HTTP Status[404] Errno [0]

Koteka Buah Labu Khas Yali “Terancam Punah”

11 March 2013 01:05
Koteka Buah Labu Khas Yali “Terancam Punah”
llustrasi
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

BugisPos — Koteka khas kaum pria suku Yali di Kabupaten Yalimo, Papua “terancam punah” seiring makin banyaknya anggota suku yang menggunakan pakaian modern.
“Pakaian tradisional suku Yali mulai ditinggalkan dan hanya generasi tua yang menggunakan. Generasi mudanya lebih suka menggunakan pakaian modern yang berbahan kain,” kata staf peneliti Balai Arkeologi Jayapura, Hari Suroto, Minggu 10/3/13

Dia menjelaskan pakaian tradisional suku Yali itu adalah koteka yang dipadukan dengan lingkaran-lingkaran rotan kemudian dililitkan ke bagian tubuh.

Koteka itu terbuat dari buah labu panjang yang isinya dikosongkan lantas dijemur di atas perapian.

Setelah kering, lanjut Hari, dipasang di atas kemaluan (testis) pria dan diikat dengan tali rotan halus yang dililitkan di bagian pinggang hingga perut.

Ia menjelaskan latar belakang pria Yali yang mengenakan lingkaran-lingkaran rotan di bagian perut atau badan, yakni sebagai tanda tingkat keberanian seorang pria suku tersebut.

“Jadi, semakin banyak lingkaran yang dimilikinya, berarti semakin tinggi pula tingkat keberanian dan status yang dimilikinya itu,” katanya.

Karena, menurut Hari, rotan hanya tumbuh di luar daerah Yali atau orang setempat biasa mengatakan bahwa rotan tumbuh hanya di daerah musuh dan hanya dapat diperoleh dengan menempuh risiko.

Menurut Hari, lingkaran rotan dan koteka yang digunakan bukan hanya sebagai pakaian dan perhiasan, melainkan juga punya kegunaan lain, seperti membuat api.

“Rata-rata pria Yali membuat api dengan menggunakan sebuah tali rotan sebagai korek api,” katanya.

Ia menjelaskan anggota suku Yali membuat api dengan cara mengambil sepotong rotan dari pakaian mereka, kira-kira rotan yang diambil sekitar 60 sentimeter.

Rotan itu dililitkan di sepotong kayu yang diletakkan di atas tanah yang dikelilingi dengan rumput dan dahan-dahan kering.

Kemudian, kedua kaki menginjak masing-masing ujung kayu. Selanjutnya, tangan mereka menarik tali rotan itu dengan cepat ke turun-naik atau digesek-gesekkan sampai kayu panas keluarkan asap dan mulai menyala dengan api dan ujung tali putus terbakar.

“Setelah itu, mereka menutupi kayu tersebut dengan rumput dan meniup sampai terjadi kobaran api yang besar,” katanya.

“Pakaian tradisional suku Yali hingga saat ini belum terdokumentasi dengan baik. Museum di Papua maupun di Jakarta belum ada yang mengoleksi pakaian itu,” katanya.

Hari memandang perlu penelitian yang lebih mendalam, pendokumentasian yang lengkap, baik itu dalam bentuk video, foto, mapun buku, sebelum pakaian tradisional itu punah.

Selain itu, lanjut dia, perlu pelestarian pakaian tradisional suku Yali, yaitu dengan cara menggunakannya dalam festival budaya maupun pada hari-hari besar nasional (una)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya