Nurdin Abdullah dan Uang Panai

15 June 2019 19:37
Nurdin Abdullah dan Uang Panai
Usdar Nawawi

 

BugisPos — Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah menjadi risau gara-gara uang panaik lagi-lagi jadi topik hangat di media pers dan media sosial.

Uang panaik menjadi heboh lagi lantaran dua kabupaten di Sulsel menjadi kesohor lantaran ada warganya diberi uang panaik sampai ratusan juta, ada yang 300 juta rupiah ada juga yang 500 juta rupiah.

Luar biasa memang. Tapi tidak usahlah disebut nama kabupatennya di sini. Bisa-bisa saya disemprit pak bupatinya. Kenapa mesti dibocorkan kemana-mana bahwa di kabupaten ini uang panaiknya sampai selangit.

Memangnya menikahi tuan putri si anak raja iya?
Sebetulnya dengan uang panaik yang sebesar itu, mencerminkan kesan ‘kapuji-pujiang’ sok mau dipuji-puji orang. Bisa juga si wanita menerima uang panaik seperti itu sebagai pengganti sikap penolakan.

Sebenarnya wanitanya tak sudi menerima lamaran si pria. Kalau berani ya silahkan saja dengan uang panaik ratusan juta.

Bagi gubernur Nurdin Abdullah, fenomena seperti ini sangat berbahaya bagi anak-anak muda di Sulsel. Bisa-bisa memicu jumlah pasangan silariang atau kawin lari.

Kata gubernur, dampaknya bisa berakibat negatif di kalangan pemuda. Akan menjadi susah nikahnya bila uang panaik yang mahal-mahal menjadi trend di masyarakat.

Karena itulah gubernur minta media untuk tidak membesar-besarkan soal besarnya uang panaik. Karena bisa berdampak buruk bagi kalangan anak muda. Bagaimana bisa nikah kalau uang panaiknya selangit.

Akan merepotkan jual sawah, pinjam di koperasi, atau dengan tetek-bengek upaya mencari bantuan kemana-mana.
Ada memang kesan bahwa besarnya panaik itu dilatari dengan gengsi utamanya di pihak wanita.

Gengsi kalau uang panaik tidak lebih seratus juta rupiah. Belum lagi ongkos tetek-bengek lainnya.

Tetapi usai acara, jadi pusing tujuh keliling bayar utang kiri-kanan. Maklum saja isi amplop undangan jauh tak mencukupi dari ongkos pernikahan yang sudah ditumpah.

Ritual pernikahan di Sulsel, tampaknya memang mesti dengan biaya besar. Terutama pihak wanita, tak elok bila pestanya bukan di gedung.

Selain pesta di gedung, pesta di rumah pun mesti dilakukan, minimal makan-makan saat acara mappaccing, atau saat acara mammatua. Pengantin wanita datang ke rumah mertua bersama rombongan sesudah akad nikah. Belum lagi ritual mallekka atau mapparola.

Menjemput mempelai wanita dibawa ke rumah pengantin pria.
Tentu saja semua ritual adat Bugis Makassar ini butuh ongkos. Hal itu juga terjadi pada adat Mandar dan Toraja.

Saat pesta, belakangan ini juga lagi trend dengan busana seragam. Ibu-ibu yang layaknya panitia pernikahan, dilengkapi dengan baju seragam. Juga baju adat menjadi budaya yang mesti.

Jas tutup, sarung sutra dan songkok pamiring. Berapa biaya sewa semua itu?
Harusnya memang semua itu disederhanakan.

Tetapi karena menjaga adat-istiadat, ya kearifan lokal, maka jadilah semua itu berbiaya mahal.
Yang gedung pesta, ya makan minum serta segala rupa kelengkapan pesta, yang kemudian bikin kepala puyeng.

Bahwa dengan pesta sederhana, cukup pasang tenda terowongan di depan rumah, mungkin akan lebih irit biaya. Mengapa hal seperti itu tak mulai dibudayakan? ***

Oleh : Usdar Nawawi

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya