HTTP Status[404] Errno [0]

Jika Tenaga Kesehatan Hanya Demi Duit

31 March 2013 22:21
Jika Tenaga Kesehatan Hanya Demi Duit
Andi Agustang

BugisPos — Tenaga kesehatan dan rumah sakit terjebak berlaku nakal dengan memanfaatkan ketidaktahuan pasien, Â terperdaya jika orientasi profesi tenaga kesehatan hanya demi duit. Tanpa karakter baik, hukum medis bisa ditekuk, regulasi medis bisa dilipat. Praktik memberi obat yang tidak perlu dan memilih lebih mahal mencitrakan tenaga kesehatan tidak lagi melihat profesinya.

Demikian antara lain orasi ilmiah Guru Besar, Luar Biasa FKM UVRI Makassar, Prof.Dr.Andi Agustang, M.Si, dengan judul ‘’ Peran Ilmu Pendidikan dalam Membentuk Karakter Tenaga Kesehatan yang Bermartabat dalam Upaya Peningkatan Kualitas Pembangunan Kesehatan, pada Wisuda IV Stikes Mega Rezky Makassar di Hotel Clarion, Sabtu 30 Maret 2013.

Walau masih perlu dibuktikan informasinya kata Ketua Prodi S3 Sosiologi PPs-Universitas Negeri Makassar ini, jika ada pasien dibayarkan  asuransi kesehatan komersial, biasa tarif pelayanan medis bisa saja tiba-tiba menjadi tidak tentu. Tak sedikit masyarakat  jadi pasien dikecewakan dokter atau rumah sakit dan akhirnya merasa diabaikan, kenyataan demikian meleset dari bayangan  tenaga kesehatan yang memiliki nilai kebaikan, bermartabat dan lebih berbudaya

Banyak di antara tenaga kesehatan berpendidikan tinggi tandas doktor sosiologi antropologi PPs Universitas Padjajaran Bandung ini, justru merusak citra pendidikan kesehatan itu sendiri. Seolah nilai dan sikap ditanamkan sejak kecil sampai pada jenjang pendidikan tertinggi lenyap begitu saja.

Proses pendidikan tenaga kesehatan ungkap alumni pertama SMA Negeri Mare Bone meraih Guru Besar ini, dapat dipadukan dengan pendidikan karakter melalui metode pembelajaran berpusat pada mahasiswa, pemecahan masalah, terpadu berbasis masyarakat serta ekspose dan sistematis.

Tujuan pendidikan karakter tenaga kesehatan adalah membentuk tenaga kesehatan profesional dan menjalaninya sesuai kode etik. Banyak tenaga kesehatan melupakan jati diri dan kode etik profesi, sehingga banyak kasus terjadi di masyarakat, bahkan terkesan karakter tenaga kesehatan dihasilkan menyimpang dari hakikat profesi tenaga kesehatan.

Jalan harus ditempuh mengatasi masalah itu dengan mengitegrasikan pendidikan karakter kedalam kurikulum pendidikan kesehatan. Model pendidikan tenaga kesehatan berbasis karakter harus senantiasa ditingkatkan, sebab model itu mampu menghasilkan tenaga kesehatan berkompoten dan berkarakter, tandas Ketua Dewan Editor Jurnal Sosiologi Dialektika Kontemporer PPs UNM ini (yahya)


Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya