HTTP Status[404] Errno [0]

Spiritualitas Bugis-Makassar Sebelum Islam

03 August 2013 01:01
Spiritualitas Bugis-Makassar Sebelum Islam
Andi Sumangelipu
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

SPIRITUALITAS masyarakat Bugis sebelum masuknya Islam dapat dilihat dari aspek Teologis (konsep ketuhanan) dan aspek Kosmologis-nya (konsep mengenai alam semesta). Konsep ketuhanan yang dianut oleh masyarakat Bugis, sebagaimana yang dikisahkan dalam sure’ La Galigo memberikan gambaran bahwa masyarakat Bugis telah menyakini suatu entitas yang transendent yang dinamakan Dewata Seuwae (Tuhan Yang Maha Esa). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Bugis sejak dulu sudah memahami esensi ke-tauhid-an Yang Maha Tunggal.

Dalam epos ini juga menceritakan tentang asal-usul penciptaan manusia, mula tau, seperti kisah Nabi Adam dan Sitti Hawa dan To Manurung (orang turunkan dari langit) sebagai keturunan Dewa. Penciptaan Dewa Matahari dan Dewi Bulan diibaratkan penciptaan Adam dan Hawa sebagai makhluk pertama. Keturunan yang kemudian lahir berpasang-pasangan yang kembar dikawinkan secara silang, yaitu hanya dapat menikah dengan bukan saudara kembarnya. Keturunan-keturunan mereka inilah kemudian yang bertugas menjadi pengurus alam semesta (dewa penguasa) di tiga dunia, yaitu Dunia Atas atau Kahyangan (Langi’), Dunia Tengah atau Bumi (Peretiwi) dan Dunia Bawah atau Bawah Laut (Buri’ Liung).

Adanya keyakinan masyarakat Bugis terhadap Tuhan Yang Kuasa, dapat ditemukan dalam catatan Cuito pada tahun 1545 bahwa “Bangsa-bangsa ini (Bugis) tidak mempunyai kuil (casa de idiolos), tetapi mereka bersembahyang dengan mendongakkan kepala ke langit, tangan ke atas, dari sini kita dapat melihat bahwa mereka mengenal Tuhan yang sebenarnya”.

Pada periode ini, mereka sudah mengenal kaifiyyah atau tata cara peribadatan kepada Dewata Seuwae dalam suatu bentuk ritual adat yang menyangkut hal-hal sejak lahir sampai pada prosesi kematian, seperti allahere (proses kelahiran), mappenre’ tojang (syukuran kelahiran), menre’ bola (naik rumah baru), ammateang (kematian), dan sebagainya. Ritual-ritual yang dilakukan dipercaya dapat membangkitkan energi rohani (ruhiyyah) sebagai sumber energi vital yang sebut sebagai kekuatan sumange’ atau sumanga’ (soul substance).

Doa yang dipanjatkan dalam suatu ritual berupa nyanyian, pujian atau pembacaan sajak-sajak yang diambil dari sure’ Galigo. Pembacaan ini biasa disebut massure’. Kadang-kadang dalam ritual tertentu massure’dilakukan dengan pembacaan sure’ Meong Mpalo Bolong atau Kitab Kucing Belang. Saat agama Islam masuk Kitab Kucing Belang ini digantikan oleh ulama penyebar Islam dengan Barzanji. Massure’ biasanya dilakukan oleh Sanro (dukun) atau Bissu (pendeta Bugis) dengan pembakaran dupa serta menyajikan hidangan sebagai sesajian berupa nasi ketan empat rupa warna (sokko’ patang rupa) yaitu merah, putih, kuning, dan hitam yang merupakan simbol dari unsur api, air, angin dan tanah sebagai unsur-unsur pembentuk kejadian manusia.

Pribadi Bugis juga meyakini adanya entitas makhluk gaib (to tenrita), makhluk halus (to halusu’), dan mengenal “substansi malaikat” dengan sebutan punna tana (penguasa tanah), punna uwae (penguasa air) dan unsur-unsur lainnya, untuk beberapa daerah Bugis yang lain menyebut pangonranna tanae untuk penguasa tanah atau pangonranna uwae untuk penguasa air dan seterusnya untuk unsur yang lain.

Bagi masyarakat Bugis Makassar di tanah Toa Kajang mengenal Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai To Ri Ara’na yang diturunkan ke bumi melalui Ammatoa (pemimpin/pendeta). Mereka meyakini hal gaib, kematian, hari kemudian dan takdir dari Pasanga atau Patuntung sebagai pesan-pesan suci secara lisan (wahyu) dari To Ri Ara’na melalui Ammatoa dalam ritual tertentu. Masyarakat Kajang dikenal dengan aturan adat dengan pola hidup kamase-mase, yakni menjaga kesederhanaan dan kesahajaan (zuhud) dan terisolasi dari dunia moderen hingga saat ini, sehingga mereka hanya mengenakan pakaian serba hitam tanpa alas kaki. Masyarakat Kajang juga mengenal Tuhan dengan sebutan To Kammayya Kananna (Yang Terwujud Firman-Nya). Penganut Patuntung meyakini adanya entitas Maha Kuasa di tempat yang tinggi, sehinggga ritual dilaksanakan ditempat yang tinggi misalnya gunung ataupun bukit. Setelah Islam datang, mereka dianggap tidak sepenuhnya memeluk agama Islam, namun bagi masyarakat Tana Toa sendiri meyakini bahwa mereka sudah Islam sejak dul dan ke-Islam-an yang mereka yakini bukan dari luar Kajang melainkan melalui ajaran Patuntung Manuntungi ( mencari,menghayati dan mengamalkan). Dalam Pasanga ri Kajang dikenal dengan ajaran “Je’ne Talluka Sambajang Tamattappu” yang bermakna Air wudhu yang tidak pernah batal dan sembahyang yang tidak pernah putus.

Adapun kepercayaan masyarakat Bugis akan adanya kehidupan setelah kematian digambarkan oleh Gervaise dalam catatannya bahwa “orang Bugis menguburkan orang mati dengan memakai pakaian yang paling indah dan barang barang yang paling bagus yang mereka miliki. Belum lama berselang ketika diadakan penggalian kuburan-kuburan tua, dalam kubur salah satu pangeran yang kaya daerah itu, didapati sejumlah jambangan bunga, gelang, kalung dan batang emas, yang disertakan oleh keluarganya sebagai bekal di dunia baka”. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Bugis meyakini adanya kehidupan setelah kematian. Barang-barang yang dikuburkan bersama orang mati dianggap sebagai bekal untuk kehidupan selanjutnya. Ritual penguburan bagi etnis Bugis kuno dengan cara membakar dan cara penguburan bagi etnis Makassar. Kematian bagi orang yang mencapai tingkatan spiritual yang tinggi tidak mengenal lagi pembakaran dan penguburan karena jasadnya akan mallajang (hilang/Moksa) langsung menuju disisi Tuhan, dalam catatan sejarah bahwa ini banyakan terjadi pada raja-raja terdahulu.

Dalam hal muamalah (sosial), masyarakat Bugis juga memberlakukan hukum-hukum tertentu bagi pencuri, pembunuh ataupun perzinahan. Paiva secara singkat memberi catatan yang tentunya ditujukan untuk memperlihatkan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan, yang tadinya begitu pagan, juga berbudaya. Raja senantiasa membayar dengan sewajarnya pemilik barang yang diambilnya. Pencuri yang baru pertama kali melakukan pencurian didenda sebelas kali jumlah yang dicurinya; pada kedua kalinya dirampas hartanya; pada ketiga kalinya dihukum mati. Kalau pencuri itu orang yang tidak berharta dan tanpa seseorang yang dapat membayar dendanya, maka langsung dia dihukum mati sama halnya dengan hukuman perzinahan.

Setelah agama Islam datang, agama baru ini pun disambut baik dan mudah diterima oleh masyarakat Bugis-Makassar karena ajaran dan nilai-nilai ajarannya memiliki kesamaan nilai-nilai spiritualitas konvesional Bugis yang sudah ada.

Andi Sumange Lipu adalah Peneliti di LSM Wadjo Institute, peneliti di Indonesian Research & Development Institute (IRDI) Jakarta sejak 2007-2010


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya