HTTP Status[404] Errno [0]

Manai Sophian Siap Bicara Soal IPAL Losari

13 March 2019 07:23
Manai Sophian Siap Bicara Soal IPAL Losari
Manai Sophian Kadis Pertanahan kota Makassar

BugisPos — Proyek pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Losari memang punya cerita panjang. Sudah cukup lama proyek ini digadang-gadang untuk dutuntaskan, tetapi ada saja kendala yang dihadapi.

Tahun 2019 ini proyek IPAL Losari kembali dianggarkan. Target pembangunan di tahun 2018 lalu molor lantaran sejumlah kendala yang menhadang, termasuk proses pembebasan lahan.

Hingga Januari 2019 ini, dua paket pengerjaan pembangunan IPAL Losari dalam proses lelang tender kurang lebih Rp360 miliar.

“Jadwalnya memangkan harusnya 2018 itu sudah selesai lelang, tapi sampai saat ini masih berproses, kalau tidak salah, mungkin masih tahap evaluasi. Saya belum tahu persis, mungkin pokja yang lebih tahu kendalanya bagaimana,” ungkap PPK Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Setia Dinoor, Senin (07/01/2019).

Untuk tahap pembangunan dua proyek yang menyebrang tahun, kata Setia, pihaknya hanya tinggal meminta izin Kementrian Keuangan (Kemenkeu) untuk perpanjangan masa pelaksanaan.

“Nyebrang tahun tidak masalah karena inikan proyek multiyears, tetap berlanjut. Nanti tinggal minta izin kementrian keuangan lagi untuk perpanjang masa pelaksanaannya, karena kan terpotong,” ungkapnya.

Setia membeberkan proyek ini terdiri dari lima paket pengerjaan, dua paket sudah dianggarkan tahun lalu dan tiga paket lainnya rencananya baru akan dianggarkan tahun ini.

Ketiga paket itu dianggarkan tidak hanya melalui APBN tapi juga pinjaman luar negeri. Porsinya, 70% dana dari pinjaman luar negeri dan 30% bersumber dari APBN. Harapannya, proyek ini bisa beroperasi paling lambat 2022 mendatang.

“Insya Allah 2019 kita lanjutkan, APBN dan pinjaman luar negeri. Saya lupa nilai rinciannya, porsinya mungkin itu 70% pinjaman luar negeri dan 30% APBN,” sebutnya.

Selain proses lelang yang belum selesai, proyek ini juga masih terkendala lahan. Pemerintah Kota Makassar masih menunggu putusan kasasi dari Mahkama Agung (MA) atas lahan seluas 2,9 hektar yang dipersoalkan masyarakat.

Hanya saja, menurut Setia dengan ketersediaan lahan saat ini pihaknya tetap masih bisa melanjutkan pembangunan tersebut. Terlebih, IPAL Losari akan menggunakan teknologi Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR). Kelebihannya, selain tidak mengeluarkan bau juga tidak membutuhkan lahan yang cukup luas, sehingga lahan yang ada saat ini bisa dioptimalkan.

“Dengan lahan yang ada sekarang 2,3 hektar itu bisa kita maksimalkan untuk teknologi yang baru (MBBR),” sambung dia.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanahan Makassar, Manai Shopian menegaskan bahwa pemerintah kota telah mengantongi seluruh sertifikat lahan IPAL Losari yang terletak di Jalan Metro Tanjung Bunga. Pihaknya pun siap beradu argumentasi terhadap gugatan masyarakat yang masih mengaku sebagai pemilik sah lahan tersebut.

“Sertifikat ada, lengkap. Kalau tidak salah 5 hektar lebih, dan ada semua sertifikatnya. Pemerintah kota membeli jelas dari orang yang punya di sertifikat itu, cuma kalau masyarakat mau menggugat yah silahkan saja, nanti kita beradu argumentasi di pengadilan,” ujar Manai.

Diketahui, proyek strategis nasional ini menelan anggaran hingga Rp1 triliun yang bersumber dari anggaran pemerintah pusat dan dikerjakan langsung oleh Kementrian PUPR.

Untuk diketahui, proyek pembangunan IPAL Losari ini nantinya dapat dinikmati masyarakat di enam kecamatan. Diantaranya, Kecamatan Makasssar, Tamalate, Mamajang, Mariso, Ujung Pandang, dan Wajo (adv)

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya