HTTP Status[404] Errno [0]

IN MEMORIAM Tarman Azzam

13 September 2016 02:23
IN MEMORIAM Tarman Azzam
Oleh : H.Syamsu Nur
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

BugisPos — Ketika saya Ketua PWI Sulsel, Tarman Azzam Ketua PWI Pusat. Saya pernah mengajaknya Tour Sulsel bersama para Pemimpin Redaksi. Setiap tiba di ibu kota kabupaten, Tarman diberi kesempatan berpidato di depan Muspida dan anggota DPRD. Temanya adalah bagaimana membangun senergi pemerintah dan pers.

Pengalamannya selama bertahun-tahun menjadi kordinator wartawan Istana di era Presiden Soeharto, membuat dia mengerti betul tema itu. Dia banyak memberi contoh tokoh pemimpin nasional dan dunia dalam memanfaatkan wartawan. Pidatonya memang bersemangat dan tidak membosankan.

Karena itu ada bupati yang mengundangnya datang ke dua kalinya. Saya termasuk punya hubungan yang akrab, namun pada akhir masa jabatan saya, dia sedikit kecewa kepada saya karena saya tidak bersedia lagi mencalonkan diri sebagai Ketua PWI. Tapi dua kali PWI pusat melakukan kunjungan ke luar negeri, saya diikut sertakan.

Pertama, ketika menghadiri ulangtahun Persatuan Wartawan Cina di Beijing. Acaranya di gedung Parlemen Rakyat Cina di depan lapangan Tianamen. Di situ tergambar bagaimana kebersamaan antara wartawan muda dan wartawan senior Cina yang akrab dan saling menghargai. Tarman mengomentarinya ” itulah kekuatan jurnalistik Cina.” Yang kedua, ketika melakukan kunjungan balasan wartawan Malaysia di Kuala Lumpur. PWI diminta ikut meredakan pemberitaan yang saat itu sedang panas karena adanya pembantu rumah tangga dari Indonesia yang meninggal dunia. Sampai- sampai ada istilah “ganyang malaysia” lagi. Tarman berpidato dalam pertemuan wartawan Malaysia yang dihadiri menteri penerangan Malaysia. Dengan suara lantang Tarman menyesali adanya pembantu rumah tangga Indonesia yang meninggal karena perlakuan tak wajar. Tapi diakhir sambutannya setelah melampiaskan kekecewaannya, dia mengatakan bahwa Indonesia dan Malaysia adalah bangsa serumpun, sangat mungkin dengan semangat serumpun kita menyelesaikan persoalan itu dengan baik. Dia kemudian menyanyikan lagu ” semalam di Malaysia” yang mendapat aplaus panjang.

Dengan gaya yang memikat, saya pernah bergurau padanya, sebenarnya pak Tarman sangat cocok jadi politisi. Tempat di DPR bisa sangat efektif. Apalagi Tarman sangat akrab dengan Surya Paloh. Ketika Surya Paloh bikin partai, saya sangat menduga Tarman duduk salah satu ketua di Partai Nasdem. Ternyata tidak, Tarman tetap memilih jadi Pemred Harian Terbit dan menjadi penasehat di PWI Pusat. Kesetiaanya kepada dunia kewartawanan sangat luar biasa.

Ternyata Urusan PWI dan HPN yang menyebabkannya mengunjungi Ambon, untuk persiapan Hari Pers 2017, dan ternyata di situlah dia mengakhiri hidupnya. Jatuh di kamar mandi dan serangan jantung membuatnya menghembuskan nafas terakhirnya. Inna Lillahi wainna Ilaihi Rajiun. Kini Tarman Azzam sudah tiada. Ya Tuhan, sambutlah kedatangannya, semoga Tuhan menerima arwah Tarman disisiNya ***


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya