HMI DI TENGAH GUGATAN PUBLIK

21 December 2018 17:05
HMI DI TENGAH GUGATAN PUBLIK
Sabir Modding

Oleh : SABIR MODDING

 

BugisPos – Dalam sepuluh tahun terakhir ini terlihat tanda-tanda degradasi yang cukup serius dalam tubuh HMI. Degradasi ini terjadi disegala hal yang dulu menjadi ciri khas HMI sehingga secara kasar dapat dikatakan, saat ini HMI sedang mengalami multi krisis.
Pertama, krisis intelektual. Iklim intelektualisme yang dulu menjadi ciri khas HMI perlahan-lahan mengalami penyurutan. Ini disebabkan, orientasi struktural yang begitu kental di dalam tubuh organisasi yang didirikan oleh Lafran Pane (Prof. Dr. Alm) tahun 1947 ini. Orientasi yang oleh Jalaluddin Rahmat disebut dengan “need for power” yang tidak hanya muncul setelah mereka menjadi alumni HMI ini telah menyebabkan konflik internal yang tidak kondusif bagi penciptaan iklim intelektual.
Kedua, krisis spiritual. Pemikiran-pemikiran ideologis yang dilontarkan oleh senior-senior HMI di atas ternyata dipahami oleh sebagian besar kader HMI secara distortif sehingga menyebabkan mereka menjadi kader-kader karbitan yang mengabaikan aspek spiritual. Krisis spiritual ini secara bersamaan membuat HMI mengalami krisis identitas. Inilah yang menyebabkan HMI kini mulai ditinggalkan oleh mahasiswa terutama diperguruan tinggi umum yang kebanyakan kebutuhan mereka pada pengalaman spiritual sangat tinggi untuk mengimbangi gencarnya arus modernisasi.
Ketiga, krisis militansi. Akhir-akhir ini militansi kader HMI juga mengalami krisis yang cukup serius. Memang turunnya nuansa militansi kader HMI masih interpretable. Akan tetapi yang nampak secara sekilas, dalam memberikan respons terhadap kondisi sosial, secara kuantitas HMI tidak seperti dulu dengan jumlah massa kader yang turun sangat besar. Ini disebabkan HMI terlalu lama dimanjakan oleh kondisi yang pernah menguntungkan HMI. Di masa Orde Baru, diakui atau tidak HMI berada di atas angin. Pada saat ini training-training HMI banyak dilakukan di gedung-gedung mewah sehingga kader yang tercetak adalah kader-kader manja tadi.
Efek yang muncul dari kondisi ini adalah tercetaknya kader-kader yang bersikap elitis sehingga tidak mempunyai kepedulian terhadap masyarakat bawah dan lebih sibuk mengurusi persoalan-persoalan elite. Peran HMI dalam pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat sekarang ini tidak pernah kita dengan sama sekali. Padahal dulu, HMI pernah berjuang bahu-membahu dan menyatu dengan rakyat. Akan tetapi mungkin HMI telah melupakan sejarah itu. Padahal justru itulah yang menyebabkan HMI menjadi besar.
Keempat, krisis kader. Secara kuantitas, kalau dibandingkan dengan rasio jumlah mahasiswa sekarang, HMI mengalami penurunan secara drastis. Dulu HMI dapat dikatakan sangat besar karena HMI adalah satu-satunya organisasi kemahasiswaan Islam. Akan tetapi sekarang banyak muncul organisasi kemahasiswaan yang membawa sentimen keislaman. Akan tetapi celakanya organisasi-organisasi kemahasiswaan yang baru muncul itu lebih menarik mahasiswa sekarang. Akibatnya in put HMI secara kuantitas berkurang cukup drastis. Ini akan berimbas pada out put HMI secara kualitas. Dikatakan demikian karena yang disaring oleh HMI tidak lagi sebanyak dulu. Ini kalau menggunakan logika semakin banyak yang disaring, maka akan semakin banyak yang nyangkut di saringan.
Hal ini disebabkan HMI tidak mampu memberikan wadah penyaluran kader yang sangat banyak masuk setiap tahunnya dengan pluralitas latar belakang mereka. Dengan demikian, banyak mahasiswa yang lebih memilih organisasi yang sejak awal sudah sesuai dengan prinsip yang dipegang atau kultur awalnya.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada tanggal 5 Februari tahun ini usianya sangatlah tua. Dalam usianya yang setengah abad lebih itu, sangat wajar kalau HMI telah menghasilkan kader-kader yang menggurita dan mengambil peran strategis di hampir setiap –untuk tidak mengatakan seluruh– lini kehidupan. Terlebih mengingat sampai pada akhir tahun lima puluhan, HMI adalah organisasi kemahasiswaan Islam satu-satunya. Sehingga mahasiswa Islam yang mempunyai interest dalam perjuangan melalui organisasi kemahasiswaan Islam, dapat dipastikan akan bergabung dengan HMI.
Akan tetapi dalam usianya yang berkepala tujuh ini, HMI menuai banyak kritik bahkan gugatan atau lebih kasar lagi adalah hujatan dari sebagian masyarakat (publik). Sebagai sebuah contoh yang sederhana dan masih segar dalam ingatan kita adalah ketika terjadi suasana dukung mendukung tokoh politik nasional beberapa waktu lalu. Kepanjangan HMI yang seharusnya adalah “Himpunan Mahasiswa Islam” diplesetkan menjadi “Himpunan Mahasiswa Iblis” dan beberapa kantor cabang di Jawa Timur di bakar massa. Bahkan tak jarang HMI mendapatkan kritik-kritik dengan ekspresi cukup sinis dari orang-orang yang dulu pernah berkiprah di dalamnya karena melihat kondisi HMI yang sangat berbeda dengan ketika mereka masih di dalamnya.
Ada beberapa hal yang saat ini menjadi sorotan publik dan harus segera mendapatkan perhatian serius dari HMI.
Pertama, stigma Orde Baru yang melekat kuat pada HMI. Semua orang tahu bahwa HMI adalah pelopor dan pejuang kemunculan Orde Baru. Walaupun memang, pada awalnya Orde Baru mempunyai artian dan konteks yang positif, yaitu sebuah upaya untuk mengamalkan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Akan tetapi, orientasi tersebut pada perjalanan selanjutnya melenceng jauh dari rel dan dianggap telah mengantarkan bangsa ini ke dalam jurang kebangkrutan yang sampai saat ini belum juga teratasi.
Stigma ini semakin kuat, karena pada masa Orde Baru terutama pada dekade terakhir menjelang keruntuhannya, banyak kader HMI yang berada dalam lingkaran kekuasaan. Memang tidak fair mensimplifikasikan HMI yang sedemikian besar hanya dengan orang-orang yang berada dalam jaringan kekuasaan mengingat jumlah anggota HMI yang sangat banyak. Akan tetapi, hal ini cukup bisa dipahami karena di sanalah “sebagian sangat kecil” dari mantan-mantan aktivis HMI itu melakukan “peranan yang sangat besar” dalam menentukan arah gerak bangsa ini dengan policy yang ada di tangan mereka. Karena itu, HMI tidak boleh menolak mentah-mentah kalau dikatakan sebagai anak kandung Orde Baru dan seharusnya tetap melakukan refleksi dari gugatan-gugatan yang dialamatkan kepadanya.
Kedua, HMI cenderung elitis dan tidak merakyat. Pada masa-masa mudanya, HMI benar-benar sebuah organisasi yang mempunyai semangat besar dalam memperjuangkan rakyat kecil. Dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari agresi Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia dan pada tahun 1965 ketika terjadi pengkhianatan oleh PKI misalnya, HMI berjuang dan bahu membahu bersama rakyat. Akan tetapi, kekuasaan telah berhasil menggoda HMI dan membuat orientasi kerakyatannya menjadi semakin menipis dan bahkan menghilang. HMI hanya sibuk mengurusi persoalan-persoalan elite dan melupakan rakyat yang dulu pernah bersama-sama dengannya. Jarang sekali HMI terlihat kepeduliannya dalam upaya memberdayakan masyarakat.
Ketiga, format perkaderan HMI mengalami stagnasi yang sangat serius. Dari dulu sampai sekarang format perkaderan HMI tidak ada perubahan signifikan. Pada tahun enam puluhan format perkaderan atau training-training di HMI mungkin adalah yang the best of the best. Akan tetapi ketika perubahan yang terjadi selama sekian puluh tahun terjadi sedemikian gencar, HMI nampak tergagap-gagap karena sudah jauh ketinggalan dengan pola-pola training yang digunakan oleh LSM-LSM baru yang sudah mengambil spesialisasi dan mengelolanya secara lebih proseional. Apabila disejajarkan dengan LSM-LSM baru tersebut, HMI terkesan tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi realitas sosial yang terjadi sekarang ini. Karena itu format perkaderan yang hanya cocok diterapkan pada tahun enam puluhan itu harus segera dirubah dengan mencari pola baru yang lebih sesuai dan dibutuhkan saat ini.
Keempat, HMI tidak mampu memenuhi student needs. Banyak mahasiswa baru yang mengenal nama HMI dari buku-buku sejarah, berharap banyak bahwa dia akan mendapatkan sesuatu dari HMI terutama berkaitan dengan spesialisasi yang diambilnya. Akan tetapi ternyata mereka harus kecewa karena HMI tidak mampu memberikan apa yang mereka harapkan itu.
Kelima, HMI kehilangan cirinya sebagai organisasi kader intelektual. Ini disebabkan oleh budaya yang mengarah kepada pembangunan kognitif kader yang secara lambat tapi pasti selalu mengalami degradasi yang cukup drastis. Mereka hanya disibukkan dengan rutinitas organisasi atau bahkan lebih parah lagi disibukkan oleh konflik internal organisasi yang kontraproduktif dan hanya buang-buang energi saja. Di tambah lagi, HMI terlalu bangga mempunyai tokoh-tokoh intelektual masa lalu sekaliber Nur Chalis Madjid, Djohan Efendi, Dawam Raharjo, Azumardy Azra dan beberapa cendekiawam muslim yang nota benenya pernah berproses di HMI kemudian melupakan bahwa di masa depan HMI harus juga menyiapkan kader-kader mumpuni seperti mereka karena orang-orang yang dibanggakan tersebut toh adalah manusia biasa yang sewaktu-waktu bisa meninggalkan dunia ini.
Keenam, HMI kering spiritual. HMI memang adalah sebuah organisasi yang tidak pernah mendoktrin anggotanya untuk memahami agama secara monolitik dan menajarkan mereka untuk berfikir dekonstruktif untuk mengarahkan kader pada sikap inklusif. Ini adalah sesuatu yang positif. Akan tetapi ide-ide dekonstruktif itu kemudian menyebabkan mereka menjadi kehilangan identitas yang mengarah kepada keringnya spiritualitas anggota HMI. Inilah yang menyebabkan HMI tidak begitu diminati oleh mahasiswa di perguruan tinggi umum yang sangat membutuhkan spiritualitas sebagai penyeimbang terhadap teori-teori modern yang mengarah pada relatifitas nilai sehingga membuat mereka kebingungan. HMI juga nampak tidak mau lagi untuk mengurusi mahasiswa yang baru tertarik untuk memahami Islam sehingga mereka kemudian lebih memilih organisasi yang lain.

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya