Mengapa Om Ben Disalahkan ?

17 June 2019 23:07
Mengapa Om Ben Disalahkan ?
Usdar Nawawi

Oleh : Usdar Nawawi

 

BugisPos — Tiba-saja Om Ben jadi topik pembicaraan, utamanya dari kalangan orang-orang yang suka mengkitisi gubernur Sulsel Nurdin Abdullah.

Dalam konteks berdemokrasi Om Ben sesungguhnya tidak salah juga bila dia menelpon atau menjapri orang-orang yang dia pandang sebagai kawan sendiri, minta agar mereka yang menyebut diri pengamat, akademisi, pemerhati, ata apalah namanya, untuk tidak mengkritisi gubernur Nurdin Abdullah di media atau mungkin juga di medsos.

Om Ben, Staf khusus gubernur Nurdin Abdullah yang sudah mendampingi dan mengurusi tetek-bengek keperluan Nurdin Abdullah sejak menjabat bupati Bantaeng ini, wajar-wajar saja bila meminta agar para kenalannya tak mengkritisi gubernur.

Namanya juga meminta. Ya tergantung orang saja apa mau memenuhi permintaan Om Ben atau tidak.
Mengapa mesti orang jadi marah-marah hanya sebab Om Ben meminta. Bukan memerintah. Om Ben juga tak punya hak untuk memerintah siapapun diluar dirinya.

Dia jadi Staf khusus itu karena dia sosok yang setia pada Nurdin Abdullah. Dan tak ada salahnya juga bila dia hanya sekadar meminta pada mereka yang dia pandang wajar dia mintai. Jadi mereka yang dimintai tolong itu ya tak usahlah mempersoalkannya. Kalau memang maunya mengkritisi gubernur ya sialahkan saja.

Ini negara demokrasi dimana setiap orang punya hak berpendapat, memberi masukan, dan mengkritisi. Toh gubernur itu milik rakyat. Bukan milik pribadi Om Ben. Hanya saja pada hemat saya, mengkritisi pemimpin itu baiknya punya solusi. Ada usulan jalan keluar yang baik demi kepentingan masyarakat dan kemajuan Sulsel.

Kita semua tentu berharap jangan sampai kritikan yang muncul juga tidak produktif, tidak konstruktif, atau bisa jadi hanya sekadar piti kana-kanai, piti tudu-tudui tak jelas ujung pangkalnya sehingga mengesankan aroma dendam dan sakit hati. Jangan sampai seperti itu. Jangan sampai di balik itu juga ada sejenis rantang pesanan, yang ujung-ujungnya makin terasa unsur fitnahnya. Semoga saja hal itu tak terjadi.

Bahwa siapapun boleh-boleh saja mengkritisi gubernur sebagai nafas demokrasi. Tetapi kita butuh kritik yang dewasa dan berbudaya. Berbudaya itu yang dimaksud adalah santun, sipakatau sipakalebbi sipakainge sipamali siparappe. Bukan siatellengngeng (saling menenggelamkan).

Pada hampir setiap saya cerita-cerita dengan teman-teman di warkop, saya selalu bicara soal budaya panjat pinang yang masih saja menggeliat di Sulsel ini.
Coba saja lihat lomba panjat pinang pada tiap Agustusan. Pohon pinang dilumuri oli lalu peserta berlomba memanjat untuk merebut hadiah yang ditaruh di ujung atas pohon pinang. Di atas sana ada macam-macam hadiah, bahkan sampai ada sepeda motor digantung segala.

Proses panjatnya itulah yang memberi pesan negatif pada kita semua.
Yang duluan di atas menginjak yang di bawah. Yang di atas menarik turun yang di atas bahkan bila perlu menginjaknya pula. Itulah fakta lomba panjat pinang. Yang di atas ditarik turun. Setiap orang yang di atas berupaya diturunkan biar yang lain bisa naik. Begitulah seterusnya dan entah kapan akan berakhir ***

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya