HTTP Status[404] Errno [0]

Waspada ki, Gawat Darurat Pendidikan

24 April 2019 15:47
Waspada ki, Gawat Darurat Pendidikan
TEDs (Talkshow Edukasi) bertema Gawat Darurat Pendidikan

BugisPos – Inilah kesimpulan yang mengemuka dari TEDs (Talkshow Edukasi) bertema Gawat Darurat Pendidikan, yang menampilkan pembicara dari lintas generasi dengan latar belakang berbeda, dari unsur pemerintah dan pegiat pendidikan. Para pembicara terdiri dari Wahyu Try Baharsyah (Inisiator Talktive Indonesia), Ruslan, S.Pd., M.M (Kabid MGTK Dinas Kota Makassar) dan Rusdin Tompo (Penulis dan Aktivis LSM).

O

Riska, Koordinator Semua Murid Semua Guru (SMSG) Sulawesi Selatan mengatakan, kegiatan yang dilakukannya merupakan bagian dari Pesta Pendidikan yang sudah berlangsung selama 3 tahun. Di tahun 2019 ini ada dua kegiatan yang dilakukan SMSG, yakni pertama TEDs, yang diadakan pada Minggu, 21 April 2019, di GO-FOOD Festival Eat Out Karebosi, Makassar. Acara TEDs ini dipandu oleh Rhila Madjid, presenter INEWS TV Makassar.

“Kalau kegiatan pada sesi kedua, tanggal 28 April 2019 nanti, pembicaranya berasal dari teman-teman komunitas,” jelas Riska.

Sebelum persenrasi dan diskusi, ditampilkan juga pesan dan apresiasi dari penggagas dan pegiat jaringan SMSG, Najeela Shihab, melalui layar monitor. Kegiatan TEDs 2019 ini dilakukan di beberapa kota lainnya, namun Makassar yang pertama.

H. Abdul Rahim, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II, saat membuka acara ini menekankan pentingnya semangat belajar, yang bisa dilakukan kapan saja di mana saja, sepanjang masa.

“Tuntutlah ilmu dari taman kanak kanak hingga taman makam pahlawan,” kata Abdul Rahim yang hadir mewakili Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan.

Semua orang, katanya, bisa menjalankan peran dan fungsi sebagai guru. Karena itu, keberhasilan pendidikan menjadi tanggung jawab semua pihak. Tanggung jawab itu ada pada orang tua, komunitas, LSM, sekolah, komite sekolah, dunia usaha juga institusi lainnnya. Menurutnya, karena ini pesta pendidikan maka semua orang bisa merasakan kegembiraan dan manfaatnya. Kemasan acara yang santai menunjukkan suasana pesta dimaksud.

Abdul Rahim bisa memahami jika tema ini merujuk pada kasus-kasus kekerasan yang menimpa anak-anak di sekolah yang kemudian viral di media sosial. Karena kekerasan bukan saja antarsiswa bahkan guru juga jadi korbannya.

“Kalau ini yang jadi alasan pemilihan tema, saya setuju untuk didiskusikan,” katanya.

Kita sepakat, lanjut Abdul Rahim, bahwa kualitas pendidikan harus dibenahi. Mulai aspek manajemen hingga profesionalisme guru. Tanggung jawab guru bukan semata-mata mengajar tapi bertindak sebagai manajer. Sertifikasi guru itu bukan sekadar untuk kesejahteraan guru tapi terutama peningkatan kualitas pendidikan.

“Saya selalu pesan ke siswa untuk sukses pada empat hal, yakni akademik, organisasi, ibadah dan ketrampilan,” kunci Abdul Rahim.

Sementara Ruslan dari Dinas Pendidikan Kota Makassar, mengakui masih ada guru yang tidak mengikuti perkembangan zaman. Mereka seolah berada di zona nyaman. Sehingga, kurang meng-update IT dan ilmu pengetahuan.

“Tapi banyak juga guru yang mampu berkreasi dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman,” katanya.

Rusdin Tompo, menyarankan pentingnya pendidikan kritis. Anak-anak, katanya, perlu outing class bukan sekadar untuk kegiatan rekreasi tapi juga memahami lingkungan sosialnya. Lewat pendidikan hadap masalah, mereka diperhadapkan pada kasus-kasus konkrit. Di samping penanaman pada pendidikan karakter, khususnya nilai-nilai religius, sikap jujur, peduli, cinta lingkungan dan cinta tanah air.

Sebagai pembanding, Wahyu berbagi pengalaman tentang sistem pendidikan di Polandia. Katanya, di Polandia guru jadi teman curhat muridnya. Ada kedekatan guru dengan murid. Anak-anak di Polandia lebih banyak ke museum dan ke perpustakaan. Begitupun penerapan perlindungan anak benar-benar diterapkan.(*)

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya