wujudkan pelayanan publik

Match Fixing di Persepakbolaan Dalam Negeri

22 December 2018 11:38
Match Fixing di Persepakbolaan Dalam Negeri

Oleh :

Adnan Thamrin, S.Si

(Alumni Program Studi Statistika Jurusan Matematika Fakultas Mipa Universitas Hasanuddin angkatan 2012)

 

BugisPos – Isu pengaturan skor atau match fixing sedang menerpa Persepak Bolaan dalam negeri, Isu Match Fixing yang diduga melibatkan mafia bola ini muncul pertama kali setelah terjadi beberapa kejadian yang janggal didalam kompetisi sepakbola nasional baik itu Liga 1, Liga 2 maupun Liga 3 musim ini.

Dugaan pengaturan skor ini diperkuat setelah munculnya pengakuan dari manajer klub Madura FC Januar Herwanto diacara Mata Najwa dengan judul “PSSI Bisa Apa” 28 September 2018 silam. Beliau mengatakan bahwa timnya mendapatkan tawaran agar sengaja mengalah pada babak 8 besar Liga 2 dipertandingan Madura FC VS PSS Sleman, tidak tanggung – tanggung dia menyebutkan nama Hidayat salah satu anggota Exco PSSI yang mencoba melakukan lobby ke klubnya guna melakukan Match Fixing.

Selang beberapa hari setelah adanya pengakuan tersebut, Hidayat lansung mengundurkan diri dari jabatan Exco PSSI, dia mengakui keterlibatan dirinya melakukan usaha match fixing di kompetisi Liga 2 . Pengunduran diri pak Hidayat ini seolah memperkuat dugaan banyaknya praktek match fixing yang terjadi di kompetisi persepakbolaan indonesia.

Selain itu dugaan lain mengarah ke tim Juara Liga 1 Persija Jakarta. Dugaan ini muncul setelah terungkapnya kepemilikan 90% saham lebih klub yang berjuluk Macan Kemayoran itu dimiliki oleh wakil ketua PSSI Djoko Driyono.Banyak yang menganggap bahwa Liga 1 musim ini telah diatur dengan menjadikan Persija Jakarta sebagai juaranya. PSSI juga telah mengambil berbagai kebijakan yang dianggap sebagian pihak menguntungkan Persija, Puncaknya dilaga terakhir penentuan juara Liga 1 antara Persija VS Mitra Kukar, 2 gol yang dilesakkan oleh Persija dianggap sangat kontroversial oleh para pecinta bola.

Dugaan pengaturan skor ini juga terjadi musim lalu. Dugaan ini menerpa tim juara Liga 1 Bhayangkara FC. Banyak yang menduga gelar juara yang diperoleh Bhayangkara FC tidak lepas dari peran serta mafia bola. Dugaan ini muncul pasca pertandingan pekan ke 31 Liga 1 yang mempertandingkan tim Mitra Kukar VS Bhayangkara FC, Pertandingan penentuan juara liga ini berkesudahan 1-1. Hal yang sangat kontroversial terjadi pasca pertandingan tersebut,hasil pertandingan ini dibatalkan oleh PSSI dan memberikan kemenangan WO 3-0 kepada tim Bhayangkara FC. PSSI menjatuhi sanksi kepada Tim Mitra Kukar yang dianggap melakukan pelanggaran aturan dengan memasukkan pemain yang seharusnya tidak dapat dimainkan dalam pertandingan tsb karena telah menerima 5 kartu kuning di pertandingan sebelumnya.PSSI diduga memuluskan langkah Bhayangkara FC dalam memperoleh gelar juara liga kala itu.

Dengan adanya dugaan kasus pengaturan skor ini, telah menambah daftar masalah yang terjadi di persepak bolaan dalam negeri saat ini. Sebelumnya masalah yang menjadi sorotan pecinta bola negeri ini adalah prestasi Timnas yang tak kujung membaik.Gagalnya timnas Piala AFF 2018, gagalnya Timnas U22 di Asian Games, kegagalan Timnas U19 ke Piala Dunia U20.

Selain itu masalah di federasi dan kompetisi juga menjadi sorotan seperti Rangkap jabatan ketua PSSI, kepemilikan saham tim peserta liga oleh petinggi PSSi, Denda dan Sanksi Kompetisi yang tidak transparan, Tawuran suporter dan masih banyak lagi permasalahan yang terjadi. Hal ini menunjukkan begitu buruknya keadaan persepakbolaan kita saat ini

Semua permasalahan tersebut sontak membuat para penggiat bola geram,mereka menuntut adanya perbaikan Federasi, Kompetisi maupun Prestasi di Persepak Bolaan Indonesia. Slogan Revolusi PSSI,EDY OUT, ANTI MAFIA terlontar dari hampir golongan suporter yang ada di Indonesia

Terkhusus untuk isu pengaturan skor telah menarik banyak perhatian media, salah satunya adalah Stasiun Tv Trans 7. Trans 7 mengangkat permasalahan tersebut dimedia melaui program Mata Najwa “PSSI Bisa Apa” 28 September 2018 silam. Acara tersebut menyita banyak perhatian dan mendapatkan banyak apresiasi dari masyarakat terkait permasalahan sepak bola dalam negeri saat ini.

Trans 7 kembali mengangkat masalah persepak bolaan dalam negeri pada acara Mata Najwa dengan judul “PSSI Bisa Apa Jilid 2” Rabu 19 Desember 2018, didalam acara tersebut hadir beberapa narasumber yaitu : Menpora Imam Nahrowi, Bapak Kapolri Tito Karnivian, Mantan Petinggi PSSI Andi Darussalam Tabusalla, Ketua Save Our Soccer (SOS) Akmal Marhali,Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono dan Putri Sulungnya Lasmi Indriyani serta mantan runner sepakbola indonesia Bambang Suryo. Mereka memberikan keterangan terkait masalah pengaturan skor (Match Fixing) yang menerpa persepakbolaan indonesia saat ini.

Najwa Shihab juga mengundang beberapa petinggi PSSI untuk datang diacara tersebut,guna memberikan keterangan dan klarifikasi terkait masalah yang sedang hangat menerpa persepakbolaan indonesia itu. Najwa mengundang Ketua PSSI bapak Eddy Rahmayadi, Wakil Ketua PSSI Djoko Driyono dan Direktur Liga Indonesia Iwan Budianto. namun tidak satupun dari mereka yang berkenan hadir diacara tersebut.

Acara ini merupakan kelanjutan dari acara sebelumnya Mata Najwa “PSSI Bisa Apa” 28 September 2018 silam ,masih dengan pembahasan permasalahan yang sama terkait pengaturan skor dan keterlibatan mafia dalam persepak bolaan indonesia.Mereka mengkritisi apa yang sedang terjadi didalam sepakbolaan indonesia saat ini.

Acara tersebut berlansung menarik.Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono bersama Putrinya Lasmi Indriyani dipilih sebagai pembicara pertama, mereka memaparkan kasus usaha Match Fixing yang dilakukan oleh beberapa pihak terhadap klub mereka Persebara Banjarnegara yang merupakan peserta Liga 3 lengkap dengan bukti rekaman suara. Acara tersebut semakin menarik ketika para pembicara selanjutnya juga berani memaparkan contoh match fixing yang pernah terjadi di persepak bolaan dalam negeri, tidak tanggung – tanggung mereka menyeret beberapa nama klub besar seperti Arema, Persib sampai Persebaya juga pernah terlibat dalam masalah yang sama.

Dalam pemaparan selanjutnya Bapak Kapolri siap mengambil langkah tegas dalam menangani kasus ini, yaitu dengan membentukan Tim Satgas Anti Mafia Bola yang dikordinir lansung oleh polri.Tim ini siap memberantas segala praktek mafia yang ada dipersepak bolaan kita, segala bentuk tindakan yang mengarah ke pelanggaran pidana siap untuk di tindak tegas.

Dari berbagai pemaparan narasumber,hal yang paling menarik adalah pernyataan dari mantan petinggi PSSI Andi Darussalam Tabbusalla. Beliau dengan jelas menyatakan bahwa praktek pengaturan skor sudah sangat lama terjadi di persepakbolaan dalam negeri bukan hanya di level klub bahkan sudah sampai ke level Timnas, salah satu kasus terbesar yang pernah terjadi adalah match fixing di Final Piala AFF 2010 antara Timnas Indonesia VS Malaysia. Menurut beliau kekalahan timnas indonesia kala itu tidak lepas dari peran serta mafia bola, dia menyebutkan adanya keterlibatan Bandar judi besar asal Malaysia dengan beberapa pemain timnas kala itu mereka dari awal sudah mengatur kekalahan timnas indonesia.

Pernyataan Bapak yang biasa di panggil dengan singkatan ADS itu sontak membuat para pecinta sepak bola indonesia geram. Akun medson pemain yang disebut namanya oleh beliau seketika diserang oleh para pecinta bola mereka mencaci dan memaki pemain yang dianggap terlibat tersebut.Kekecawaan yang amat dalam dirasakan pecinta bola negeri mengingat harapan dan asa kala itu untuk Indonesia Juara Piala AFF begitu besar. Jika dugaan itu benar maka itu adalah bentuk penghianatan yang begitu besar sudah lama kita menunggu untuk juara dan prestasi, Prestasi yang selama ini mereka rindukan telah digadaikan oleh beberapa pihak hanya untuk memperoleh keuntungan pribadi semata.

Pemaparan dari semua narasumber di dua sesi penayangan Mata Najwa “PSSI Bisa Apa”, menjadi pukulan tersendiri bagi para pecinta bola dalam negeri. para narasumber dengan jelas menyatakan bahwa praktek pengaturan skor di sepakbola indonesia adalah hal yang telah lama terjadi bahkan telah sampai ke ranah Timnas.

Campur tangan sejumlah pihak dalam mengatur sebuah pertandingan telah mencederai semangat sportivitas di dalam sebuah olahraga. Semangat yang selama ini di galakkan semua suporter di indonesia untuk mendukung tim yang didambakan telah khianati oleh berbagai pihak demi kepentingan pribadi semata.

Dorongan untuk perbaikan Federasi, Kompetisi maupun prestasi oleh para pecinta bola semakin membesar dan tak dapat terelakka lagi. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya? jika memang perbaikan dan revolusi itu betul betul terjadi kepada siapa kita memberikan amanah itu, amanah untuk mengurus persepak bolaan negeri ini, sampai kapan permasalahan ini akan terus berlanjut, setiap kepengurusan yang ada hanya memunculkan permasalahan permasalahan yang baru dan cenderung sama tapi tak kunjung menghasilkan prestasi yang membuat kita bangga.

Sangat diharapkan keterlibatan semua pihak baik itu suporter, masyarakat pecinta bola, mantan pemain, pemain, klub, pengurus federasi, kepolisian hingga pemerintah dalam mengkawal dan memperbaiki sepak bola negeri.mari kita berantas bersama segala praktek yang mencederai semngat sportivitas dalam persepak bolaan. Semoga dengan keterlibatan semua pihak kedepannya prestasi yang didambakan selama ini dapat diraih karena untuk meraih prestasi yang baik bukan hanya wartawannya yang harus baik tapi semuanya juga harus baik.

Sepakbola adalah sebuah permainan yang mampu mempersatukan semua golongan masyarakat, Semuanya seolah olah melupakan segala permasalahan yang terjadi di dalam kehidupan yang kian sulit ini,semuanya berbaur dalam semangat yang sama demi prestasi dan kebanggaan yang telah lama dirindukan.

Makassar, Sabtu, 22 Desember 2018

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya