HTTP Status[404] Errno [0]

Ketua PMII Makassar Kecam Pembubaran Aksi di BNI

13 October 2017 10:22
Ketua PMII Makassar Kecam Pembubaran Aksi di BNI
Penyerangan yang dilakukan sekelompok preman pada Kamis 12/10/2017.
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Penyerangan yang dilakukan sekelompok preman pada Kamis 12/10/2017.

BugisPos.com — Buntut penyerangan yang dilakukan sekelompok preman pada Kamis 12/10/2017 terhadap massa mahasiswa For MAKAR dan HAM didepan BNI, menuai kecaman dari Ketua PMII Metro Makassar, Suratman Kayano.

Suratman Kayano, Ketua Cabang PMII Metro Makassar sangat menyangkan tindakan pembubaran aksi demonstrasi dan penyampaian pendapat Kepada pihak BNI Wilayah Makassar.

Menurutnya, BNI Wilayah Makasaar seharusnya tidak melakukan tindakan kekerasan dan main hakim sendiri. Apalagi sampai dihadapkan pada kelompok tertentu untuk membubarkan massa aksi
“Karena semua orang memiliki Hak Kebebasan untuk untuk menyampaikan Pendapatnya di muka umum,” kata Suratman berdasarkan rilis pers yang dikeluarkan Jumat (13/10/2017).

“Pihak BNI Makassar, mesti bertanggung jawab atas tindakan kekerasan yang dilakukan, atas pembubaran paksa kepada Salah satu banon kami, Forum Mahasiswa Kota Makassar (For MAKAR) dan Kawan Kawan kami dari Himpunan Aktivis Makassar, (HAM) Sulsel,” tambahnya.
“Untuk itu, pihak BNI mesti meminta maaf kepada pihak mahasiswa, dan kepada semua yang dirugikan,” tuturnya.

Selain itu, ia meminta kepada pihak keamanan (kepolisian), untuk mengusut tuntas dan menindak tegas pelaku kekerasan, pada saat aksi demonstrasi mahasiswa Kamis kemarin di depan kantor BNI.

“Jikalau BNI Wilayah Makassar tidak segera menyelesaikan masalahnya, maka kami akan datangkan massa yang banyak untuk meminta klarifikasi atas tindakan baik dalam proses hukum maupun demostran,” pungkasnya. – One –

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya