HTTP Status[404] Errno [0]

Hutan Riau Terbakar, Presiden SBY Minta Maaf pada Negara Tetangga

24 June 2013 18:13
Hutan Riau Terbakar, Presiden SBY Minta Maaf pada Negara Tetangga
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta maaf pada Malaysia dan Singapura atas kabut asap yang terjadi akibat kebakaran hutan di Riau.
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta maaf pada Malaysia dan Singapura atas kabut asap yang terjadi akibat kebakaran hutan di Riau.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta maaf pada Malaysia dan Singapura atas kabut asap yang terjadi akibat kebakaran hutan di Riau.

BugisPos — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta pengertian negara sahabat atas bencana kebakaran hutan yang menyebabkan asap. Secara khusus Presiden meminta maaf kepada Singapura dan Malaysia terkait kabut asap yang melanda kedua negara tersebut.

“Selaku Presiden RI, saya meminta maaf dan pengertian saudara-saudara kami di Singapura dan Malaysia. Tentu tidak ada niat Indonesia atas apa yang terjadi ini. Dan kami bertanggung jawab untuk mengatasinya,” kata Presiden SBY dalam jumpa pers usai memimpin rapat terbatas dengan sejumlah menteri dan lembaga negara nondepartemen di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (24/6/2013) malam.

Terkait bencana asap yang menimpa Singapura dan Malaysia, yang bersumber dari kebakaran hutan di wilayah Riau itu, menurut analisis Presiden SBY, ada faktor alam tapi ada juga faktor manusia.

“Kebetulan, sekali lagi, arah angin dari Sumatera melintasi Malaysia dan Singapura menuju Filipina, ini juga faktor yang membuat aliran asap menjadi tebal,” kata Presiden SBY.

Presiden  menilai Provinsi Riau terlambat dalam mengantisipasi dan melakukan penanganan dini terhadap kebakaran hutan yang menimbulkan bencana asap ke negara tetangga. Namun Presiden meminta semua pihak untuk tidak saling salah-menyalahkan.

“Bekerja bersama-sama pusat dan daerah. Kerahkan semua kekuatan yang kita miliki untuk bisa segera mengatasi bencana asap dan kebakaran lahan ini,” pinta SBY.

Presiden kemudian mengingatkan provinsi-provinsi lain, Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur untuk melakukan hal yang sama.

“Tidak perlu menunggu sampai titik api terjadi di banyak tempat, sekaranglah saatnya untuk mencegah,” tegas Presiden SBY.

Dalam kesempatan itu, Presiden SBY menyesalkan adanya sejumlah pejabat yang mengeluarkan pernyataan yang tidak semestinya. Menurut Presiden, pernyataan sejumlah pejabat tersebut, yang berbeda-beda dan belum tentu kebenarannya, menjadi keprihatinan Singapura dan Malaysia.

“Saya instruksikan jajaran pemerintah untuk tidak perlu memberikan pernyataan yang tidak semestinya. Apalagi mengatakan ada perusahaan yang lalai itu perusahaan Indonesia dengan jelas menyebut nama perusahaannya, sama halnya menyebut perusahaan asing milik Malaysia atau Singapura itu tidak diperlukan,” ungkap Presiden SBY.

Pemerintah, lanjut Presiden, akan melakukan penegakan hukum atas kasus ini,  dengan memberi tugas kepada kepolisian dan penegak hukum yang lain, untuk melakukan investigasi. Dari hasil investigasi, akan diketahui perusahaan yang lalai, apakah perusahaan Indonesia atau asing hukum harus ditegakkan setegas-tegasnya dan seadil-adilnya seperti yang ditetapkan dalam undang-undang.

Tingkatkan Penanganan Bencana

Presiden SBY menegaskan, bahwa pemerintah memutuskan untuk meningkatkan upaya mengatasi bencana asap di Sumatera. “Dalam waktu 1 X 24 jam Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan segera meningkatkan apa yang harus dilakukan bersama jajaran TNI dan Polri,” kata Presiden.

Kalau sebelumnya komando dan pengendalian penanganan bencana asap itu ditangani daerah dibantu pusat,menurut Presiden SBY,  sekarang Kepala BNPB akan memimpin secara keseluruhan meskipun komponen daerah juga terlibat.

Menurut Presiden, seperti yang dirilis ANTARANews.com, metode penanganan seperti ini pernah diterapkan dalam mengatasi bencana letusan Gunung Merapi, daerah tetap bekerja dibantu oleh pusat. Dengan kepemimpinan di tangan BNPB, kata Presiden, maka kekuatan satuan tugas darat akan ditingkatkan, terutama personel TNI dan personel lain yang bisa ikut memadamkan api di lahan-lahan dengan alat yang dimiliki.

Sedang untuk memadamkan kebakaran di hutan, menurut Presiden, solusinya hanya dua, yakni dengan menjatuhkan air atau water bombing dan hujan buatan.

Untuk mendukung kedua upaya tersebut, kata Presiden, sarana angkutan udara, seperti helikopter, dan sarana lain akan ditingkatkan pula secara bersamaan upaya darat dan udara.

“Saya memberikan instruksi untuk memobilisasi kekuatan yang kita miliki, sumberdaya yang kita miliki, termasuk anggaran yang tersedia. Anggaran cadang memang digunakan untuk itu, jadi tidak boleh ada hambatan tentang anggaran, yang penting digunakan dengan baik dan denga n akuntabilitas yang setinggi-tingginya,” kata Presisen.

Rapat terbatas yang dimulai sekitar pukul 16.30 WIB tersebut dihadiri oleh antara lain Menko Polhukam Djoko Suyanto, Mendagri Gamawan Fauzi, Menko Kesra Agung Laksono, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menlu Marty Natalegawa dan Kepala BMKG Sri Woro, Kepala BNPB Syamsul Maarif, Panglima TNI, Kapolri, Kasad, Kasau, Kasal.(gaf)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya