HTTP Status[404] Errno [0]

Perhatian ki Media Asing Soal Kasus Jessica

29 July 2016 22:56
Perhatian ki Media Asing Soal Kasus Jessica
Jessica Kumala Wongso
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

BugisPos — Belum ada tayangan CCTV menunjukkan Jessica Kumala Wongso terlihat meracuni Wayan Mirna Solihin dan belum ada satu orang pun saksi mata melihat meracuni Wayan Mirna Solihin, kini ramai di perdebatkan di media sosial seperti Facebook dan Twitter.

Bahkan saat persidangan ke dua di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Kamis (28/7/2016) itu juga menjadi perhatian media asing seperti media Inggris Daily Mail dan news.com.au dari Australia seperti dilansir Warta Nasional.

“Persidangan Jessica disiarkan langsung di stasiun tv, saat saya tonton semuanya dari awal sampai akhir tak satu terlihat ada tontonan CCTV dan pengakuan semua saksi yang menyebut pelakunya Jessica. Ini mah, kasus rekayasa polisi, ujar Herman di Grup Facebook Teman Ahok.

Sedangkan Ketua tim pengacara Jessica Kumala Wongso, Otto Hasibuan, mengatakan sorotan dunia dan ramainya perhatian masyarakat atas kasus kematian Mirna (Wayan Mirna Salihin) itu karena Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti terlalu terburu-buru menetapkan Jesica (Jessica Kumala Wongso) sebagai tersangka.

“Keganjilan itu saat Rangga bercerita kepada dokter psikiater, bahwa dirinya didatangi seseorang yang mengaku polisi‎ dan dituding menerima uang Rp 140 juta untuk membunuh Mirna,” tutur Otto.

Atas dasar keganjilan itu, Otto berpendapat, seharusnya polisi menggali pernyataan Rangga, Polisi harusnya menyita buku rekening. Bukan malah terus menggali fakta-fakta yang mengarah ke Jessica, ujar Otto, Kamis (28/7/2016).

Selain itu kata Otto, dalam isi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang diserahkan jaksa terungkap tidak ada laporan otopsi organ korban Wayan Mirna Salihi yang terkontaminasi sianida.

“‎Tidak ada pemeriksaan tentang sianida yang berasal dari tubuh korban. Yang diperiksa hanya gelas‎,” Otto.

Kata Otto, kan kalau orang mati mestinya diperiksa organnya. Di BAP tidak ada pemeriksaan sianida dalam tubuh‎, sambung Otto.

Atas dasar itu, Otto menilai tuntutan jaksa yang mengatakan Mirna tewas akibat keracunan sianida adalah salah besar.

Otto mempertanyakan kenapa tidak adanya pemeriksaan sidik jari pada barang bukti (BB) dalam kasus meninggalnya Wayan Mirna Salihin. “Kalau memang curiga pada Jessica, kenapa tidak memeriksa sidik jari?” ujar.

Menurut Otto, ketiadaan sidik jari justru akan memperkuat fakta bahwa tidak ada barang bukti yang cukup kuat untuk memberatkan Jessica. Padahal, cukup banyak benda yang bisa diperiksa sidik jarinya jika memang jaksa meyakini Jessica-lah yang memasukkan racun sianida di minuman Mirna.

“Ketidakcocokan antara yang tercantum di BAP dengan keterangan saksi sudah ketahuan.  Di BAP disebutkan, telah disita dua gelas dan satu botol. Namun, barang bukti yang dibawa ke Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri hanya dua botol dan satu gelas.

“Barang ini dari mana? Apa pindah-pindah. Tidak orisinal lagi?”. Di BAP juga dinyatakan barang bukti disegel, tetapi ternyata sudah dibuka di luar, bukan di depan hakim, tambahnya (*)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya