HTTP Status[404] Errno [0]

Dari HPN Manado ; Dari Bariongsai Sampai Merajut Kejayaan Indonesia Bersama Presiden

15 February 2013 02:56
Dari HPN Manado ; Dari Bariongsai Sampai Merajut Kejayaan Indonesia Bersama Presiden
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh : Andi Pasamangi Wawo
UntitledBandara Sam Ratulangi Manado, awal sampai medio februari 2013 ini ke”banjir”an wartawan dari berbagai pelosok Indonesia. Rombongan Sulsel saja lebih 100 orang terdiri dari PWI Perwakilan, Maros, Pare Pare, Sidrap, Soppeng dan Ibu ibu Ikatan Keluarga Wartawan (IKWI). Belum lagi sejumlah wartawan Asean yang juga datang sebagai Peninjau dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2013
Menurut Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) DR.Sinyo H Sarundajang,kedatangan para wartawan sangat membantu rencana Pemerintah Provinsi membuka tiga penerbangan langsung ke luar negeri tahun ini. Yakni, Kuala Lumpur , Filipina dan Taiwan. Saat ini, katanya, penerbangan dari Manado ke Singapura sudah kontinu yang dilakukan Maskapai Silk Air. Terbukanya jalur penerbangan ke luar negeri akan semakin memantapkan cita-cita Sulut sebagai “pintu” gerbang Indonesia di kawasan Asia Pasifik. Gubernur berharap adanya route dari dan ke luar negeri yang lebih banyak akan mendorong tumbuhnya pariwisata yang berimbas pada peningkatan perekonomian daerah.
Wakil Walikota Manado Harley Mangindaan, justru mengajak masyarakatnya memanfaatkan HPN 2013 untuk mempromosikan keunikan daerahnya kepada pekerja pers. Menurutnya, kedatangan wartawan pasti akan menulis berbagai hal tentang kota Manado. ”Itu bisa menjadi bahan promosi,”katanya. Yang paling penting , harapnya, kondisi Manado yang aman dan nyaman bisa “dijual” ke seluruh peserta HPN agar bisa memberi pendapatan bagi warga kota melalui kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara.
Kota Manado berkembang memang sangat pesat. Ketika HPN 1995 saya memimpin rombongan wartawan dari Sulsel, Sultra dan Sulteng melalui jalan darat, yang dihadiri Presiden Suharto. Saat itu Manado masih sementara reklamasi pantai di kawasan Boulevard. Kini sudah berdiri kawasan Megamas dengan berbagai fasilitas seperti Manado Town Square (Mantos) tempat Pameran HPN berlangsung, termasuk pembangunan Youth Center sepanjang 57 m dengan lebar 24 m menggunakan dana APBN Rp.9,176 miliar.
Saya dan Selly Lestari wartawati yang juga pengurus PWI Sulsel, sempat mengunjungi pembangunan pusat olahraga dan seni yang diharapkan sebagai tempat menyalurkan minat, bakat atau energi positif bagi anak muda.Gedung ini tercatat pertama di Manado bahkan di Indonesia Timur.Karena bertepatan Imlek , informasi tak banyak diperoleh.Rencana bertamu ke”pemilik”megamall Benny Tungka pegusaha sukses yang juga dikenal di Sulsel ini,tak jadi karena lagi Imlek di Singapura,kata seorang tetangganya di sekitar restoran Ratu Muda tempat rombongan PWI dan IKWI Sulsel makan siang usai “berlayar” wisata di Bunaken.
Meningkat Ekonomi dan Pariwisata
Pertumbuhan ekonomi yang tak lepas dari peran perbankan di Sulut 2012 mencapai 7,86 persen.Usaha Mikro Kecil dan Menengah(UMKM)sebagai motor penggerak perekonomian daerah telah memperlihatkan kontribusinya .Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia(BI) Sulut,Suhaedi mengurai,akhir 2012 BI mencatat total kredit yang disalurkan Rp.19,42 triliun,meningkat 22,19 persen dari 2011.Menurutnya,perkembangan pesat UMKM diperlukan sinergi antar berbagai pihak,baik pemerintah,perbankan maupun tokoh masyarakat melalui program Kredit Usaha Rakyat(KUR) untuk membantu menggerakkan UMKM yang belum pernah mendapat fasilitas pembiayaan dari perbankan. Desember 2012,KUR mencapai Rp.1,02 triliun dengan debitur 73.712 orang. Kunjungan wisatawan mancanegara menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, Dantes Simbolon mengalami peningkatan. Desember 2012,tercatat 1.611 orang ,naik dari bulan November 2012 hanya 1.364 orang.Menurutnya, wisatawan Singapura mendominasi menyusul Jepang dan Amerika.
Dihibur Barongsai
Penundaan HPN dari tangal 9 ke 11 Februari 2013 ternyata jadi “hadiah” bagi para tamu wartawan karena sempat menyaksikan suasana imlek 2564 di Manado.Perayaan yang berpusat di Klenteng tertua di Sulut ”Ban Hin Kiong” berlangsung meriah.Sebelum 12.00 Wita,Sabtu (9/2) kawasan klenteng sudah dipadati warga.Berbagai pertunjukan khas negeri Cina seperti Barongsai menjadi daya tarik tersendiri masyarakat.Nuansa merah dan kembang api mewarnai acara itu.Sementara di lobi Swis Belhotel Maleosan Manado juga menghibur tamu peserta HPN.Para wartawan yang menginap di hotel itu tanpa komando langsung mengabadikan momen tersebut .Ketua PWI Sulsel H.Zulkifli Gani Ottoh,SH juga membuat kejutan ketika menjamu makan siang di “Ratu Muda”(sehari sebelumnya,rombongan dijamu dikediaman Ketua PWI Sulsel di Airmadidi Minahasa).Entah dari mana,tiba tiba muncul Barongsai.Tak ayal ibu ibu IKWI langsung beraksi dengan ponsel dan masing masing mengabadikan sang “macan” Kuning dan Merah beraksi dengan musik tambur yang menghentak hentak.
Siber Harus Ikut Aturan
Padatnya acara dalam rangka HPN yang dibuka sejak 6 Februari, membuat peserta hampir tak ada waktu “pasiar”. Esoknya 7/2/13, lanjut dengan Rapat Kerja Nasional (Rakernas), Kemudian (8/2) Konvensi media massa. Selain media cetak dan media elektronik jadi topik pembicaraan para peserta,Siber (media Online) juga jadi perhatian ketika diskusi dalam rangka sosialisasi aturan Dewan Pers, di hotel tempat saya menginap, Novotel, tepatnya di Novotel Manado Golf Resort and Convention Center, Kairagi. Bagi Sulsel,Dewan Kehormatan Daerah (DKD) PWI memang “mengagendakan” hal ini setelah ada salah satu media online yang dinilai tidak melakukan ricek kepada salah seorang pejabat yang dinilai berpihak dalam Pilgub. Ketika pengurus PWI Sulsel rapat, ada pendapat bahwa media tersebut sudah melakukan ricek karena langsung mendapat tanggapan beberapa menit setelah berita itu disebarkan. Ada yang bilang pekerja media online bukan wartawan. Ada juga berpendapat apapun yang dilakukan oleh seorang yang melakukan pekerjaan wartawan harus taat pada Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Kesimpulannya, rapat memutuskan media online tersebut lalai karena tidak melakukan konfirmasi pada kesempatan pertama.
Agus Sudibyo dari Dewan Pers ditemani Direktur Eksekutif LPDS Pryambdo RH selaku pembicara persoalan pemberitan di media Siber, menanggapi pertanyaan tentang komplain seseorang karena media online memuat sebuah profil dari kiriman email karena belum pada waktunya. Ia bertanya, peraturan apa yang dipakai untuk menjeratnya karena berita itu sebenarnya baik. Agus mengatakan, pada prinsipnya apapun beritanya jika dianggap bisa membuat orang lain bisa menuntut, harus melalui tahap konfirmasi terlebih dahulu.”Dalam filsafat komunikasi ada dua hal harus diperhatikan yakni respect dan dignity. Jangan sampai berita itu merugikan orang lain,” jelasnya.
Ketika terjadi masalah berita, pihak pertama yang diminta keterangan ialah perusahaan persnya, kemudian semuanya harus dilaporkan ke Dewan Pers terlebih dahulu. Jika masalah berlanjut, polisi harus mendengar saksi ahli dari Dewan Pers.”Itu merupakan kesepakatan Dewan Pers dan Polri, “ kata Agus sambil menambahkan, ketika dipanggil oleh polisi juga harus datang.
Media Cetak Tetap Eksis
Di tengah gempuran sosial media dan situs media,Direktur Eksekutif Serikat Perusahaan Suratkabar (SPS)Pusat,Asmono Wikan meyakini media cetak tetap akan eksis bila ditopang bisnis yang baik .Harus memiliki model untuk mengembangkan diri agar tidak mati.”Seorang Pemimpin Redaksi harus miliki kreatifitas dan aktifitas khususnya di komunitas pembacanya”.Ujarnya di Tribun Manado(10/2).Menurutnya,ada change.Ada revolusi baru dibalik media cetak.Sekarang print memiliki arti lebih luas dan itu bukan hanya berbicara tentang web atau digital itu sendiri.Media sekarang ditutuntut “memotret”kebutuhan kebutuhan yang ada dimasyarakat kemudian memberitakan dan menyediakan aktfitas bagi kelompok masyarakat sesuai kebutuhannya.Syarat utama media menurut Asmono,adalah memiliki “trust”.Pemasang iklan sekarang tidak puas dengan bentuk display saja.Mereka butuh eksposure.”Brand harus miliki nilai,”kuncinya.
“Bersama Presiden Merajut .. ”
Puncak acara Hari Pers Nasional yang berlangsung Senin siang (11/2) di Grand Kawanua Convention Center Novotel Manado, dihadiri Presiden bersama Ibu Negara Hj.Ani Yudhoyono didampingi sejumlah Menteri ,Panglima TNI dan Kapolri serta sejumlah pejabat dan anggota DPR RI.Menurut Ketua PWI Pusat inilah HPN yang terpadat dan terbanyak pesertanya.Acara bertema”HPN 2013 Bersama Presiden Republik Indonesia Merajut Kejayaan Indonesia”ini, ditandai penandatanganan prasasti Monumen Museum Mendur bersaudara,peresmian Auditorium Universitas Negeri Manado,Peresmian Gedung sekertariat Coral Triangel Initiative dan Penanaman pohon penghijauan oleh Presiden SBY dilanjutkan peninjauan pameran Foto,Pers dan potensi daerah di Mantos.Sebelumnnya penyerahan Anugerah Juralistik Adi Negoro,Medali emas Spirit Jurnalistik,Medali emas Persaudaraan Pers,Press Card Number One,HPN Award dan penandatananan sejumlah MOU oleh Ketua PWI Pusat termasuk MOU Ketua Dewan Pers Prof Bagir Manan bersama Jaksa Agung RI.
Menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ditengah amanatnya, Pers sudah dibekali Undang Undang,dalam melaksanakan profesinya juga sudah ada Kode Etik Jurnalistik,”Jadi saya tidak perlu memberi nasehat,”tutur Presiden dengan senyum khas kepada wartawan. ”Dirgahayu Hari Pers,”ucapnya ketika memberi selamat kepada pekerja Pers.
HPN 2013 yang bertema sentral “Pers Bermutu Bangsa Maju” mendapat sambutan hangat berbagai kalangan.Hal ini tecermin dari pemberitaan media massa baik cetak maupun elektronik lokal termasuk pemasangan Baliho dan spanduk di jalan jalan protokol kota Manado.Kunjungan Presiden dalam rangka HPN kali ini juga disyukuri masyarakat karena Menteri Sosial Al Jufri juga memberi bantuan dan kunjungan langsung ke beberapa kabupaten dan kepulauan bahkan menginap dirumah warga.Selain itu,Ibu Negara Hj Ani Yudhoyono sempat membuka Pertemuan Pemimpin Perempuan se Indonesia yang berlangsung 11-13 Februari di Manado dihadiri ratusan peserta.
2014, Kalteng atau Kepri
Ditengah pelaksanaan HPN Manado,ternyata Ketua PWI Kalimantan Tengah (Kalteng) ber”gerilya”mencari dukungan beberapa PWI Cabang untuk jadi tuan rumah HPN 2014.Seperti tulisan saya pada bagian lain media ini bahwa sejumlah Gubernur berlomba ingin menjadi tuan rumah,PWI Cabang Kepulauan Riau (Kepri) juga tak kalah gesitnya mengeluarkan “jurus” agar HPN 2014 diperingati di Batam.Namun hingga HPN ditutup,belum ada kejelasan .Muncul analisa teman teman pengurus cabang dalam bincang bincangnya dengan saya,bahwa sangat kecil pelaksanaan HPN 2014 di Palangkaraya Kalteng,karena September 2013 mendatang akan berlangsung Kongres PWI dirangkaikan Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) di Banjarmasin Kalimantan Selatan.”Tidak adil kalau di Kalimantan lagi,sebaiknya di Sumatera,”simpul mereka. Artinya,mungkin di Batam kita bertemu lagi.Selamat tinggal kota Nyiur melambai, selamat tinggal Bunaken,selamat tinggal Boulevard yang kasi pakita “Kasegaran” kuliner sambil manyanyi dan badansa. Kita pigi jo E. Barenti jo ngana bagate ***


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya