HTTP Status[404] Errno [0]

Astaga, Ketua MK Tampar Wartawan

04 October 2013 01:36
Astaga, Ketua MK Tampar Wartawan
Akil Mochtar saat menampar Wartawan
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

BugisPos — Akil Mochtar sempat menampar muka seorang wartawan saat hendak digelandang masuk ke rumah tahanan KPK, Kamis (3/10) malam. Akil tampak tak terima dengan pertanyaan seputar hukuman potong jari.
Kejadian itu berlangsung tepat saat Akil keluar dari mobil tahanan. Akil yang dikerumuni wartawan sempat ditanyai seputar hukuman potong jari dan penemuan ekstasi yang ditemukan di ruangannya.

“Bapak pernah bilang koruptor itu layak dihukum potong jari? Kalau bapak terbukti bersalah siap potong jari?” tanya seorang wartawan.
Belum sempat diajukan pertanyaan lain, tiba-tiba tamparan Akil melayang ke muka si wartawan yang bertanya.

Insiden itu sempat membuat semua wartawan yang sedang meliput langsung geram. Akibatnya, sempat terjadi keributan dengan wartawan.
Keributan berhasil dilerai dan Akil akhirnya dibawa ke rumah tahanan.

Sebelumnya, Mohammad Akil Mochtar diketahui pernah melontarkan ide terobosan dalam pemberantasan korupsi. Koruptor perlu diberi hukuman kombinasi antara pemiskinan dan potong salah satu jari tangan. Ide tersebut dilontarkan Akil karena banyak kasus korupsi. Ia benganggapan, penjara dan bayar denda dianggap tak memberikan efek jera kepada koruptor.

“Ini ide saya, dibanding dihukum mati. Lebih baik dikombinasi pemiskinan dan memotong salah satu jari tangan koruptor saja cukup,” kata Akil Mochtar pada 12 Maret 2012. Ide tersebut dilontarkan kala Akil menjabat juru bicara Mahkamah Konstitusi.

Akil Terus Bantah Terima Suap

Penyidik KPK memeriksa secara maraton Ketua MK Akil Mochtar karena diduga menerima suap. Selama proses penyelidikan hingga penyidikan, Akil ternyata terus membantah menerima suap.

“Sejauh ini masih menyangkal,” kata Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto di kantornya, Jalan HR Rasuna Said, Jaksel, Kamis (3/10/2013).

Namun KPK tidak ambil pusing dengan sikap yang ditunjukan Akil. Menurut Bambang, hal lumrah seorang tersangka menggunakan hak ingkar.

“Wajar,” jawab Bambang singkat.

Lagipula KPK masih bisa mendapatkan keterangan dari tersangka lainnya. Dan kebetulan tersangka lainnya itu mulai kooperatif dalam pemeriksaan.

“Sebagian besar sudah mulai membuka,” tandasnya.

Ingin Buktikan MK Bisa Disuap

Bupati Hambit Bintih ikut ditangkap KPK dalam upaya suap kepada Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) dalam perkara Pilkada Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Upaya suap itu diduga salah satunya untuk menguji apakah ketua MK bisa disuap.

“Hambit ingin membuktikan apakah betul persidangan di MK bisa diatur. Dari berbagai faktor yang disampaikan oknum politisi yang dekat dengan AM (Akil Mochtar), ternyata peluang itu ada,” kata Wasekjen PDIP Hasto Kristianto dalam pesan singkat, Kamis (3/10/2013).

Menurutnya, dalam upaya penyelesaian sengketa Pilkada Gunung Mas oleh lawan politiknya di Mahkamah Konstitusi, Hambit memang ditetapkan menang oleh KPU. Namun tetap khawatir sekiranya putusan MK bisa disuap.

“Namun dalam suasana sekarang, lebih-lebih di Kalteng di mana ada preseden buruk yang juga melibatkan Akil Mochtar yakni di Kota Waringin Barat, di mana yang menang pun bisa dikalahkan,” tuturnya.

“Atas dasar hal tersebut maka menjadi pemenang dengan selisih 12% bukan jaminan di MK,” imbuhnya.

Secara kebetulan ada pihak yang ternyata bagian dari mafia pengadilan di MK datang menemui Bupati Gunung Mas, dan ternyata mempertemukan dengan Akil Mochtar.

“Maka Bupati itu pada dasarnya adalah korban mafia peradilaan MK,” ucap Hasto.

Petugas KPK Tidak Tidur

Sejumlah petugas mengikuti pergerakan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar sejak Rabu pagi, 2 Oktober 2013. Mereka juga mengawasi Bupati Gunung Mas, Kalimantan Tengah, Hambit Bintih, yang diduga menyiapkan suap untuk mantan politikus Partai Golkar itu.

Setelah menangkap Akil di rumah dinas Ketua MK, Jalan Widya Chandra III Nomor 7, Jakarta Selatan, petugas masih belum bisa tidur. Mereka terus meminta keterangan Akil, yang memimpin Mahkamah Konstitusi sejak Maret 2013, hingga Kamis pagi ini. “Sudah hampir dua hari saya tidak tidur,” kata seorang petugas.

Sesuai Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, status Akil akan ditetapkan maksimal 24 jam setelah ia ditangkap atau Kamis, 3 Oktober 2013 malam ini.

Juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi, Johan Budi SP, mengatakan Akil ditangkap bersama barang bukti berupa uang dolar Singapura. “Perkiraan sementara setelah dihitung secara akurat kalau dirupiahkan sekitar Rp 2-3 miliar,” katanya dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Kamis, 3 Oktober 2013.

Menurut Johan, uang itu diduga berkaitan dengan penyelelesaian sengketa pemilihan kepala daerah Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, yang tengah disidangkan di Mahkamah Konstitusi (*)

sumber: detikcom, metro tv dan Tempo.co


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya