HTTP Status[404] Errno [0]

Masyarakat Makassar Harapki Waspadai DBD

31 January 2019 06:27
Masyarakat Makassar Harapki Waspadai DBD
Illustrasi

BugisPos – Masyarakat di kota Makassar setiap tahun diingatkan agar mewaspadai penyakit DBD. Biasanya penyakit ini muncul di saat musim hujan tiba.

Apalagi pada tahun 2019 ini bertepatan dengan siklus 10 tahunan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD).

Dinas Kesehatan Kota Makassar pun mengimbau masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap DBD.

“Kami mengimbau masyarakat untuk lebih waspada,” tegas Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Makassar, Hadarati Razak.

Imbauan itu sangat penting, demi mencegah terjadinya peningkatan dan keparahan kasus DBD di Makassar. Hadarati menambahkan, pada 10 tahun lalu terjadi kasus demam berdarah yang sangat luar biasa. Sehingga seluruh masyarakat diminta untuk lebih waspada terhadap itu.

“Jadi ada siklus 5 tahunan ada 10 tahunan, dimana pada saat 10 tahun lalu meningkat kasus demam berdarah,” katanya, Sabtu (19/1/2019).

Dan kasus itu sangat tinggi, olehnya itu pihak Dinkes meminta seluruh masyarakat harus waspada.

“Trendnya seperti itu. Jadi kita harus waspada serta lebih aktif mencegah pekembangbiakan nyamuk aedes aegypti itu,” pinta Hadarati.

Olehnya itu, Ia menilai tahun ini kasus demam berdarah dengue (DBD) akan mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Penyebab siklus 5 dan 10 tahunan diakuinya belum diketahui pasti. Ia hanya mengatakan, kemungkinan itu karena faktor cuaca.

Untuk mengantisipasi siklus tersebut, Dinas Kesehatan Kota Makassar melakukan pencegahan. Bahkan Dinkes Makassar juga mengimbau masyarakat untuk terus membersihkan lingkungan.

“Pencegahan itu selalu kita lakukan, dari puskesmas selalu menyampaikan ke masyarakat, pencegahannya seperti kebersihan lingkungan,” ungkapnya.

“Memberantas perindukan perindukan nyamuk, itu kalau di masyarakat, kemudian kalau dari dinas sendiri itu ada fogging,” sambungnya.

Menurutnya lagi, foging hanya mampu membunuh nyamuk dewasa tetapi untuk membunuh jentiknya butuh bantuan masyarakat. Apalagi saat ini memasuki musim penghujan menetasnya jentik jentik nyamuk.

“Kalau cuaca seperti ini petugas puskesmas memakai mobil keliling memantau setiap daerah. Masyarakat juga perlu sanitasi lingkungan dengan tidak membuat perindukan nyamuk termasuk di dalam rumah. Bila ada air jernih tergenang sebaiknya dibersihkan, menutup, mengubur kemudian menguras dan membersihkan lingkungan (3M+),” ujarnya.

Selain itu, pencegahan DBD yang dilakukan pihak Dinkes melalui fogging kasus dengan radius 200 meter, dimana dilakukan pada saat ada kasus dan di daerah kasus tersebut terjadi.

“Jadi kalau ada laporan dari puskesmas atau rumah sakit maka kita buatkan jadwal kapan kita turun untuk melakukan fogging, jadi tiap hari kita lakukan foging. Tergantung laporan masuk dari rumah sakit dan puskesmas, biasanya sehari sampai 10 titik kita lakukan foging,” tandasnya.

Ia menambahkan jika tahun ini masyarakat harus waspada masuknya 10 tahunan Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Sebenarnya tahun lalu tetapi karena kasusnya tidak sesuai dengan perkiraan, jadi waspadaki saja, karena itu sudah trendnya. Dan itu harus kita tahu untuk segera diantisipasi dan biasanya kalau kita tau kasus itu akan menurun karena banyak waspada,” tutupnya.

Sebelumnya Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Labuang Baji, dr Mappatoba menjelaskan, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, puncak penyebaran penyakit DBD adalah saat memasuki musim hujan.

“Karena memang sifat penyebaran penyakit DBD biasanya di musim hujan. Sekitar Oktober hingga Januari. Tapi biasanya, kasus DBD paling tinggi ditemukan Januari,” ungkapnya.

Namun, kata dia, data dari rekam medik RSUD Labuang Baji mencatat, pasien yang diagnosa DBD dan dirawat di rumah sakit ini selama periode Oktober hingga Desember 2018, serta Januari 2019 tidak terlalu signifikan.

Untuk periode Januari hingga November 2018 lalu, jumlah pasien yang ditangani RSUD Labuang Baji sekitar 175 orang. Khusus Desember sekitar 20 orang lebih. Sementara di Januari tahun 2019 ini, tercatat hanya beberapa orang.

Mappatoba berasumsi jika masyarakat sudah mengetahui dan paham benar langkah apa yang harus dilakukan untuk menghindari penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegepty itu. Berbicara mengenai DBD, berbicara soal kebersihan, baik di rumah maupun lingkungan sekitar. Jentik nyamuk berkembang biak di air yang tenang dan benda-benda yang tidak digunakan.

“Masyarakat semakin sadar pentingnya hidup sehat. Menjaga kondisi agar bisa terhindar dari penyakit DBD,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, gejala klinis yang ditunjukkan penyakit ini adalah demam yang puncaknya terjadi pada hari kelima.

“Yang dikhawatirkan dari DBD adalah syok akibat terjadi pendarahan dalam tubuh karena kekurangan cairan dalam tubuh. Tapi jika sudah hari kelima dan bisa diawasi, berarti lewati masa kritis,” ungkapnya (**)

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya