HTTP Status[404] Errno [0]

Memilih Pengganti Anas Urbaningrum

16 March 2013 03:37
Memilih Pengganti Anas Urbaningrum
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh Marwan Mas

UntitledHanya dengan Kongres Luar Biasa (KLB) yang bisa mengganti posisi Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Itu tertuang dalam Anggaran Dasar partai sehingga Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak akan menerima daftar calon legislatif sementara Partai Demokrat jika tidak ditandatangani oleh Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal partai sesuai anggaran dasarnya.

Ketua Majelis Tinggi sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya harus tunduk pada ketentuan UU Pemilu. Meski sebelumnya ada upaya untuk menunjuk pelaksana tugas, tetapi akhirnya KLB harus dilakukan pada akhir Maret. Diperkirakan SBY akan menyiapkan calon ketua umum yang minim konflik dan tetap berasal dari kader intern partai.

Sejumlah nama calon yang beredar antara lain Marzuki Alie dan Saan Mustopa, sedangkan dari eksternal mencuat nama Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, dan Menko Polhukam Djoko Suyanto. Semuanya memang memiliki peluang, tetapi selain bergantung pada pemilik suara (Ketua DPD dan DPC), juga amat bergantung pada keinginan SBY.

Setidaknya ada dua pertimbangan mendasar. Pertama, KLB dilakukan lantaran Anas mengundurkan diri akibat ditetapkan tersangka oleh KPK. Ada kesan kuat SBY dan pendiri Partai Demokrat yang lain, tidak ingin kader yang menjadi ketua umum berasal dari loyalis Anas.

Kedua, untuk meminimalkan potensi konflik antara kubu SBY dengan kubu Anas, maka akan dipilih –boleh jadi secara aklamasi- kader yang bisa fokus memulihkan partai dan diterima banyak kelompok. Nama yang minim konflik dan tidak terlibat secara utuh dalam rivalitas negatif yang berkembang selama ini. Terlebih karena Partai Demokrat diburu waktu sampai tanggal 9 April, di mana KPU sudah mengumumkan daftar calon anggota legislatif sementara (DCS).

Banyak pengamat yang mengingatkan bahwa pengaruh Anas masih besar di internal Partai Demokrat, terutama di tingkat DPD-DPC. Tetapi diperkirakan pertarungan KLB hanya sengit pada tingkat pertarungan kader versus nonkader. Jika hanya pertarungan antarkader, maka yang bisa jadi seru jika Marzuki atau Saan yang terus menguat, lantaran dua nama itu tidak sepenuhnya berada dalam genggaman Ketua Majelis Tinggi.

Karena itu, jika Partai Demokrat di tengah rendahnya elektabilitas dan himpitan waktu pengusulan DCS tetap ingin eksis, harus memilih ketua umum baru tanpa menyisakan bibit perpecahan di kemudian hari. Sebab tantangan ke depan begitu berat, termasuk jika perpecahan internal tidak mampu diredam di KLB. Untuk mendongkrak elektabilitas dan dukungan rakyat tidak cukup hanya dengan memilih ketua umum baru, tetapi bagaimana memulihkan kepercayaan konstituen yang menurut hasil survei banyak yang hengkang.

KLB tidak boleh sengit seperti saat kongres di Bandung yang diduga marak politik uang. Jika itu terjadi, dapat dipastikan Partai Demokrat tetap saja berada dalam pusaran kemelut. Untuk menarik kembali dukungan masyarakat dan mendongkrak elektabilitas, ketua umum baru harus melakukan pembenahan secara total, termasuk dampak dari kesalahan kader partai yang terjerat kasus korupsi.***


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya