HTTP Status[404] Errno [0]

Kegiatan Tanpa Perencanaan itu Haram Boss

27 October 2016 03:01
Kegiatan Tanpa Perencanaan itu Haram Boss
Jufri Rahman
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

BugisPos —Â Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sulawesi Selatan Jufri Rahman menegaskan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) tanpa perencanaan adalah haram.
“SKPD wajib menghindari kegiatan `haram` yaitu kegiatan yang tiba-tiba muncul tanpa direncanakan sebelumnya,” tegas Jufri di sela-sela Focus Group Discussion (FGD) Konsistensi Penganggaran Terhadap Dokumen Perencanaan Dalam Rangka Menghadapi Audit Kinerja, di Makassar, Selasa 25/10/16
Menurut Jufri, setelah meraih predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) enam kali berturut-turut dari BPK RI, kini audit yang dilakukan di Sulsel semakin rumit, dan dilakukan sejak tahap perencanaan.

“Mulai dari dasar mengeluarkan uang akan diperiksa, sehingga harus ada kesesuaian perencanaan dan penganggaran,” ujarnya.

Untuk menghindari adanya ketidaksesuaian perencanaan dan penganggaran, lanjut Jufri, maka Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) setelah menyampaikan pagu anggaran masing-masing SKPD, mereka menyusun RKA, maka diminta setiap SKPD mempresentasikan RKA di TAPD.

“Tujuannya, agar jangan bolak-balik. Sehingga, pada tahapan verifikasi dan asistensi, itu semua lebih mudah dan lancar,” jelas dia.

Jufri juga mengungkapkan sering ditemukan SKPD yang dalam menentukan target kinerja, output dan outcome saja sudah kesulitan.

Ia mencontohan, nama kegiatan sosialisasi, namun outputnya ditulis meningkatnya pemahaman peserta sosialisasi.

“Meskipun kedengarannya cocok, tapi kalau di output itu harus terukur,” kritiknya.

Yang benar itu, lanjutnya, jika sosialisasi dilaksanakan, outputnya jumlah yang ikut sosialisasi, maka satuannya adalah orang.

“Outcomesnya, adalah meningkatnya pemahaman peserta sosialisasi,” tambahnya.

Outcomes tersebut, ujarnya, juga harus terukur, itulah sebabnya, sebelum sosialisasi dilakukan pretest.

“Pertanyaannya dirilis kepada peserta, mereka jawab. Kita lihat berapa capaiannya. Setelah sosialisasi untuk persoalan tertentu, kembali pertanyaan yang sama diajukan ke peserta. Kalau sebelumnya capaiannya rata-rata 70, kemudian setelah sosialisasi menjadi 90, artinya hasil sosialisasi meningkat kemampuannya 20 persen. Itu contoh kecil,” katanya. ant


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya