HTTP Status[404] Errno [0]

Perang Bintang di Pemilihan Legislatif

01 May 2013 02:39
Perang Bintang di Pemilihan Legislatif
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh Marwan Mas

UntitledMelihat daftar calon legislatif (caleg)yang diajukan partai politik (parpol) ke Komisi Pemilihan Umum (KPU),dipastikan akan terjadi perang bintang. Bukan hanya karena sejumlah pensiunanjenderal ikut tertera namanya, tetapi juga banyak nama selebriti atau bintanglayar kaca yang ikut caleg. Dalam daftarcaleg sementara (DCS) sejumlah nama selebriti terkenal dari kalangan artis,baik pemain lama maupun pemain baru di dunia politik. Misalnya, Tantowi Yahya,Rieke Diah Pitaloka, Nurul Qomar, dan Nurul Arifin.

Sementara “figur hijau” di dunia politik, antara lain Anang Hermansyahdan Ayu Azhari (PAN), Mandala Shoji dan Ridho Rhoma (PKB), Angel Lelga (PPP),Irwansyah (Gerindra), dan Krisdayanti (Hanura). Secara popularitas, tentusangat dikenal lantaran kemampuan aktingnya sudah teruji. Tetapi jadipertanyaa, apakah kepopuleran itu akan berbading lurus dengan elektabilitasnya(tingkat keterpilahannya)? Setidaknya mereka dijadikan pendulang suara (vote getter) agar bisa meraih kursiparlemen.

Seberapa besar kapabilitas para caleg artis,meskipun sudah sangat dikenal, belum tentu elektabilitasnya juga tinggi. Sebabsalah satu yang terpenting dalam dunia politik adalah “persepsi publik”, yangboleh jadi tidak sama di dunia artis. Apalagi rakyat sudah pintar dan bisamemilah mana emas dan mana loyang yang bisa dipercaya memperjuangkan aspirasi.Kiprah di dunia artis tidak persis sama pemahamannya dengan dunia politik yang penuh intrik. Halinilah yang sampai kini jadi persoalan kritis, bahkan skeptis dalam menanggapicaleg selebriti dari kalangan artis.

Kompetensi

Persoalan komptensi dan kapabilitas artis di dunia politik menurut JohnStreet (Wasisto Raharjo J, Sinar Harapan, 26/4/2013) dapatdikategorisasikan dalam lima tipologi, yakni selebritas advokat, selebritasaktivis, selebritas politikus, politikus selebritas, dan selebritas endorser.

“Selebritas advokat” dan selebritas aktivis menurut Street merupakanartis yang masuk dunia politik karena dorongan melakukan gerakan sosial danperubahan. Tetapi masih bisa dipertanyakan kompetensinya, apakah nantinya bisamemahami dengan baik sekaligus mampu melaksanakan fungsi parlemen.

“Selebritas politikus” adalah artis yang mengalami transformasi dalammencari nafkah dengan pindah dari dunia hiburan ke dunia politik. “Politikusselebritas” adalah artis yang masuk dunia politik lantaran didorong olehtingginya tingkat popularitasnya. Malah mereka cenderung bertujuan untuk lebihmempopulerkan namanya dalam segemen lain, yaitu dalam ranah politik. Lebihlanjut Street mengurai bahwa “selebritas endorser”lebih banyak dimanfaatkan ketenarannyaoleh partai politik untuk menjadi votegetter dalam pemilu legislatif dan eksekutif.

Tipologiselebritas politik itu setidaknya bisa menjadi ukuran bagi rakyat, siapa yangpantas untuk dipilih. Apakah caleg selebriti yang dipilih itu betul-betulmemahami fungsi parlemen (DPR/DPRD), apakah bisa dipercaya melaksanakan amanahrakyat. Jangan sampai meraka hanya ingin memindahkan sumber penghasilannya daridunia artis ke dunia politik (selebritas politikus) lantaran sudah tidak lakulagi di dunia artis.

Bolehjadi juga karena didorong oleh kepentingan pasar politik dengan memanfaatkanidealisme semu, meski tidak memiliki kompetensi yang jelas. Mereka biasanyahanya dijadikan pengumpul suara oleh parpol, dan jika terpilih tidak lebih darisekadar asesori politik di parlemen. Mereka bisa dengan mudah terseret ke dalampusaran kepentingan parpol, bahkan kepentingan kekuasaan yang tidak memihakrakyat.

Tetapikita juga tidak bisa menapikan sejumlah artis yang benar-benar mampumemperjuangkan aspirasi rakyat. Mereka bisa menyesuaikan diri dengan kondisiparpol yang mengusungnya, mengikutu mengaderan sebelum terpilih, bahkan menjadipengurus teras di parpol. Sebutlah misalnya, Dedi “Miing” Gumelar yang begitu vokalmemperjuangkan kemajuan olahraga dan pendidikan, Nurul Arifin dalam otonomidaerah, Rieke Diah Pitaloka yang peduli masalah buruh dan kekerasan perempuan,serta Tantowi Yahya pada kebijakan politik luar negeri, militer, dan pertahananIndonesia.

Selebihnyatidak terdengar kiprahnya, bahkan tidak memanfaatkan kepopulerannya sebagaiartis untuk memperkenalkan ke publik tentang apa yang dikerjakan di parlemen.Tidak terdengar nyaring suaranya seperti saat berkiprah di dunia keartisan.Meraka belum mampu menjadi penyambung aspirasi rakyat. Lagi-lagi harusditekankan pada kompetensi dan kapabilitasnya, karena dunia artis amat berbedadengan dunia politik.

Artisyang masuk dunia politik, tentu sah-sah saja sebagai hak politik warga negara. Tidak ada yang salah dengan realitas banyaknya artis yangterjun ke dunia politik. Sejauh memenuhi berbagai syarat yang ditetapkanundang-undang, silahkan saja. Tetapi harus diiringi dengan kemampuan yang lebihdari sekadar popularitas. Artinya, popularitas bisa dijadikan instrumen untukmeraih dukungan suara agar terpilih, tetapi harus ada garansinya yaitu mampumemperjuangkan aspirasi rakyat.***


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya