Tante…., ziarah !

05 June 2019 13:17
Tante…., ziarah !
Rombongan anak kecil yang membentuk kelompok-kelompok tersendiri.

 

 

Oleh : Arwan D. Awing

BugisPos – Tante, Ziarah !, suara seperti itu yang paling sering terdengar setiap tahunnya, sesaat setelah shalat Ied dilaksanakan.

Rombongan anak kecil yang membentuk kelompok-kelompok tersendiri, biasanya berformasi 4-4-2, yang artinya 2 orang anak yang menjadi ujung tombak mencoba peruntungan memasuki sebuah rumah sembari meneriakkan password, “Tante, Ziarah,” apabila ada respon berupa ampau dua ribuan, maka disusul 4 orang anak yang bertugas sebagai medfielder menyerang, terakhir 4 orang anak yang tersisa yang melengkapi GOL pamungkas grupnya. Kadang kala ada juga yang menggunakan formasi 4-3-3, 5-3-2 bahkan biasanya ada yang PD melakukan solo run.

Apabila “Mission Complete” grup mereka terhadap Target Operasi (TO) sukses, biasanya mereka saling membandingkan penghasilan mereka terhadap grup yang lain. Bukan itu saja, mereka saling “Share” tentang rumah mana saja yang berstatus “Dermawan” dan rumah mana saja yang berstatus “Sekke”.

Walaupun tanpa aplikasi penguat sinyal, mereka dapat mengendus keberadaan rumah-rumah yang berstatus “Dermawan” itu agar dapat diserang dan rumah-rumah yang berstatus “Sekke” yang wajib untuk dihindari.

Tapi password, “Tante, Ziarah !”, itu hanya dapat dipatahkan oleh rumah-rumah yang berstatus “Sekke” dengan password “Patah Kunci” untuk menghalau serangan “Tante, Ziarah !”, itu tadi.

Itulah tradisi lebaran yang entah dimulainya sejak kapan. Terkadang hal itu merindukan kita, kadang kala pula cukup mengganggu kita. Namun tradisi seperti ini, belum tentu dirasakan semua orang, apalagi orang-orang yang berdiam di perumahan dengan tingkat “Maximal Security” tentu suara-suara itu terasa aneh ditelinganya.

Menilik dari definisi ziarah itu sendiri, ziarah adalah salah satu praktik sebagian besar umat beragama yang memiliki makna moral yang penting. Kadang-kadang ziarah dilakukan ke suatu tempat yang suci dan penting bagi keyakinan dan iman yang bersangkutan. Tujuannya adalah untuk mengingat kembali, meneguhkan iman atau menyucikan diri.

Jadi dari segi penggunaan bahasa, kata “ziarah” itu sendiri keliru untuk berkunjung ke rumah. Kata yang lebih tepat tentunya adalah “Silaturahmi atau Silaturahhim” yang bermakna saling berbagi kasih. Namun tentu jadi aneh apabila kelak ada segerombolan anak yang datang dan berteriak “Tante, Silaturahmi !”.

Kadang kala bahasa yang baku dan benar terdengar asing ditelinga, namun kadang kala pula bahasa yang dianggap keliru dan terkesan tidak baku menjadi lumrah ditelinga karena sudah menjadi ujaran kebiasaan masyarakat.

Kembali, ke “Tante, Ziarah !”, semoga ujaran yang menggema di rumah-rumah masyarakat dapat juga menyentuh rumah-rumah petinggi negeri.

Akhirnya ucapan Minal Aidin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin menutup coretan ini. Semoga para pembaca yang budiman kembali ke fitrahnya sebagai manusia yang sesungguhnya.

(Penulis : Wapimred BugisPos.Com)

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya