HTTP Status[404] Errno [0]

Pariwisata dan Aspek Lingkungan

21 September 2018 22:57
Pariwisata dan Aspek Lingkungan
Taman Nasional Bantimurung
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

BugisPos — Ibarat dua sisi mata uang yang saling terkait, selain mempunyai dampak positif, pembangunan ekonomi juga mempunyai dampak negatif bagi masyarakat. Dari segi positif sudah jelas bahwa pembangunan ekonomi akan meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat.

Namun, pada saat yang sama pembangunan juga berdampak negatif bagi kelestarian alam, seperti berkurangnya sumberdaya alam akibat eksploitasi berlebihan, dan pencemaran udara melalui polusi industry, dapat mengakibatkan terjadinya prosesglobal warming . Hal ini dikarenakan pemakaian bahan bakar fosil, pembabatan hutan yang berlebihan, serta pembangunan fisik yang mengesampingkan keseimbangan alam, hanya memfokus pada pertumbuhan ekonomi semata.Â

Ketidakseimbangan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya emisi gas rumah kaca (GRK) yang sangat besar, dan berdampak terjadinya perubahan iklim. Perubahan iklim ini cenderung mengganggu aspek kehidupan dan ekonomi manusia. Konsep dalam diagram Triple Buttom Line yaitu suatu konsep pembangunan berkelanjutan yang terdiri dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan, satu sama lain memiliki keterkaitan dan saling mempengaruhi.

Aspek lingkungan memiliki keterkaitan dengan aspek sosial yakni pemanfaatan lahan produktif harus demi kesejahteraan sosial (be arable), keterkaitan aspek ekonomi dan sosial, yaitu perkembangan ekonomi harus berlandaskan adil dan merata bagi masyarakat (be equity), sedangkan aspek lingkungan dengan ekonomi harus saling menguntungkan, di mana aktivitas ekonomi tidak boleh menggangu keseimbangan lingkungan. Keterkaitan antara tiga aspek sekaligus, lingkungan-sosial-ekonomi, yang kita kenal yakni pembangunan berkelanjutan.

Salah satu aspek yang mengedepankan pembangunan berkelanjutan yakni dengan mengemukakan prinsip green (tecno) economy, yakni pemanfaatan “teknologi hijau” demi meningkatkan kemajuan ekonomi yang tidak merusak lingkungan ( green economy) yang berguna bagi kemajuan pembangunan negara. Menurut Raldi Hendro Koestoer, yang mewakili dari kalangan pemerintah sekaligus akademisi dalam acara “Smart to be Green’’ yang diadakan oleh salah satu perusahaan mesin fotokopi ramah lingkungan di Jakarta pada tanggal 9 April 2013. Â

Pemerintah belakangan ini mengedepankan pembangunan dengan konsep green (techno) economy yakni dengan merilis Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yaitu mempercepat dan memaksimalkan pembangunan di enam koridor ekonomi, yakni koridor ekonomi (KE) Sumatera, KE Jawa, KE Kalimantan, KE Sulawesi, KE Bali-Nusa Tenggara dan KE Kepulauan Maluku-Papua dengan tidak mengesampingkan keseimbangan lingkungan. Kebijakan pemerintah selalu memegang prinsip “pro growth, pro job, pro poor and pro green economy”.

Salah satu aksi nyata yang dilakukan oleh pemerintah yakni dengan mendorong masyarakat menggunakan bahan bakar nabati (biofuel) sebagai sumber energi alternatif, menerbitkan ISPO ( Indonesian Sustainable Palm Oil), meminimalisir penggunaan kertas di kalangan birokrasi (paperless) dan mengeluarkan Peraturan Presiden tentang Gerakan Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK).

Peningkatan peran green (tecno) economy pada akhirnya akan menguntungkan lingkungan, ekonomi dan sosial, sehingga kelestarian alam akan terus terjaga dan mengurangi efek negatif global warming terhadap kehidupan makhluk hidup di bumi, berita di kutip dari rri.co.id,(Rangga/Ishak)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya