HTTP Status[404] Errno [0]

Sunat Tengah Populer di Negara Barat

18 February 2013 03:13
Sunat Tengah Populer di Negara Barat
Ilustrasi
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

BugisPos — Karena manfaat kesehatannya yang tinggi, kini prosedur khitan alias sunat dikabarkan tengah populer di masyarakat Barat. Diperkirakan separuh bayi laki-laki di AS pun telah menjalani prosedur ini pasca persalinan. Namun sebuah studi dari Belgia menyatakan khitan mengurangi sensitivitas penis pada pria yang melakukannya.
Menurut peneliti, pria yang telah dikhitan sejak kecil atau ketika beranjak dewasa dilaporkan kurang dapat merasakan kenikmatan seksual dan orgasme.

“Namun kami tak tidak mengatakan adanya penurunan aktivitas seksual maupun kepuasannya, hanya sensitivitas penisnya saja yang berkurang,” kata peneliti Dr. Piet Hoebeke dari Ghent University Hospital, Belgia seperti dikutip detok.com dari nydailynews, Minggu 17/2/2013.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal BJU International ini didasarkan pada pengamatan terhadap 1.369 pria berusia di atas 18 tahun yang diminta mengisi leaflet berisi kuesioner yang dibagikan di berbagai stasiun di penjuru Belgia.

Kuesioner tersebut berisi sejumlah pertanyaan seperti apakah partisipan melakukan khitan atau tidak, seberapa sensitif penis partisipan, seberapa intens orgasme yang dimiliki partisipan ketika berhubungan seksual dan apakah partisipan pernah mengalami nyeri atau mati rasa saat terangsang.

Tingkat sensitivitas penis partisipan pun dinilai menggunakan skala 0-5 dengan angka tertinggi menunjukkan tingkat sensitivitas penis paling tinggi.

Dari situ diketahui bahwa 310 responden dikhitan dan 1.059 responden lainnya tidak melakukan prosedur tersebut. Tapi pria yang tidak disunat dilaporkan memiliki tingkat sensitivitas penis dan kenikmatan seksual antara 0,2 hingga 0,4 lebih tinggi ketika kepala penisnya (glans) dibelai, dibandingkan dengan pria yang disunat. Selain itu, pria yang tidak disunat dilaporkan memiliki orgasme yang lebih intens.

Pria yang dikhitan juga dilaporkan lebih sering mengalami nyeri dan mati rasa saat terangsang dibandingkan pria yang tidak dikhitan. Hoebeke menduga hal ini disebabkan oleh adanya jaringan luka akibat prosedur khitan.

Menurut Hoebeke dan rekan-rekannya, perbedaan sensitivitas ini terjadi karena bagian kulit yang diambil (foreskin) saat khitan itu sebenarnya melindungi kepala penis ketika bergesekan dengan celana dalam dan pakaian. Jadi karena bagian kulit tersebut dihilangkan maka kepala penis pria yang dikhitan menjadi lebih tebal, lebih kering sekaligus menjadi kurang sensitif.

Kendati begitu pakar lain, Dr. Aaron Tobian dari Hopkins University, Baltimore, AS justru melihat manfaatb besar dari khitan.

“Temuan ini tampaknya mengabaikan berbagai bukti medis yang menyatakan besarnya manfaat kesehatan prosedur ini. Di luar sana tak ada vaksin yang bisa mengurangi risiko HIV hingga 60 persen, herpes 30 persen dan kanker penis yang menyebabkan HPV sebesar 35 persen seperti halnya khitan,” tutup Tobian (una)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya