HTTP Status[404] Errno [0]

Komite Etik Beri Sanksi Pimpinan KPK

03 April 2013 13:14
Komite Etik Beri Sanksi Pimpinan KPK
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad mendapat sanksi dari Komite Etik KPK atas bocornya Sprindik Anas Urbaningrum.
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad mendapat sanksi dari Komite Etik KPK atas bocornya Sprindik Anas Urbaningrum.

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad mendapat sanksi dari Komite Etik KPK atas bocornya Sprindik Anas Urbaningrum.

BugisPos  — Komite Etik Komisi Pemberantasan Korupsi mengungkapkan Wiwin Suwandi sebagai pembocor dokumen sprindik Anas Urbaningrum pada sidang terbuka pada Rabu, (3/4/2013).

“Benar pelaku pembocoran adalah Wiwin Suwandi yang merupakan Sekretaris Ketua KPK,” kata anggota Komisi Etik KPK Tumpak Hatorangan dalam sidang terbuka di gedung KPK.

Sprindik yang dibocorkan itu, kata Tumpak, belum diberi nomor dan cap KPK, hingga tersebar di beberapa media. Proses bocornya sprindik Anas juga diungkapkan Komisi Etik.

Tumpak menyatakan Wiwin Suwandi diperintahkan Abraham Samad untuk membuat kopian sprindik yang merupakan hasil scanning pertama dan menyerahkan satu eksemplar kepada Abraham Samad untuk kemudian disimpannya.

Selanjutnya, Wiwin Suwandi memindai kedua kali atas dokumen sprindik yang berciri berbeda dengan hasil pindaian pertama (posisi banner berbeda). Wiwin memotret dokumen sprindik dengan menggunakan BlackBerry dan dikirim hasilnya pada wartawan.

Adapun Abraham tidak terbukti membocorkan sprindik Anas Urbaningrum. Namun, sikap dan perilakunya tidak mencerminkan sebagai pimpinan KPK.

Komite Etik menilai Abraham melakukan pelanggaran sedang. Komite Etik meminta Abraham berhati-hati untuk ke depannya.

Diberi Sanksi, Abraham Diminta tak Kecil Hati

Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi diminta tak berkecil hati usai diberi sanksi oleh Komite Etik. Usai pemberian sanksi ini, pimpinan KPK diminta lebih kompak dalam menuntaskan kasus-kasus korupsi.

“Pimpinan KPK harus bisa belajar dan mengambil hikmah dari kasus ini,” kata anggota Komisi Hukum DPR Martin Hutabarat, sebagaimana dikutip dari Tempo.co.  Hasil Komite Etik KPK mesti dihargai untuk menjaga wibawa dan independensi KPK.

Komite etik KPK menyimpulkan, Ketua KPK Abraham Samad tidak terbukti secara langsung membocorkan surat perintah penyidikan tersangka proyek Hambalang Anas Urbaningrum. Namun, Samad disebut melakukan pelanggaran sedang karena menciptakan situasi sehingga dokumen tersebut bisa bocor.

Komite Etik menyatakan, yang membocorkan surat perintah penyidikan adalah sekretaris Abraham Samad, Wiwin Suwandi. Bocoran ini kemudian menyebar ke sejumlah media massa.

Selain Abraham, Komite Etik juga memberikan sanksi teguran lisan kepada pimpinan KPK Adnan Pandu Praja yang dianggap bertindak tidak sesuai ketentuan kode etik pimpinan KPK. Ini terkait dengan pernyataannya yang mencabut tanda tangan dalam sprindik itu.

Martin mengatakan, hasil penyelidikan Komite Etik KPK melegakan karena tidak untuk memperkeruh perbedaan antarpimpinan. Menurut dia, pimpinan yang mendapatkan sanksi tidak usah berkecil hati menerimanya.

Dia menyatakan, lima pimpinan KPK merupakan orang terpilih. Dengan kondisi ini, seharusnya tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak kompak dalam memberantas korupsi. Jika tidak solid dan mengedepankan ego masing-masing, kata Martin, maka koruptorlah yang akan bertepuk tangan.(gafar)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya