HTTP Status[404] Errno [0]

Staf Intel Kejati Sulselbar Peras Pengusaha Panti Pijat

30 December 2016 03:34
Staf Intel Kejati Sulselbar Peras Pengusaha Panti Pijat
Asisten Pengawas Kejati Sulselbar Heri Jerman
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com
Asisten Pengawas Kejati Sulselbar Heri Jerman

Asisten Pengawas Kejati Sulselbar Heri Jerman

BugisPos — Â Mengakhiri perjalanan tahun 2016, Kejaksaan Tinggi Sulselbar merilis hasil kinerja selama tahun 2016. Dari hasil rilis kinerja tersebut ada yang mengejutkan, yakni adanya staf intel Kejati Sulselbar yang memeras pengusaha panti pijat dan pengusaha hiburan di Makassar.

Ini diungkapkan Asisten Pengawas (Aswas) Kejati Sulselbar Heri Jerman. Dia mengatakan ada 2 staf intel terbukti melakukan pemerasan terhadap pengusaha hiburan malam dan panti pijat di Makassar.

“Pelakunya staf intelejen. Dia seperti menyelam minum air. Karena saat itu dia mendapatkan surat perintah untuk mendata, tapi dua orang ini menyalahgunakan surat penrintah itu untuk meminta uang,” ungkapnya kepada sejumlah wartawan saat Press Gathering di kantor Kejati Sulselbar, Kamis 29 Desember 2016.

Heri mengaku dua staf intelejen Kejati Sulselbar tersebut memeras pengusaha panti pijat dan hiburan malam dengan jumlah yang variatif. ” Jumlahnya sedikit kok, karena mereka meminta Rp100-200 ribu. Tapi dikalikan 60 usaha yang ada di Makassar,” bebernya. Terbongkarnya pemerasan tersebut, lanjut dia, setelah adanya laporan dari pengusaha yang mengeluhkan adanya pungutan saat pendataan pengusaha panti pijat dan hiburan malam.

“Akibat perbuatan dua staf itu, kami mengingatkan Asintel untuk mengawasi stafnya agar kejadian tersebut tidak terjadi lagi,” tegasnya. Akibat hal tersebut, dua pegawai ini mendapatkan sanksi penurunan jabatan dan penundaan kenaikan kepangkatan selama 3 tahun.

Selain dua staf intel Kejati Sulselbar, ternyata ada juga oknum jaksa yang meminta uang kepada pejabat di kabupaten Polewali Mandar (Polman). “Tidak ada kasus yang dia tangani, tetapi dia meminta uang kepada sejumlah pejabat di Polman. Meskipun jumlahnya yang digembar-gemborkan tidak sebesar Rp 750juta, tapi hanya Rp 50juta,” ungkapnya lagi.

Berdasarkan data, Aswas Kejati Sulselbar telah memberikan sanksi pemecatan kepada 2 pegawai yakni Hj Rahmatia dan Lastiyan Rahman. “Yang 1 sudah Inkracht atas nama Lastiyan Rahman karena dia tidak menggugat. Tapi yang 1 lagi atas nama Hj Rahmatia masih mengajukan banding,” paparnya (*)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya