Kodong, Dua Kepala Dusun di Gowa Dipecat

12 April 2019 15:00
Kodong, Dua Kepala Dusun di Gowa Dipecat
Salah satu korban pemecatan ketika di wawancarai oleh wartawan.

 

Bugis Pos – Terjadinya pengangkatan dan pemberhentian perangkat desa oleh Kepala Desa sering menimbulkan konflik di tingkat desa. Hal itu disinyalir karena adanya tindakan Kepala Desa yang melakukan pemberhentian atau pergantian secara sepihak tanpa mengikuti prosedur dan aturan yang berlaku.

Kadang tidak diketahui secara jelas apa motif dibalik sering terjadinya perombakan perangkat desa tersebut. Apakah Kades belum memahami mekanisme dan tata cara pergantian, atau pemberhentian perangkat desa atau ada motif lain.

Sehubungan dengan itu, hal tersebut dikeluhkan oleh dua orang perangkat desa, dalam hal ini kepala dusun, masing-masing Syamsul Bahri, kepala Dusun Bukkangraki, Sahabuddin Daeng Ampa, kepala Dusun Sugitangnga II, dan salah seorang staf Desa Pabbentengang, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa.
Kamis (11/4/2019).

Saat di temui beberapa awak media, Saharuddin Daeng Ampa, menjelaskan kalau dirinya heran atas SK pemberhentian dirinya, yang ia terima jelang malam dikediamannya beberapa waktu lalu.

“Masalah pemberhentian ini saya merasa sangat heran, kenapa tiba-tiba saya dapat surat pemberhentian ini, setau saya, kurang lebih 9 tahun saya mengabdi, namun tidak pernah melakukan pelanggaran yang fatal. Saya herannya lagi, sebab tidak ada teguran secara lisan, atau dalam persuratan, tidak ada SP 1, 2, dan seterusnya, ini langsung SK pemberhentian yang saya dapat”, jelasnya.

Keterangan di atas, dibenarkan oleh dua orang rekannya yang mengalami nasib yang sama.

“Saya pun sangat heran kenapa kami diberhentikan secara dadakan dan serentak, hanya karena tidak mengikuti Apel, dan kenapa saya tidak mengikuti Apel tersebut, itu tak lepas dari bagian tugas saya, yakni malayani masyarakat, itu juga saya informasikan keberadaan dan apa yang saya lakukan, selama ini terhitung sudah dua kali kami coba untuk konfirmasi ke kepala Desa, namun tidak pernah kami temui”, tegas Syamsul Bahri.

Sesuai dengan SK Pemberhentian yang diperlihatkan, dengan lembaran yang berbeda, disitu mengatakan bahwa yang bersangkutan sudah lebih dari satu kali tidak mengikuti Apel Pagi ataupun Sore, hasil keterangan tersebut, awak media, beserta beberapa rekan LSM mencoba mengunjungi kantor Desa Pabbentengang yang dimaksud guna mengkonfirmasi hal itu, akan tetapi kepala Desa tidak berada di tempat, dan tak satupun orang yang berada di situ, memberi keterangan, terkait persoalan ini.

Sementara itu, Zulfikar juga menjelaskan kalau ia memang pernah beberapa hari tidak masuk kerja, dikarenakan waktu itu sedang berdukacita.

Ditempat terpisah, saat ditemui Ketua BPD Pabbentengang, pun menjelaskan bahwa persoalan ini baru kemarin diketahuinya, itupun pembahasan dari mulut ke mulut, sebab surat tembusan yang tersurat sampai saat ini belum ia terima, sesuai yang termuat dalam SK Pemberhentian yang tercantum.

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya