HTTP Status[404] Errno [0]

Korupsi, Ketua LSM Yasindo Ditangkap Kejari Maros

24 November 2016 02:51
Korupsi, Ketua LSM Yasindo Ditangkap Kejari Maros
Kepala Seksi Intelijen Kejari Maros Hari Surahman memperlihatkan foto Ketua tim pemenangan calon Gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono - Sylvia Murni di Kebayoran Lama, Salahuddin Alam setelah DPO 12 Tahun. tribun
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com
Kepala Seksi Intelijen Kejari Maros Hari Surahman memperlihatkan foto Ketua tim pemenangan calon Gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono - Sylvia Murni di Kebayoran Lama, Salahuddin Alam setelah DPO 12 Tahun. tribun

Kepala Seksi Intelijen Kejari Maros Hari Surahman memperlihatkan foto Ketua tim pemenangan calon Gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono – Sylvia Murni di Kebayoran Lama, Salahuddin Alam setelah DPO 12 Tahun. tribun

BugisPos — Ketua tim pemenangan calon Gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudoyono – Sylvia Murni di Kebayoran Lama, Salahuddin Alam dibekuk oleh tim Intelijen Kejaksaan Negeri (Kejari) Maros, Senin (21/11/2016) malam.

Dilansir tribun-timur.com, penangkapan Ketua LSM Yasindo tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel) Kejari Maros, Hari Surahman dibantu oleh Komandan Regu (Danru I) Satuan Sabhara Polres Maros, Aiptu Akbar.

Hari Surahman mengatakan, Selasa (22/11/2016) Salahuddin dibekuk setelah makan malam bersama Raja Gowa, Maddusila di sebuah rumah makan, bakso lapangan tembak Senayan, pukul 20.00 WIB.

“Kami baru tangkap setelah 12 tahun ditetapkan sebagai DPO. Dia melarikan diri setelah divonis 6 tahun penjara denda Rp 1, 6 miliar oleh majelis Hakim tahun 2004 lalu. Salahuddin ini menjadi salah satu ketua tim pemenangan Cagub DKI,” ujarnya.

Salahuddin ditangkap saat sudah berpisah dengan Maddusila. Dia juga sudah membayar di kasir. Namun Salahuddin tidak menyadari jika sudah diintai sejak Jumat pekan lalu. Bahkan saat membayar di kasir, tim berada di belakangnya.

“Kami tangkap saat sudah melambaikan tangan ke Maddusila. Saat itu kami langsung menahannya dan mengatakan kami dari Intel Kejari dan Polres Maros. Dia tidak melakukan perlawanan. Kami ikuti terus sampai di rumah tim pemenangannya,” ujarnya.

Intel mengintai Salahuddin sampai di rumah tim pemenangannya. Namun tim tidak mau menangkapnya, karena menakutkan diduga berkaitan dengan Pilkada. Hari lalu mencari tempat yang aman untuk dilakukan penangkapan.

Setelah dibekuk, tim Intel lalu berangkat ke Bandara Soekarno- Hatta Jakarta untuk berangkat ke Maros. Namun mereka baru berangkat saat pukul 11.00 WIB dan sampai sekitar 2.00 wita. Saat tiba di Bandara Hasanuddin Makassar, Hari dan rombongan dijemput tim Kejari Maros lainnya. Tervonis langsung dinaikkan ke mobil lalu digiring ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Maros.

Tim Sukses

Penangkapan Salahuddin ditanggapi beragam oleh sejumlah aktivis di Makassar. Sebagian aktivis yang juga sahabat seperjuangan Salahuddin di Universitas Hasanuddin (Unhas) era 1987 hingga awal 2000 curiga pada penangkapan itu.

Mereka tidak sepakat Salahuddin disebut buronan dan bersembunyi. Mereka hanya menyebut, Salahuddin memang sengaja dibiarkan dan menunggu momen yang tepat untuk menangkapnya.

“Setahu saya, Kak Sala’ (Salahuddin) tidak pernah melarikan diri, apalagi sembunyi. Selama ini dia berada di Jakarta dan seperti biasa, selalu bertemu teman-teman setiap kali ke Jakarta,” kata sahabat Salahuddin, Ostaf Al Mustafa di Makassar.

Ostaf yang juga Ketua Komite Perlindungan Jurnalis dan Kebebasan Berekspresi curiga karena Salahuddin ditangkap saat situasi Jakarta makin memanas.

“Situasi Jakarta makin keras, kasus Salahuddin Alam pasti terkait Pilkada DKI. Jika memang penangkapan Salahuddin itu murni untuk penegakan hukum, dan jika memang penegakan hukum bisa dipercaya, mengapa penjahat BLBI masih bebas menentukan arah kuasa di DKI dan Indonesia secara keseluruhan,” jelas Ostaf.

Menurut alumnus Jurusan Komunikasi Fisipol Unhas itu, yang ikut aksi 411 sudah ditarget, cuma agar lebih kuat harus dihubungkan dengan kasus yang telah lewat.

Apalagi, kasus yang menjerat Salahuddin, Kredit Usaha Tani (KUT), dicurigai sejak awal memang proyek untuk melumpuhkan dan menjerat aktivis. Salahuddin dikenal aktivis sejak 1987 hingga 2002. Dia pernah mendirikan Partai Solidaritas Dilarang Takut (SDT) di Unhas dan mencalonkan diri sebagai Ketua Senat Mahasiswa Unhas (SMUH).

Setelah menyelesaikan pendidikan di Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra Unhas, Salahuddin aktif di LSM dan mendirikan Yayasan Samudera Indonesia (Yasindo) bersama sejumlah pentolan aktivis mahasiswa.

Salahuddin juga berperan aktif dalam kelahiran Makassar Fotball Schooll (MFS) bersama Diza Rasyid Ali, 2000, yang melahirkan sejumlah pemain andal nasional seperti Syamsul Bachri Chaeruddin dan Abanda.

Dia juga menginisiasi lahirnya Makassar Trotoar Musik (MTM) yang menghimpun anak-anak jalanan di Pantai Losari dan sekitarnya. KUT disalurkan oleh Menteri Koperasi Adi Sasono (23 Mei 1998-20 Oktober 1999). Penyaluran dana triliunan ini “menjadi sorga” bagi aktivis.

Ada anggapan, dana itu memang sengaja dikucurkan dengan syarat mendapatkannya tidak ribet untuk “membalas jasa” aktivis “menggulingkan” Orde Baru.

Syarat yang muda untuk mendapatkan kucuran dana itu menjadi jebakan. Dana yang diserahkan ke aktivis lewat LSM itu kemudian dibagikan ke petani sebagai modal pinjaman. Sebanyak 32 LSM dan 2.300 koperasi di Sulsel menunggak pengembalian dana KUT, termasuk Yasindo yang dipimpin Salahuddin.

Salahuddin menolak dikatakan menunggak KUT. Menurutnya, pelunasan KUT terhambat karena kondisi alam seperti puso, gagal panen, dan produksi gabah yang melimpah sehingga harga anjlok.

Beberapa aktivis yang divonis bersalah dan dipenjara. Sebagian hanya dipidana penjara 8 bulan. Beberapa di antara mantan terpidana KUT itu di Sulsel kini sudah menjadi pejabat negara dan anggota legislator.

“KUT hanya untuk.menjerat aktivis LSM. Negara dan aparat hukum telah berlaku diskriminatif, berapa banyak pelaku korupsi dan pencuri uang negara yang tak bisa ditangkap atau hanya dihukum sekedarnya saja. Bila ada aktivis LSM sedikit saja berbuat langsung ditarget,” jelas Ostaf.

Menurut Ostaf, Salahuddin dicarikan momentumnya karena berada pada sebuah kekuatan yang langsung berhadapan dengan petahana yang bermasalah sebagai penista agama.

“Penggembosan kekuatan Agus-Sylvi tak berhasil ketika dihubungkan dengan FPI, makanya target berpindah ke Salahuddin,” kata Agus. Saat jumpa pers di Maros, Hari menyebut Salahuddin salah satu ketua tim pemenangan kandidat di Pilgub DKI Jakarta (*)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya