HTTP Status[404] Errno [0]

Raden Arya Wiralodra, Pendiri Kota Indramayu

16 March 2013 03:33
Raden Arya Wiralodra, Pendiri Kota Indramayu
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

UntitledBugisPos — Indramayu terkenal di seluruh Indonesia dan dunia sebagai kota mangga. Buah mangga yang menjadi ikon Indramayu adalah Harum Manis, Cengkir dan Gedong. Nah bagi anda yang pernah ke Indramayu mungkin anda pasti pernah mendengar nama Raden Arya Wiralodra. Wiralodra sekarang digunakan sebagai nama Universitas ternama di Indramayu. Tapi siapa sebenarnya Raden Arya Wiralodra itu, bagaimana ceritanya dan dimana makamnya, penulis akan membahasnya disini yang diambil dari berbagai sumber.

Cerita mengenai Arya Wiralodra, menurut Babad Dermayu, berkaitan erat dengan pendirian kota Indramayu. Raden Arya Wiralodra merupakan putra ketiga Tumenggung Gagak Singalodra dari daerah Banyuurip, Bagelen, Jawa Tengah. Kedatangan Wiralodra ke Indramayu, ketika itu belum jadi kota, disertai Ki Tinggil seoranga Panakawannya. Wiralodra ketika datang di tepi sungai Cimanuk memilih lokasi untuk membuka hutan di sebelah barat sungai. Daerah tersebut akhirnya berkembang menjadi perkampungan. Nantinya Wiralodra kembali ke Bagelen, tetapi Ki Tinggil tetap tinggal di Cimanuk. Sepeninggal Wiralodra kemudian datang Endang Darma untuk bermukim di kampung tersebut. Di samping bercocok tanam Endang Darma mengajarkan ilmu kanuragan (kedigjayaan) kepada masyarakat.

Keberadaan Endang Darma di Cimanuk dilaporkannya oleh Ki Tinggil kepada Raden Arya Wiralodra. Dengan disertai beberapa saudaranya, Raden Arya Wiralodra kembali ke Cimanuk. Setelah sampai di Cimanuk, Raden Arya Wiralodra bertemu dengan Endang Darma, Wiralodra mengajak untuk menguji kesaktian dengan catatan bila Wiralodra kalah dia menjadi pembantu Endang Darma. Sebaliknya bila Endang Darma kalah, maka ia menjadi istri Wiralodra. Akhirnya Endang Darma dapat dikalahkan dan akhirnya Arya Wiralodra menjadikan Endang Darma sebagai istrinya. Ketika itu Raden Arya Wiralodra adalah wakil kerajaan Sunda (Galuh) di Cimanuk.

Sumber lain memaparkan bahwa Raden Arya Wiralodra, seperti dirilis taktiktek On, adalah utusan dari Demak yang ditempatkan di daerah Indramayu (Cimanuk) sebagai bagian dari strategi Islamisasi yang dilakukan Demak di Pulau Jawa. Selain itu juga sebagai langkah Politis sehubungan dengan persaingan dagang dengan Portugis yang saat itu (1511) telah menguasai malaka.

Menurut Babad Dermayu, perubahan nama dari Cimanuk menjadi Indramayu berkaitan erat dengan istri Arya Wiralodra yang bernama Endang Darma. Pada suatu waktu Kerajaan Sunda yang mayoritas penduduknya beragama Hinda-Buddha, mengalami goncangan politik. Penduduk banyak yang beralih keyakinan ke agama Islam. Sebagian daerah melepaskan diri dari kekuasaannya, salah satunya adalah Cirebon yang memisahkan diri (1521 Masehi). Situasi ini dimanfaatkan oleh Arya Wiralodra untuk melepaskan diri dari Prabu Cakraningrat (Raja Galuh) dan kemudian nama Cimanuk diubah menjadi Indramayu. Nama Indramayu diambil dari nama istri Wiralodra yang bernama Endang Darma yang juga disebut Darma Ayu (Darma Cantik). Berdasarkan nama panggilan tersebut, daerah Cimanuk kemudian sering disebut dengan nama Dermayu yang akhirnya menjadi Indramayu. Raden Arya Wiralodra menjadi kepala daerahnya dengan gelar Indrawijaya. Peristiwa itu terjadi pada 7 Oktober 1527. Oleh sebab itu tanggal tersebut oleh pemerintah setempat dijadikan sebagai hari jadi Kota Indramayu.

Komplek makam Raden Arya Wiralodra terdapat di Blok Karangbaru, Desa Sindang, Kecamatan Sindang tepatnya pada koordinat 06 19′ 981″ Lintang Selatan dan 108 19′ 327″ Bujur Timur. Kompleks makam berada di pemukiman penduduk. Di sebelah selatan, timur, dan utara merupakan pemukiman penduduk sedangkan di sebelah barat adalah lahan kosong yang dimanfaatkan untuk kebun.

Keadaan makam sudah mengalami dua kali pemugaran. Pemugaran pertama dilakukan pada tahun 1965 dan yang kedua pada tahun 1985. Semua makam yang ada telah mengalami perombakan total dengan biaya dari Pemerintah Daerah Kota Indramayu.

Komplek makam dikelilingi pagar tembok dengan gerbang masuk pada sisi selatan. Begitu memasuki komplek makam melalui pintu gerbang akan sampai di serambi depan cungkup makam Arya Wiralodra yang merupakan bangunan baru. Cungkup tersebut menghadap ke timur. Di dalam cungkup disekat menjadi dua ruangan yang dihubungkan dengan jalan masuk tanpa daun pintu. Pintu masuk cungkup langsung menuju ke ruangan sebelah selatan. Di ruangan ini terdapat makam Ki Tinggil. Dengan melalui pintu penghubung yang berada di ujung timur sekat ruangan, akan memasuki ruangan sebelah utara di mana makam Arya Wiralodra I berada. Kedua makam ini sama-sama sudah direnovasi. Jirat berbentuk berundak berlapis keramik. Sebagaimana makam Islam pada umumnya, kedua makam ini berorientasi utara-selatan.

Di sebelah timur laut cungkup kuburan Wiralodra I terdapat cungkup lainnya yang menghadap ke barat di dalamnya terdapat kuburan Wiralodra III. Di sekitar ke dua cungkup dijumpai banyak kubur yang merupakan kuburan para kerabat Wiralodra.

Dengan memperhatikan latar belakang sejarah tersebut, sangat layak apabila menjadikan makam Arya Wiralodra sebagai salah satu destinasi (tujuan) objek wisata sejarah dan budaya di Indramayu. Diharapkan dengan mengunjungi dan memahami cerita tentang Arya Wiralodra orang akan lebih mengerti tentang Indramayu.

Nah yang belum pernah ke Indramayu ayo berkunjung ke Indramayu. Karena selain makam Raden Arya Wiralodra, Indramayu memiliki obyek wisata yang lain yang patut dikunjungi diantaranya : Pulau Biawak, Pantai Tirtamaya, Pantai Glayem, Pantai Eretan, Situ Bojong Sari, Situ Bolang, Situ Brahim, Waduk Cipancuh, Koloni Kera Banjar, Situs Makam Buyut Tambi, Situs Makam Selawe, Alun-alun, Bunderan Kijang, Tugu Mangga, Mesjid Agung, dan Kilang Minyak Balongan (*)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya