HTTP Status[404] Errno [0]

Sayembara Beli Belalang di Ketapang

26 September 2016 23:38
Sayembara Beli Belalang di Ketapang
Belalang. Ilustrasi
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

BugisPos — Â Hama belalang yang menyerang lahan pertanian di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Hingga saat ini belum ada solusi konkret untuk mengatasinya. Wacana sayembara Beli Belalang kembali mencuat. Hanya cara ini yang dianggap ampuh, menekan populasi belalang yang terus bertambah di ‘Negeri Bertuah’.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ketapang, Akhmad Humaidi mengatakan, populasi hama belalang terus bertambah.

Bahkan belalang yang dulunya hanya ditemukan di daerah pedalaman, kini sudah mulai menyebar di daerah pesisir. Ini menandakan hama belalang tersebut sudah menyebar dan berkembang biak ke mana-mana. Apalagi didukung ketersediaan makanan.

Selama masih ada persediaan makan dan tempat untuk bertelur, maka keberadaan belalang akan terus bertambah.

“Termasuk di daerah pesisir. Sekarang sudah menjadi daerah endemis perkembangbiakannya,” ujar Akhmad Humaidi, seperti diberitakan Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group).

Menurutnya, bertambahnya populasi hama belalang tidak dibarengi dengan penanggulangan yang memadai.

Sejuah ini, pengendalian dilakukan hanya ketika belalang menyerang tanaman padi atau tanaman pangan lainnya. Kondisi itu semakin diperpapah, karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk mencegah serangan hama.

Dinas Pertanian dan Peternakan Ketapang mewacanakan untuk kembali menggelar sayembara ‘Beli Belalang’.

Setiap ekor belalang yang ditangkap masyarakat akan ditimbang dan dibayar. Cara ini diyakini cukup ampuh untuk menekan jumlah belalang.

Seperti serangan hama belalang di era 1990-an. Masyarakat terdorong menangkap dan menjual belalang tersebut.

Humaidi berpendapat, saat ini cara yang tepat untuk menekan hama hanya dengan cara membeli belalang dari masyarakat.

Kalau belalang dihargai dengan uang, semua masyarakat akan bergerak dan berlomba-lomba menangkapnya. “Pada tahun 90-an, ada 24 ton belalang yang kami beli dari masyarakat,” jelasnya.

Hanya saja, kata Humaidi, wacana tersebut harus dikaji dan dipertimbangkan lagi. Diantaranya, sumber pendanaan yang akan dipergunakan untuk membeli belalang. Termasuk laporan penggunaan dana tanggap darurat.

“Uangnya sudah ada. Tapi hama belalang ini belum dianggap sebagai bencana besar. Sebenarnya anggapan itu salah,” cetusnya.

Di sektor pertanian, Humaidi mengatakan, hama belalang adalah bencana besar yang harus segera ditangani dan direspon cepat. Jika tidak, maka akan berdampak pada produksi pangan.

Mulai dari gagal panen hingga trauma masyarakat untuk kembali menanam, karena rasa takut.

“Kalau cuma gagal panen, masih bisa panen lagi. Tapi kalau sudah trauma untuk tanam, itu masalah besar,” tegas Humaidi.

Himaidi mengaku permasalahan ini sudah disampaikan kepada Pemprov Kalbar maupun pemerintah pusat. “Bantuan dari pusat sudah ada, tapi masih sebatas pestisida dan alat,” bebernya.

Dia berharap ada bantuan operasional juga. Saat ini instansinya terganjal dana. Pengendalian tidak hanya cukup sekali, namun harus berkelanjutan.

“Tentunya itu memerlukan operasional yang tidak sedikit,” ungkapny (*)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya