Makassar Semakin Tidak Aman

18 May 2013 22:11
Makassar Semakin Tidak Aman
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh : Marwan Mas

UntitledLANTARAN polisi dianggap tidak mampu menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di Kota Makassar, banyak kalangan meminta agar polisi instrospeksi diri dan mengasah kembali profesionalitasnya. Bukan hanya sekadar menjalankan tugas, seperti mendatangi tempat kejadian perkara, kemudian mengolahnya, tetapi ujung-ujungnya kasus yang ditangani tidak terungkap motif dan pelakunya.
Setidaknya ada empat bentuk kriminalitas yang jadi momok bagi warga masyarakat saat ini, yaitu teror bom molotof, perkelahian antarkelompok masyarakat, peluru nyasar, dan kekerasan anggota geng motor. Sudah banyak korban luka-luka, korban jiwa, dan kerugian harta benda dari keempat pola kekerasan itu.
Celakanya, tidak ada tindakan cepat dan mendasar untuk mengatasi berbagai pergolakan tersebut. Penanganannya terlalu kasuistis dan masih bersifat parsial, malah lebih fokus pada upaya penindakan yang ternyata juga gagal dibandingkan upaya pencegahan. Akibatnya, sebagian warga percaya bahwa mereka dapat menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dibandingkan dengan jalan yang lebih beradab.
Ada kesan kepolisian di daerah ini tidak memiliki visi yang jelas dalam mengungkap motif dan pelaku kekerasan itu. Penyelesaian masalah dalam masyarakat melalui adu kekuatan dan kekerasan, bukan hanya bersifat individual melainkan melibatkan kelompok teroganisasi yang bernama kelompok pemuda antarlorong atau kampung, serta kelompok geng motor.
Kekerasan terbaru yang diduga dilakukan anggota geng motor, adalah menikam kontributor Trans-TV Biro Makaassar, Endhy, pada Kamis (9/5/13) sekitar pukul 04.00 Wita. Endhy mengalami luka tikam di paha kanannya saat baru melakukan liputan, dan ini merupakan korban kesikian kalinya.
Karena polisi dianggap tidak mampu mengatasi pelaku geng motor yang makin meresahkan, sehingga warga yang gerah lantas berharap bantuan aparat TNI untuk turun memberantas kekerasan geng motor. Ini dilontarkan Ahmadi Karim, seorang PNS (Fajar, 9/5) sebagai buntut adanya dugaan pembiaran dari aparat. Rupanya dia mengambil contoh pada aksi pasukan Kopassus yang menghabisi preman hingga masuk ke Lapas Cebongan Yogyakarta, beberapa waktu lalu.
Fakta mayoritas anggota geng motor adalah anak muda (remaja) sebagai kenyataan memprihatinkan. Bagaimana mereka terbentuk dan terkultur ke dalam lingkaran geng motor yang diliputi kebencian dan keberingasan. Kita tidak melihat fenomena ini secara sepotong-sepotong, tetapi menyikapi aksi kekerasan mereka sebagai peristiwa serius, tentu saja butuh pemikiran berjangka jauh yang bersifat mendidik dan menyelamatkan.
Perluasan perseteruan antargeng motor atau dengan warga masyarakat tidak boleh dibiarkan berkembang. Kita sudah banyak direpotkan oleh berbagai insiden dengan aksi merusak barang, menganiaya, sampai melakukan pembunuhan dengan senjata tajam dan benda keras. Jika pemetaan konflik tidak segera dibenahi, maka yang akan terjadi adalah potensi kekerasan akan terus menyeruak lantaran kehilangan panutan.
Prakarsa untuk keluar dari potensi konflik ini setidaknya perlu upaya pencegahan, selain tindakan tegas bagi mereka yang terbukti melakukan kriminalitas. Upaya pembinaan Polrestabes Makassar dengan melalukan sosialisasi di SMA I Makassar beberapa waktu lalu, merupakan salah satu langkah positif. Hanya saja tidak boleh setengah hati, harus dilakukan secara komprehensif terhadap semua sekolah yang potensial siswanya terlibat geng motor. Termasuk melibatkan orangtua, aparat pemerintahan daerah, serta tokoh pemuda dan masyarakat yang punya pengaruh bagi mereka. Kelompok-kelompok itulah sejatinya pengendali massa dan bisa didengar oleh meraka.
Memang, di balik faktor-faktor nonteknis pengoordinasian kegiatan geng motor yang kadang begitu liar, selalu membutuhkan pola-pola komunikasi yang intens dengan aparat kepolisian, guru, dan tokoh masyarakat. Demi masa depan mereka, perlu melakukan kegiatan yang mencerahkan kesadaran tentang pentingnya kesadaran berlalu-lintas, pentingnya rasa aman bagi pengguna jalan lain, serta didukung pendidikan penegakan hukum yang kuat. Kita jelas ditantang untuk memulihkan semua itu.
Kasus kekerasan yang acapkali dipraktikkan oleh aparat keamanan, juga tidak bisa dinafikan sebagai perilaku yang bisa dijadikan contoh bagi anak-anak muda. Misalnya kekerasan terhadap pengunjuk rasa, termasuk contoh kekerasan teramat buruk yang boleh jadi ditiru. Untuk menguranginya, aparat harus memberikan contoh yang baik.
Contoh yang baik ialah menyelesaikan setiap perkara sesuai dengan hukum yang berlaku. Bukan dengan dendam membara, sebab menyelesaikan setiap perkara dengan kekerasan hanya akan menciptakan kekerasan baru. Keteladanan sangat dibutuhkan agar konflik di tengah masyarakat dapat diredam. Keteladanan inilah yang akhir-akhir ini makin jauh dari para pemimpin dan aparat hukum.
Kalau aparat negara saja gemar melakukan kekerasan ilegal, bagaimana dengan warga masyarakat yang secara umum mudah terpicu. Perilaku main hakim sendiri yang dilakukan aparat negara tidak boleh dibiarkan terus terjadi, seolah-olah kita kembali pada masa Orde Baru. Praktik kekerasan kolektif harus segera ditepis dan diusut dengan perlakuan yang setara di muka hukum.
Pemerintah Daerah tidak bisa lepas tangan oleh semakin maraknya aksi kekerasan. Memang tugas menekan dan memberantas kekerasan tidak cukup hanya diserahkan kepada polisi, tetapi polisi juga harus berinisiatif membangkitkan partisipasi masyarakat. Tanggung jawab memberantas perilaku kekerasan tetap berada pada polisi, karena kemunculan mereka merupakan kegagalan polisi melakukan pencegahan.
Untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap rasa aman, setidaknya polisi menggunakan hukum yang bertenaga. Tidak boleh ada toleransi terhadap setiap aksi kekerasan ilegal dengan alasan apapun, aparat kepolisian harus lebih aktif melakukan upaya pencegahan. Jika polisi gagal, apalagi takut bertindak tegas, risikonya amat berat. Kekerasan akan terus menghantui kehidupan masyarakat ***

Marwan Mas adalah Anggota Forum Dosen Majelis Tribun


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya