HTTP Status[404] Errno [0]

Kenaikan Tarif Petepete Rp5.000 tak Rasionil

12 June 2013 12:46
Kenaikan Tarif Petepete Rp5.000 tak Rasionil
Penggiat LSM di Sulsel, Aminullah Sirajuddin mengkritisi rencana kenaikan tarif petepete yang dianggap tidak rasional.
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com
Penggiat LSM di Sulsel, Aminullah Sirajuddin mengkritisi rencana kenaikan tarif petepete yang dianggap tidak rasional.

Penggiat LSM di Sulsel, Aminullah Sirajuddin mengkritisi rencana kenaikan tarif petepete yang dianggap tidak rasional.

BugisPos —Â Jika harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jadi dinaikkan, maka Organisasi Angkutan Darat (Organda) Sulsel akan menaikkan tarif angkutan kota (angkot) atau petepete sebesar 30 hingga 40 persen.

“Sehingga kemungkinan tarif petepete untuk jarak jauh/dekat naik dari Rp3 ribu menjadi Rp5 ribu,” sebut Ketua Organda Sulsel, Opu Sidiq, saat dikonfirmasi melalui telepon genggam kemarin.

Opu menjelaskan, naiknya harga BBM bersubsidi jelas akan mempengaruhi tingkat kebutuhan hidup para sopir. Dimana, harga sembilan kebutuhan bahan pokok di pasar-pasar tradisional akan ikut melonjak.

“Kenaikan tarif tidak hanya diukur dari faktor harga BBM saja, tapi juga dari faktor non BBM. BBM tidak hanya berpengaruh pada naiknya biaya operasional transportasi saja, tapi pada seluruh aspek, di antaranya biaya kebutuhan hidup. Di belakang satu orang pengemudi angkutan, kurang lebih empat anggota keluarganya menunggu suapan nasi,” tandas Opu.

Hal yang sama juga diungkap Ketua Serikat Sopir Makassar (Sesmak) Ahmad Zubair. Dimana pihaknya kini sudah melakukan berbagai persiapan, salah satunya dengan menyepakati kenaikan tarif angkot menjadi Rp5 ribu.

“Kita incar-incar sekarang naik sampai Rp5 ribu. Itu usulan yang kita ajukan ke pemkot dan akan dibahas oleh DPR. Faktor inflasi harga bahan-bahan pokok itu besar pengaruhnya. Itu juga yang kami perhitungkan dalam menetapkan usulan kenaikan harga tarif angkutan,” tegasnya.

Terpisah, penggiat LSM di Sulsel Aminullah Sirajuddin menolak rencana kenaikan tarif petepete yang sangat membebani masyarakat, utamanya pengguna angkutan umum tersebut. Kenaikan tarif hingga Rp5.000 dianggap tidak rasional.

“Masa iya, kenaikan BBM sekitar 30 persen, kok tarif petepete dinaikkan dari Rp3.000 menjadi Rp5.000, sehingga kenaikannya hampir 66 persen. Ini sama saja mau membunuh masyarakat. Sudah kehidupan susah, malah dibebani lagi dengan tarif angkutan umum yang mencekik,” kritik Aminullah Sirajuddin saat dikonfirmasi di Cafe Buana Jalan Urip Sumoharjo, Rabu, (11/6/2013.

Menurut Ullah, panggilan akrab penggiat LSM itu, kenaikan tarif petepete yang rasionil itu paling tidak dapat mengikuti prosentase kenaikan 30 persen yang dilakukan pemerintah.

“Paling tinggi kenaikan petepete itu hanya sampai Rp4.000,” ujarnya.

Zabil Bakri, salah seorang Ketua ORT di kelurahan Maccini Parang berharap tarif petepete tidak jadi naik. Kalau pun itu terjadi, kata dia, masyarakat otomatis dipaksa harus menerima.

“Kami ini masyarakat kecil yang tidak tahu bagaimana politik di pusat. Kalau BBM naik, kemudian harga sembako dan tarif petepete juga naik, bagaimana kami masyarakat kecil. Jadi saya harap janganlah ada kenaikan,” harap Bakri.(gaf)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya