HTTP Status[404] Errno [0]

Petualangan Politisi Kutu Loncat

28 March 2013 06:43
Petualangan Politisi Kutu Loncat
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh : Ali Mustofa

UntitledMEDEKATI pemilu 2014. Kian marak fenomena politisi banting stir. Berpindah dari Parpol yang satu ke Parpol lain. Entah mengikuti hati nurani ataukah demi sesuap nasi. Kasus seperti inilah yang kemudian mendapat tren istilah Politisi kutu loncat.

Sebut saja misalkan seperti beberapa Politisi senior Golkar, Malkan Amin dan Mamat Rahayu Abdullah ke Partai Nasdem. Atau mantan politisi PKS, Misbakhun ke Golkar dan Yusuf Supendi ke Partai Hanura. Serta masih banyak lagi.

Tersirat setidaknya ada beberapa faktor penyebab kenapa para politisi memilih berpindah haluan.

Pertama: Peluang karir. Banyak terjadi di dunia politik Indonesia bahwa orang memilih bergabung dengan partai politik adalah sebagai pekerjaan utama mereka.

Ketika partai politik lain dipandang lebih dapat menjamin harta maupun kedudukan, maka si kutu loncat akan mengincar.

Kedua: Insiden politik. Sebab kedua ini juga cukup jamak terjadi. Politisi meloncat ke parpol lain diakibatkan karena terjadi insiden yang melibatkan dirinya dengan partai lama sehingga ia mengundurkan diri atau diberhentikan lalu pindah Parpol lain. Penyebab kedua ini juga ada benang merahnya dengan penyebab pertama.

Ketiga: Pragmatisme Politik. Disamping karena faktor pribadi, sejatinya perihal politisi kutu loncat Politisi ini juga dampak dari sistem struktural Parpol. Yakni buah dari eksperimen pragmatisme politik yang dilakukan oleh Parpol yang kemudian menjalar ke pragmatisme politisi.

Para Politisi tersebut memandang paradigma politik parpol sebelumnya dengan parpol barunya sama saja sehingga ia memandang tidak ada masalah ideologis dalam berpindah partai.

Pragmatisme politik ini juga tampak telanjang mata terjadi saat pemilu-pemilu daerah. Dimana Parpol yang berseberangan idealisme bahkan bisa duduk bersama mengusung calon kepala daerah mereka. Dari situ menunjukkan bahwa Parpol berasas Islam belum tentu ideologinya Islam.

Bagaimana mau disebut partai berideologi Islam jika kerja nyata politiknya melanggar syariah Islam. Demikian pula yang mengaku sebagai Partai nasionalis tetapi ideologinya tidak jelas.

Fenomena Politisi kutu loncat ini memberikan gambaran bagi masyarakat bahwa slogan-slogan politik untuk kepentingan rakyat itu adalah kamuflase. Sebab realitanya cenderung untuk kepentingan pribadi. Saat yang berbicara adalah tahta dan harta, maka mata hati bisa membuta.

Dampaknya kepercayaan masyarakat pada parpol semakin merosot. Berbanding lurus dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam pesta demokrasi baik pemilu nasional maupun daerah.

Misalkan dengan kemenangan Golongan Putih (Golput) disetiap pilkada akhir-akhir ini. Kasus terbaru (2013), angka Golput Pilkada Jabar mencapai 32 persen, sedangkan Pilgub Sumut menembus 62 persen.

Eksentrik

Politisi kutu loncat sejatinya tidak selamanya berkonotasi negatif. Tergantung apa latar belakang yang mendasari sang politisi memilih berpindah partai.

Jika itu dilandasi kesadaran politiknya setalah melihat parpol lamanya dalam berpolitik tidak lagi sejalan dengan cita-cita terbentuknya parpol, maka pilihan berpindah partai adalah pilihan akal sehat. Akan tetapi bilamana keputusannya berpindah partai sekedar untuk mengejar misi pribadi tertentu, hal ini begitu memprihatinkan.

Serial Politisi kutu loncat ini ada yang eksentrik. Yakni pada kasus Politisi yang berasal dari Parpol Islam justru meloncat ke partai sekular.

Apa yang dicari? padahal bergabung dengan parpol dalam Islam adalah sebagaimana semangat Ibadah menyerukan Islam dalam menegakkan hukum-hukum Allah dan amar ma’ruf nahi munkar.

Sebagaimana tutur Sayid Qutb ketika menafsirkan QS. Ali Imran 104, mengatakan bahwa tugas kelompok ini (parpol) adalah menyeru kepada Islam serta melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar (Fi Zhilalil Quran, 4/27).

Kasus ini mencerminkan lemahnya kesadaran politik Politisi tersebut. Bisa jadi ada beberapa pemicu, karena sang politisi itu nekat, ataupun akibat absennya kajian politik Islam serta gerak implementasinya di lapangan selama ini pada parpol Islam.

Begitulah ketika sistemsekularisme melalap kebaikan. Sudah saatnya umat berpaling dari sistem ini dan mendukung penegakkan sistem Islam dalam bingkai negara khilafah. Untuk kebaikan para politisi dan seluruh umat. Menuju Indonesia yang lebih baik. Wallahu a’lam ***

*Penulis adalah Pemerhati Politik dan Analis CIIA (The Community Of Islamic Ideological Analyst)- detik.com


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya