HTTP Status[404] Errno [0]

Makassar Seperti Mangkuk

12 March 2018 14:17
Makassar Seperti Mangkuk
Oleh : Usdar Nawawi
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh : Usdar Nawawi

BugisPos – Bulan antara Desember hingga Januari, bahkan bisa sampai di bulan Februari, atau lebih parahnya lagi meloncat ke bulan Maret, banjir di Makassar dalam fakta sejarah telah menjadi hal yang biasa. Bila hujan deras sebentar saja, maka dimana-mana lokasi akan diterjang banjir.

Di saat sekarang pun, pada periode pemerintahan Walikota Danny Pomanto, yang dalam tiga tahun terakhir begitu gencar melakukan pembenahan drainase dan kanal, namun masih juga terjadi banjir di sejumlah lokasi. Misalkan di jalan nasional depan kantor gubernur Sulsel, kawasan Jl.AP Pettarani, blok 8 dan blok 10 Bumi Antang Permai, dan di sejumlah titik lainnya.

Banjir, artinya, air hujan yang tidak mampu mengalir ke selokan, atau istilah PU-nya : drainase, akan meluap ke permukaan jalan. Maka di titik-titik tertentu akan terlihat seperti sungai. Di kompleks-kompleks perumahan, perumahan akan terlihat lucu, seperti perumahan yang dibangun di tengah danau. Anehnya, masyarakat justru banyak tersenyum atau ketawa ngakak bila terjungkal ke sungai atau ke danau tersebut. Mereka seolah menertawai diri sendiri, menertawai rumah mereka, dan menertawai Kota Makassar yang tercinta.

Di zaman Walikota Suwahyo, tiga kanal dibangun, yakni kanal Sinrijala, kanal Pannampu, dan kanal Bongayya. Ketiga kanal ini ditugasi menampung air buangan dari drainase sepanjang 30.000 km, yang tersebar di 14 kecamatan.

Ketiga kanal, kemudian membagi diri, ada yang langsung buang air ke laut, ada yang muncrat ke sungai Jeneberang, dan ada yang bermuara ke sungai Tallo.

Tapi Persoalannya kemudian ialah, ketika ke tiga kanal bekerja terseok-seok lantaran begitu lama tak dikeruk oleh pihak yang berwenag di pemerintah pusat, membuat Pemkot Makassar menjadi sibuk lantaran sampah menumpuk di sepanjang perut kanal, belum lagi ancaman air pasang pada saat hujan deras, dimana permukaan air laut pada saat seperti itu, akan naik lebih sekitar 25 cm di atas permukaan daratan Makassar. Maka kejadiannya, air yang akan dibuang ke laut, tertahan oleh air pasang yang menyerang dari arah pantai.

Air akan mengarah kemana bila air laut sedang pasang? Mau mengalir ke Maros? itu sangat tidak mungkin, sebab tanah daratan Kabupaten Maros, posisinya lebih tinggi dari daratan Makassar. Tak ada air yang bisa mengalir ke Maros. Malah sebaliknya, air Lekopancing yang lancar menuju Makassar setiap saat.

Mau mengalir ke Gowa? Lebih-lebih sangat tidak mungkin. Sebab gowa yang kini dinakhodai Ichsan Yasin Limpo itu, daratannya jauh lebih tinggi pula dibanding daratan Makassar.

Kesimpulannya ialah, bila daratan kota Makassar ini kita cermati, maka kita akan berkesimpulan, bahwa letak Makassar ini, sesungguhnya sedang duduk seperti mangkuk. Taruhlah kayak mangkuk Pallu Basa. Dia dikelilingi oleh daerah ketinggian. Termasuk ketinggian permukaan laut Makassar di saat air sedang pasang. Buktinya, tanggul pantai Losari kira-kira 30 cm lebih tinggi di atas permukaan daratan.

Mungkin saja pemerintah pusat sengaja bercuek-cuek tak mau menggelontorkan dana pengerukan sedimen di dasar kanal itu, dan berkata : Rawat saja kanal kalian di Makassar biar mengatasi pendangkalan dan tak banjir. Toh kalian juga punya apebede …

Enak saja mereka di pemerintah pusat, wong APBN keruk-keruk sedimen kanal itu ente bawa kemana ? ***

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya