HTTP Status[404] Errno [0]

Kepiting Bugis dan Panjat Pinang

07 October 2017 06:53
Kepiting Bugis dan Panjat Pinang
Oleh : Usdar Nawawi
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

BugisPos —Kepiting bugis, adalah istilah yang dilontarkan seorang mantan Walikota Makassar kepada pengurus sebuah organisasi pemuda. Sang mantan Walikota ini minta, agar janganlah kita membudayakan gaya Kepiting Bugis. Ketika sejumlah kepiting ditaruh dalam baskom, mereka berlomba merayap naik ke tepi baskom. Tetapi siapa yang duluan tiba di atas, berlomba pula ditarik turun ke bawah oleh yang lain. Begitu seterusnya, mereka lebih suka saling menarik ke bawah daripada saling menarik ke atas.

Anekdot diatas, sebetulnya sama saja dengan istilah Budaya Panjat Pinang. Setiap acara Agustusan, lomba panjat pinang senantiasa digelar dimana-mana, mulai dari lorong-lorong kumuh di tengah kota, hingga di alun-alun pelosok kampung. Caranya pun selalu menggelikan. Di ujung atas pohon pinang, digantung segala rupa hadiah, mulai dari sapu sampai TV berwarna. Bahkan ada yang berani menggantung hadiah sepeda motor segala. Yang berani pasang hadiah mahal seperti ini, boleh jadi dia bandar togel atau agen kupon putih. Untuk menjangkau sejumlah hadiah itu, peserta mesti merayap naik lewat pohon pinang yang dilumuri oli bekas. Warna dan baunya tentu saja tak jauh beda dengan air comberan. Lihat saja wajah para pesertanya, menang atau kalah semuanya akan berubah jadi muka comberan.

Persoalannya ialah, mereka yang lebih dulu punya kesempatan merayap naik, sudah pasti akan ditarik turun secara beramai-ramai oleh yang lain. Ketika yang lainnya lagi berhasil naik, ada sejumlah yang lainnya lagi menyeretnya turun ke bawah, dengan segala macam cara. Cara halus boleh, cara kasar pun biasalah. Begitulah seterusnya, setiap yang naik, akan berpotensi menerima nasib dan resiko untuk dijatuhkan.

Sebetulnya, mengapa sampai terjadi hal demikian, soal kepiting bugis dan panjat pinang itu, ialah karen orang-orang yang sudah di atas, orang-orang yang sudah duduk enak menjabat, enak menduduki kursi empuk dengan segala rupa gaya kekuasaan ; lupa diri bahwa dia bertengger di kursi empuk itu lantaran banyak orang yang memberikan dukungannya. Banyak pihak yang membukakan jalan kepadanya untuk berkesempatan melempar pantat ke atas kursi jabatan.

Tetapi kemudian di bos yang sudah menjabat itu, pada gilirannya lupa dari mana dia berasal. Lupa hampir segalanya yang ada di bawah. Dia hanya keenakan menengadah ke atas, menikmati hidupnya sendiri.

Padahal mereka yang di bawah itu tadi memerlukan uluran tangan sang bos. Mereka memerlukan bantuan dan langkah agar kepentingan dan terutama kesejehteraan mereka dapat menjadi lebih baik. Tetapi semua harapan itu hanya menuai rasa kecewa belaka.

Maka dengan rasa kecewa itulah yang memantik gejolak hati, sehingga sang bos yang duduk di kursi singgasana itu perlu ditarik turun. Bila perlu beramai-ramai orang menjungkalkannya dari kursi jabatan.

Ini sesungguhnya adalah pelajaran tentang kehidupan. Filsafat hidup. Bahwa kehidupan itu butuh keseimbangan. Ketika kita tak mampu menjaga keseimbangan, maka jawabnya adalah kejatuhan. Masih mending kalau jatuh tak tertimpa tangga pula ***


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya