Oleh : Usdar Nawawi

Sudahlah, Berhentilah “Berkotek”

14 May 2019 21:16
Sudahlah, Berhentilah “Berkotek”

BugisPos – Mempanjang-panjangkan ocehan atas masalah SK Wakil Gubernur, yang mestinya sudah diakhiri setelah Wagub Andi Sudirman Sulaiman (ASS) sudah menyatakan akan menerima sanksi apapun itu, bila ada kesalahan atas SK yang ditekennya itu.

Intinya sekarang ini Pemprov Sulsel sudah memperbaiki kesalahan dan siap melantik ulang pejabat eselon III dan IV. Tentu saja SK yang dijadikan dasar pelantikan itu, yang sudah diteken olah gubernur Nurdin Abdullah.
Mau dibilang ASS keliru sebab meneken SK, belum tentu juga. Soalnya, di zaman gubernur Amin Syam konon ada Pergub yang mengatur soal pelimpahan wewenang ke Wagub. Dan Pergub ini sampai saat ini belum pernah juga dicabut nyawanya. Itu artinya dia masih hidup dan masih berlaku sebagai aturan.

Di Pergub itu pula tidak tercantum kalimat atau pasal yang menyatakan, bahwa peraturan gubernur ini berakhir otomatis setelah berubahnya peraturan yang lebih tinggi kedudukannya.

Maka berhentilah “berkotek”. Ada ayam yang berkotek saat mau bertelur, dan pada saatnya dia berhenti berkotek setelah telur meloncat dari lubang pantat. Bila seekor ayam yang mengeluarkan telurnya tapi masih juga berkotek-kotek, maka patut dipertanyakan sesungguhnya dia itu mengidap penyakit apa.

Tapi sungguh mati, saya tak ingin kaitkan kotekan ayam itu dengan istilah kotekan yang menyinggung-nyinggung soal dua pemimpin Sulsel ini berebut Panggung Kosong, yang saya juga tak paham apa arti dan maknanya. Pangkalnya di mana ujungnya ke mana ini istilah panggung kosong.

Orang bisa saja berpendapat, bahwa yang punya ucapan seperti itu, sepertinya sudah kehabisan kata-kata, sudah kekeringan bahasa santun. Padahal kita semua sudah sepakat untuk bersama mempertahankan budaya lokal kita, termasuk bahasa yang santun sebagai alat komunikasi kebanggan daerah kita. Mestinya kita Sipakatau, Sikapainge, Sipamali Siparappe, Simmaling-malingi. Saling menghargai, saling hormat. Dan bukannya saling mencerca. Apalagi dengan mencerca orang lain, tanpa melihat diri sendiri pada cermin yang jernih.

Soal panggung kosong itu, apa maksudnya? Mungkin kita perlu bertanya kepada orang-orang bijak, tentang makna panggung kosong, yang diperebutkan pula oleh gubernur dan wakil gubernur.

Bila ternyata panggung kosong itu dimaksudkan sebagai jabatan yang lowong, hal itu juga keliru. Sebab tiap jabatan tak pernah ada yang kosong. Dia selalu terisi, ya pjs, plh, pj, atau macam-macamlah istilahnya. Semakin banyak istilah juga makin membingungkan, tetapi tak pernah ada jabatan yang kosong. Mungkin yang benar, ialah jabatan defenitif, yang tentu beda dengan penjabat seperti yang disandang Pj Walikota Makassar Iqbal S Suhaeb saat ini. Pertanyaan paling tololnya ialah : Adakah panggung defenitif ?, Persoalan SK itu lagi, yang biasanya tercantum kalimat ; apabila ada kekeliruan dalam SK akan diperbaiki sebagaimana mestinya. Itu kan yang dasarnya perbaikan SK.

Ya kelirulah bila itu dipandang keliru, dan siapapun bisa saja keliru. Hanya malaikat mungkin dan yang pastinya Allah SWT tak pernah keliru. Manusia keliru itu hal biasa saja. Malah bila tak pernah keliru unsur kemanusiaannya patut dipertanyakan. Bisa jadi dia manusia luar biasa.

Mungkin demikianlah sepenggal ocehan, yang tentunya diharapkan pada ocehan ini, apa yang diocehkan hanya terjadi di negeri antar beranta.

Selamat menjalankan ibadah puasa. Orang yang berpuasa tak boleh saling cerca ***

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya