HTTP Status[404] Errno [0]

Mengapa Santoso Baru pi Tertembak ?

20 July 2016 23:21
Mengapa Santoso Baru pi Tertembak ?
Mayat Santoso (kiri) dan Santoso semasa hidup (kanan)
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com
Mayat Santoso (kiri) dan Santoso semasa hidup (kanan)

Mayat Santoso (kiri) dan Santoso semasa hidup (kanan)

BugisPos – Ada cerita menarik di balik tertembaknya Santoso. Bahkan ada yang menuding bila selama Santoso memang sengaja diulur-ulur kematiannya karena ada sesuatu di balik itu. Namun benar atau tidaknya tudingan itu wallahu alam tak ada bukti yang bisa dipercaya untuk memperkuat tudingan itu.

Anggota Komisi III DPR RI, Sarifuddin Sudding sendiri mengungkapkan bahwa terbunuhnya dalang teroris Santoso dalam operasi Tinombala menimbulkan banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh Kapolri, Jenderal Pol. Tito Karnavian.

“Saya kira banyak pertanyaan muncul, kenapa baru sekarang Santoso bisa ditembak, kenapa tidak dari dulu? Termasuk masyarakat Poso kenapa berlarut-larut, padahal hanya di Kabupaten Poso,” ungkap Sudding

Ia mengungkapkan bahwa beberapa dari pertanyaan yang muncul adalah perbedaan jumlah personil gabungan TNI dan Polri yang tidak seimbang dengan kelompok Santoso yang hanya berjumlah 21 orang.

Detik-detik Santoso Didor

Pemimpin kelompok teror Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso tewas dalam kontak tembak Senin lalu (18/7) di Poso. Berikut kronologis kejadian berdasar informasi yang dihimpun Radar Sulteng (Jawa Pos Group).

Senin (18/7) Tim Alfa 29 dari Satuan Tugas (Satgas) Yonif 515 Brigif 9 Devisi Infantri 2 Jember melakukan patroli rutin di Desa Kilotrans dan Tambarana Kecamatan Poso Pesisir Utara (PPU).

Sekitar pukul, 16.00-16.30 wita, tim Alfa 29 membagi tiga titik sasaran penyergapan setelah melihat jejak seseorang yang mencurigakan di kebun warga. Empat personel TNI lainnya melakukan patroli dan melihat  sebuah dua buah gubuk di kebun.

Pada gubuk kedua tim Alfa lainnya, melihat orang tidak dikenal (OTK) mengambil sayur dan ubi untuk menutupi jejak dari kecurigaan aparat.

Sedangkan tim Alfa lainnya, melihat ada OTK lainnya menuju ke sungai. Dari jarak sekitar 20-30 meter, terlihat 3 orang tidak dikenal menyeberangi sungai dan langsung menghilang.

Karena kehilangan jejak, tim Alfa 29 yang semula berpecar dari tiga titik sasaran penyergapan kembali bergabung dan melakukan patroli dengan cara pendekatan secara senyap ke lokasi menghilangnya OTK tersebut.

Sekitar pukul 17.00 wita, setelah tim Alfa mendekati OTK, terlihat para OTK Â yang berjumlah 5 orang sedang duduk dan kemudian terjadi kontak tembak sekitar 30 menit. Tim Alfa yang jumlahnya tidak disebutkan itu, usai baku tembak langsung melakukan penyisiran di lokasi baku tembak.

Hasilnya, dua OTK ditemukan sudah tidak bernyawa dengan cirri-ciri, satu OTK berambut panjang, berjenggot, dan bertahi lalat di dahi. Sedangkan satu OTK lainnya tidak bisa dikenali cirri-cirinya karena sasaran tembak mengenai kepalanya.

Ada 3 OTK lainnya yang lolos dari penyergapan tim Alfa Satgas Yonif 515 Brigif 9 Devisi Infantri 2 Jember. Dua perempuan dan satu laki-laki. Â Untuk dua perempuan melarikan diri kea rah barat dari lokasi penyergapan pertama.

Yang perempuan satu menggunakan kerudung bercadar dan satunya tidak memakai baju atau telanjang dengan membawa kabur satu pucuk senjata M16. Ada dugaan, satu perempuan yang telanjang habis mandi di sungai dan tidak sempat mengenakan pakaiannya.

Untuk yang laki-laki satunya melarikan diri ke arah selatan dari lokasi kontak tembak pertama. Tiga OTK yang kabur berpencar sehingga tim Alfa membagi personel.

Yang empat orang mengamankan lokasi baku tembak sambil menunggu bantuan tim evakuasi dari aparat gabungan. Sementara yang lima personel TNI lainnya terus melakukan  pengejaran.

Dipantau dari Pesawat Tanpa Awak

Sebelum Santoso cs disergap, ternyata gerak gerik Santoso terpantau melalui pesawat tanpa awak dioperasikan Skuadron Udara 51 pangkalan udara (Lanud) Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat.

“Ya, di skuadron 51 memang punya pesawat UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Ini adalah pesawat tanpa awak, yang bisa dikontrol dari darat. Tidak ada pilot di dalam pesawat,” kata Komandan Lanud Supadio Pontianak, Marsekal Pertama Tatang Harlyansyah, di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (20/7).

Diterangkan Tatang, pesawat UAV mampu terbang selama 14 jam. Pesawat itu juga mampu memantau lebih lama di udara, dengan areal pemantauan hingga radius 200 kilometer.

“Ini menjadi kelebihan pesawat tanpa awak ya. Karena kalau pesawat berawak pilot, maksimal mampu memantau dari udara selama 8 jam. Nah, itu pun kalau pilotnya mampu berada di udara selama itu (8 jam),” ungkapnya.

Pesawat UAV, lanjut Tatang, dilengkapi peralatan berteknologi canggih, seperti video roll yang mampu menampilkan gambar video secara real time. Selain itu, juga dilengkapi sinar infra merah, sehingga dapat dilacak keberadaannya dalam kondisi apapun. Selain itu, pesawat UAV juga kerap digunakan untuk pemantauan kebakaran hutan Kalimantan Barat.

“Kita dilibatkan dalam Satgas Tinombala, salah satunya skuadron 51 yang ikut memantau pergerakan Santoso,” sebutnya.

“Data yang disampaikan dari pemantauan udara ini, secara akurat ditindaklanjuti pasukan di darat. Sehingga mengetahui keberadaan Santoso,” terangnya.

Skuadron pesawat tempur tanpa awak ini dioperasionalkan oleh Lanud Supadio Pontianak, dan diberi nama skuadron udara 51 Wing 7. Peresmiannya sendiri dilakukan pada 13 Juli 2015 lalu di pangkalan udara Supadio Pontianak.

Ali Kalora Peneurus Santoso

Kabar tewasnya gembong teroris paling dicari, Abu Wardah alias Santoso, sudah menyebar ke pelosok nusantara. Santoso dan satu anak buahnya yang disebut-sebut bernama Mukhtar tewas dalam baku tembak dengan pasukan Yonif 515 rider Kostrad di Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Senin (18/7). Tiga anggota kelompok Santoso berhasil melarikan diri.

Pemerintah meyakini, dengan tewasnya Santoso, ruang gerak anak buahnya semakin sempit. Apalagi mereka telah kehilangan pemimpinnya. Namun bagi polisi, tewasnya Santoso tidak serta merta membuat tim Satgas Tinombala bernapas lega. Sebab, muncul nama Ali Kalora yang disebut-sebut pemimpin kelompok pecahan Santoso.

Dia memiliki 16 orang pengikut yang saat ini masih terus diburu tim satgas Tinombala. Belum lagi, tangan kanan Santoso yakni Basri, berhasil meloloskan diri dari baku tembak.

“Masih ada Basri, masih ada beberapa, Ali Kalora,” ujar Jenderal Tito di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (19/7).

Ali Kalora salah satu pengikut setia Santoso. Nama Kalora merupakan sebutan untuk Ali karena lahir Desa Kalora, Kecamatan Poso Pesisir Utara, sekitar 40 kilometer utara Kota Poso.

Ali Kalora sudah lima tahun terakhir bergabung dengan jaringan Muhajidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso. Dia mengikuti pelatihan militer bersama anak buah Santoso lainnya. Sepak terjang Ali Kalora cukup mengejutkan. Dia terlibat dalam peristiwa penembakan polisi di pos polisi, Jalan Emi Saelan, tepatnya di depan Kantor BCA Palu.

“Ali salah satu tangan kanan Santoso. Orang asli (Kalora). Sudah lama dia sana (mengikuti Santoso), sudah mulai sejak Santoso melakukan teror tahun 2011,” kata Karo Ops Polda Sulteng Kombes Pol Herry Nahak ketika dihubungi merdeka.com, Selasa (19/7).

Selama melarikan diri dan masuk ke dalam hutan, Santoso ditemani istri keduanya, Umi Delima. Ali Kalora juga menyertakan istrinya dalam pelariannya. Kelompok pimpinan Ali Kalora terpisah dengan kelompok yang dikomandoi Santoso. Namun mereka masih satu kesatuan jaringan. Kemampuan mereka hampir sama dengan kelompok Santoso. Salah satunya kemampuan menguasai wilayah hutan dan sesekali turun gunung dan menebar teror.

“Ada belasan orang, 14 orang dan mereka ini anak buahnya Santoso. Kemampuan di hutan sih sama. Sudah bertahun-tahun di situ kan,” tegasnya.

Tewasnya Santoso tidak membuat kelompok ini ciut. Mereka akan terus bertahan dan melanjutkan aksi menebar teror.

“Ancaman saya kira sama dengan Santoso. Ideologi sama dan ancaman kurang lebih sama, paling serius turun ke kampung buat teror. Yang buat takut kan karena todong senjata. Ancaman paling dekat mungkin itu, tapi dengan ketiadaan pemimpin seperti ini ya kita harap bisa lebih mudah,” katanya.

Jaringan terorisme di Indonesia seolah tak ada habisnya. Meski sejumlah nama gembong teroris sudah tewas di tangan polisi, selalu muncul nama baru yang melanjutkan aksi mereka. Tewasnya dr Azari, Nurdin M Top, Dul Matin, hingga Santoso, tidak serta merta memutus regenerasi jaringan kelompok teroris.

Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai mengatakan, sepanjang gerakan radikalisme tumbuh subur di Indonesia, sejauh itu pula gerakan terorisme tetap ada. Pergerakan terorisme tidak bisa hilang sama sekali jika radikalisme yang mengatasnamakan agama terus menguat.

“Untuk hilang sama sekali belum. Waktunya masih lama. Selama paham radikalisme muncul, maka potensi terorisme ada,” kata Ansyaad ketika berbincang dengan merdeka.com.

Soal kemunculan Ali Kalora sebagai pemimpin baru jaringan Santoso, Ansyaad belum menganalisanya. “Itu kan dari media yang muncul. Muncul analisis baru,” tutupnya (*)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya