Nurdin Abdullah di Mata Saya

13 May 2019 21:54
Nurdin Abdullah di Mata Saya
Usdar Nawawi

 

BugisPos — Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, sebagai manusia biasa, tentu saja memiliki kekurangan, tetapi pasti juga punya kelebihan.

Namanya juga manusia biasa, dia bukan malaikat.

Karena kelebihannya itulah dia kemudian dipilih oleh 1,8 juta rakyat di Pilgub Sulsel 2018 lalu, untuk menduduki jabatan gubernur berpasangan dengan Andi Sudirman Sulaeman yang berposisi sebagai wakil gubernur.

Dalam tenggang waktu delapan bulan gubernur Nurdin Abdullah memimpin, muncullah gelombang kritikan.

Gelombang yang mungkin lebih pas disebut riak, Riak kecil.

Hanya saja riak kecil ini cukup menohok. Muatannya boleh disebut fitnah.

Bahkan Nurdin Abdullah sendiri dengan gamblang menyebut itu sungguh fitnah. Nurdin Abdullah merasa sedih, teriris-iris, karena dia merasa tak melakukan sebagaimana apa difitnahkan kepada dirinya.

Seorang pemimpin di daerah provinsi, memang sudah menjadi resikonya menerima kritikan dari masyarakat.

Sudah sewajarnya menerima masukan dari rakyat yang dipimpinnya.

Semua itu tentu saja demi kemajuan Sulsel ke depan. Demi untuk kesejahteraan rakyat.

Tugas seorang gubernur memang hadir untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat.

Hanya saja bila kritik yang diharapkan membangun itu justeru berubah bentuk sebagai fitnah, tudingan tanpa dasar tanpa bukti-bukti, tentu saja menjadi sesuatu yang menyakitkan.

Maka sebagai manusia biasa, yang merasa tak melakukan atas apa dituduhkan kepadanya, wajar-wajar saja bila dia marah dan dengan gamblang menyatakan dirinya siap sumpah pocong.

Bahwa orang yang siap sumpah pocong itu, adalah bentuk pembelaan diri karena merasa tak melakukan apa yang dituduhkan.

Ada pula yang menuding-nuding, bahwa Nurdin Abdullah sudah delapan bulan jadi gubernur, tetapi belum terlihat apa yang telah dikerjakan Nurdin Abdullah.

Belum terlihat apa yang telah diperbuat.
Tudingan seperti ini sesungguhnya adalah sesuatu yang menggelikan.

Lucu tetapi tak membuat orang tertawa. Kalaupun ada orang yang mencoba tertawa, paling banter cuma membuat gatal di urat leher.

Masalahnya ialah, seorang yang bekerja untuk kurun waktu tertentu, ada proses awal, ada proses pengerjaan, kemudian ada proses finishing, dan terakhir pekerjaan rampung.

Siap diresmikan bila itu adalah pekerjaan proyek gedung, atau jembatan, atau selokan, atau apalah namanya.
Menilai pekerjaan seperti ini, ya mesti dinilai ketika gedung itu selesai. Bukan dinilai ketika di awal proses.

Dan orang yang menilai seperti ini, bisa jadi orang akan menyebut dia orang sinting.

Gubernur Nurdin Abdullah, sejak awal sudah mempermaklumkan ke publik, bahwa untuk menilai dirinya apakah bekerja dengan baik sebagai gubernur Sulsel, nilailah pada tenggang waktu tiga tahun ke depan. Tidak usah lima tahun ke depan, sebab itu terlalu lama.

Gubernur Nurdin Abdullah, sesungguhnya niatnya hanya satu, yakni ingin membangun Sulsel sebaik mungkin, yang pada gilirannya dapat membawa kesejahteraan bagi rakyar Sulsel.

Di antara titik-titik wilayah yang laju perekonomiannya terhambat lantaran fasilitas jalan yang tak memadai, maka dia fokuskan perhatiannya membangun jalan penghubung.

Misalkan Seko di Luwu, yang jalanya seperti kubangan, di tahun pertama pemerintahannya, poros jalan ini yang langsung dia anggarakan.

Pulau Selayar yang kesulitan alat transportasi laut karena kapal Ferynya rusak, dia langsung sumbang sebuah kapal Fery yang repsentatif sebagai alat transportasi bolak-balik Selayar-Bira yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Masyarakat Toraja dan Toraja Utara yang masih minim sarana jalan yang memadai, pun langsung direspon dengan bukti nyata perbaikan jalan.

Bahkan tak pernah terpikirkan pada masa-masa pemerintahan sebelumnya, bahwa untuk mempermudah gubernur mengetahui apa-apa yang dibutuhkan di daerah, gubernur Nurdin Abdullah membuat kantor di Luwu, Toraja dan Selayar.

Bila di masa lalu ada kantor pembantu gubernur, maka di masa kepemimpinan Nurdin Abdullah justeru yang dibikin adalah tempat dia berkantor di daerah.

Dengan menjadwal berkantor di daerah, maka gubernur Nurdin Abdullah akan lebih mudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat, atau para bupati dan walikota setempat, demi percepatan pembangunan.

Itulah sekilas tentang gubernur Nurdin Abdullah di mata saya, yang telah mengubah wajah Bantaeng dalam sepuluh tahun kepemimpinannya.

Dan juga tentunya sangat diharapkan dapat merubah wajah Sulsel yang lebih ke depan, yang dapat membawa tingkat kesejahteraan yang lebih baik bagi rakyat Sulsel ***

Oleh : Usdar Nawawi

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya