Serangan Fajar

28 April 2019 10:44
Serangan Fajar
Oleh : Usdar Nawawi

BugisPos — Pada Pemilu serentak tanggal 17 April 2019 yang baru saja berlalu, ternyata masih saja diwarnai dengan aksi serangan fajar. Istilah serangan fajar ini sebetulnya sudah sangat klasik. Istilah yang sudah ketinggalan zaman.

Dulu-dulu memang cocok disebut serangan fajar, sebab dulu-dulu itu Caleg atau tim sukses Caleg berseliwerang pada subuh hari menjelang fajar membagi-bagi uang ke masyarakat yang sedang siap-siap ke TPS menyalurkan hak pilih mereka.

Dulu-dulu itu tiap suara dibeli antara Rp50 ribu hingga Rp200 ribu. Tapi pada Pemilu 2019 ini, jumlahnya berlipat ganda. Bahkan di pulau-pulau Pangkep misalnya, ada Caleg yang berani hambur uang Rp1 juta tiap rumah. Bayangkan begitu kerasnya politik uang, dan jajaran Panwas tak bisa berkutik.

Kalaupun ada Caleg yang diproses Panwas, itu cuma satu dua orang di antara ribuan Caleg yang berlaga di Pileg. Itupun karena ada pengaduan masyarakat. Konon kabarnya bukan tertangkap tangan oleh Panwas di lapangan saat mereka beraksi.

Kembali soal serangan fajar itu tadi. Bahwa istilah tersebut sebetulnya sudah ganti nama dengan Serangan Malam. Malam-malam uang suap dibagi-bagi ke masyarakat pemilih, agar mereka memilih Caleg tertentu yang membagi-bagi uang itu. Dan tidak lagi menunggu terbitnya fajar di ufuk timur.

Bahkan ada yang melakukan Serangan Siang. Waktu siang-siang mereka para Caleg berseliwerang membagi-bagi uang, agar esok paginya si Caleg yang dipilih di TPS.

Yang jadi persoalan kemudian ialah, adanya sejumlah orang yang mabuk serangan. Dia menerima uang dari sejumlah Caleg dengan Dapil yang sama. Di tangannya terkumpul Rp2 juta uang suap, yang berasal sari sepuluh Caleg. Tentu saja dia bingung yang mana harus dia pilih di TPS. Dan sebab bingung, maka besok paginya saat pencoblosan, dia memilih tidur di rumah. Tidak berani ke TPS.

Persoalan selanjutnya ialah, sejumlah Caleg yang stres dan bahkan ada yang masuk ke RS Dadi yang khusus merawat orang gila. Mereka para Caleg ini menderita gila akibat memikirkan uang serangan fajar yang begitu besar telah dihamburkan, namun ternyata tidak lolos ke parlemen. Dia bingung bagaimana mengembalikan uang pinjaman itu ke pemiliknya.

Bahwa konsekwensi Pemilihan Legislatif memang sungguh besar dampaknya. Hal itu disebabkan salah satunya karena uang begitu besar jumlahnya dihambur, padahal itu adalah uang pinjaman. Masih mending kalau pinjaman dari mertua, bagaimana kalau pinjam dari rentenir. Dan hal itu menandakan bahwa Panwas belum cukup efektif menjaga demokrasi bersih tanpa suap.

Semoga saja di Pileg lima tahun ke depan, sudah ditemukan katup pengaman agar tidak ada lagi politik uang ***

 

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya