang sering kita lihat, para muda-mudi yang lagi kasmaran sering mencari penginapan diluar kota untuk bertemu. Bukan itu saja, perselingkuhan dan transaksi seks juga banyak dilakukan ditempat wisata, baik itu wisata pantai maupun wisata gunung yang berhawa sejuk. Mereka meninggalkan kota besar menuju daerah yang menjadi tujuan wisata, memang telah berniat untuk berbuat maksiat. Hal ini bak gayung bersambut, karena masyarakat disana yang menyediakan sarana dengan senang hati menyambut mereka. Mereka mendapatkan pundi-pundi uang untuk tarif sewa penginapan.

Mereka tak mau peduli lagi, apa yang dilakukan oleh si penyewa, yang terpenting bagi mereka rupiah bisa masuk kekantong mereka. Berbeda dengan Jakarta yang merupakan kota Metropolitan, walaupun banyak terjadi perbuatan maksiat di sana, akan tetapi persentase yang tak berbuat masih lebih banyak. Bahkan persentase yang member peringatan juga masih relative banyak. Sehingga Tuhan tidak menyegerakan bencana kepada kota itu. Kita dapat menoleh kezaman para nabi-nabi, contohnya nabi Luth as, setelah dia memberi peringatan kepada umatnya dan umatnya tak mengindahkan peringatan itu, maka Tuhan memerintahkan nabi Luth untuk keluar dari negerinya, kemudian Tuhan menghancurkan negeri kaum nabi Luth dengan gempa dan tanah longsor, sehingga negeri kaum Luth dibalikkan oleh Tuhan. Buktinya masih dapat kita lihat dengan adanya laut mati yang diceritakan merupakan negeri kaum Luth dimasa lalu. Tuhan tidak akan membinasakan manusia, apabila masih ada manusia yang memberi peringatan. Maka untuk menghindarkan negeri kita dari bencana, janganlah pemerintah menjadi alergi akan peringatan-peringatan ataupun kritik yang disampaikan oleh rakyatnya. Suara rakyat kecil yang seharusnya lebih didengarkan, bukan suara dari para pendamping yang hanya menyampaikan lagu-lagu pemanis bibir dan penyejuk telinga saja (awing)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya