HTTP Status[404] Errno [0]

Tiga Kota Hantu Dunia

30 July 2013 02:27
Tiga Kota Hantu Dunia
Bekas tambang Batubara di Sawahlunto
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

BugisPos — Kota hantu bisa ditafsirkan sebagai kota yang tak berpenduduk atau pernah mencapai puncak popularitasnya kemudian dilupakan karena sebab tertentu. Tempo.co mengutip laporan Majalah Travelounge edisi Juli 2013, di Indonesia juga ada kota yang masuk ketegori kota hantu, yakni Sawahlunto, Sumatera Barat.

Sementara di Namibia dan Argentina, masing-masing memiliki satu kota “hantu” karena sempat ramai namun kemudian ditinggal penduduknya dan tak berpenghuni hingga kini. Berikut tiga kota hantu itu:

1. Kota Hantu Danau

Pada 1985, Kota Epecuen didera badai dan hutan tanpa henti selama berhari-hari. Akibatnya, kota yang terletak di tepian danau itu tenggelam sekitar 10 meter di bawah permukaan air. Beruntung, 1.500 penduduk Kota Epecuen berhasil dievakuasi.

Tiba-tiba 28 tahun kemudian, kota ini muncul lagi setelah terjadi penyusutan volume air danau. Layaknya sebuah kota hantu, yang terlihat di sana hanya deretan gedung tinggi berlumut, rumah berantakan, dan mobil bobrok terserak di jalan.

Kini, kota itu kembali ramai sebagai alternatif wisata di Argentina, meski hanya satu orang yang kini berani tinggal di sana.

Setiap pekan, sekitar 25 ribu wisatawan berkunjung untuk melakukan terapi garam atau sekadar bersantai di atas air danau yang mempunyai kadar garam 10 persen lebih tinggi dari perairan sekitar.

2. Kota Gurun

Pada 1908, Zacharias Lewala, seorang buruh kasar pembangunan rel kereta api tak sengaja menemukan sebutir berlian. Ribuan orang rela pindah ke wilayah gurun tak berpenghuni di Namibia itu.

Setelah berjaya selama 30 tahun, pasca-Perang Dunia I, produksi berlian menurun perlahan hingga menjadi nol pada 1954. Sejak itu, kota ini berubah menjadi kota hantu. Para penghuninya pergi. Kota tersebut benar-benar lengang dan meninggalkan sejumlah mitos hantu yang bergentayangan. Perlu izin khusus untuk memasuki kota itu.

3. Kota Batu Bara Sawahlunto

Sejak diumumkan kaya akan kandungan batu bara pada 1867 oleh peneliti Belanda, Kota Sawahlunto di Sumatera Barat berkembang pesat.

Eksplorasi dilakukan dengan segala sarana penunjang dibangun. Para narapidana dijadikan buruh tambang di masa awal produksi.

Diperkirakan 200 ton batu bara terkandung dalam perut bumi Sawahlunto. Namun pada 1970-an, produksi batu bara mulai turun. Kota ini pun mulai ditinggalkan dan dilupakan.

Kini, Kota Sawahlunto dihidupkan kembali menjadi kota wisata bekas industri pertambangan. Setiap bulan, ratusan turis berkunjung untuk menikmati bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda dan bekas lahan tambang.

Kota yang dulu berjuluk sebagai “Kota Hantu“ itu kini telah menjadi kota yang baru. Kota yang terletak 95 km di timur laut kota Padang, Sumatera Barat ini dahulunya adalah kota hitam karena menjadi pusat penambangan batu bara. Bertahun-tahun kota itu laksana kota hantu dengan aktivitas tambang hingga akhirnya industri itu berakhir.

Saat kota ini nyaris mati, pemerintah Kota Sawahlunto pun segera melakukan perbaikan sarana dan infrastruktur. Bekas-bekas tambang yang menjadikan ciri khas kota hantu tersebut disulap menjadi tempat-tempat atraktif untuk kawasan wisata. Hal itu dikatakan oleh Walikota Sawahlunto, Amran Nur ketika berada di Jakarta.

Bekas tambang tersebut kini dikemas menjadi obyek wisata kota tambang. Di sana para pengunjung dapat melihat berbagai peninggalan yang ada seperti kereta pengangkut batu bara, gua tambang Mbah Soero, Museum Goedang Ransoem dan sebagainya.

Untuk masalah akomodasi, pemerintah mendesain dengan sistem homestay di rumah para penduduk, tidak menggunakan hotel seperti umumnya kawasan wisata. Hal ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat. Nilai lebih yang akan diterima para wisatawan adalah mereka dapat mempelajari budaya lokal dari masyarakat setempat sehingga tercipta jalinan yang erat antara warga dengan para tamu wisatawan.

Kawasan yang dulunya tergolong miskin kini telah bangkit menjadi daerah potensi wisata di Provinsi Sumatera Barat. Dengan adanya wisata kota tambang ini, angka kemiskinan masyarakat dapat ditekan dan akhirnya kini Sawahlunto telah bertransformasi menjadi kota wisata setelah bertahun-tahun yang lalu menyangdang gelar sebagai “Kota Hantu“.

Apakah Anda tertarik untuk berkunjung? Sawahlunto cukup menarik bagi para petualang yang ingin menyaksikan peninggalan kota itu di masa lalu (una)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya