HTTP Status[404] Errno [0]

Dualisme Kepemimpinan itu Cuma Fitnah

25 June 2019 18:55
Dualisme Kepemimpinan itu Cuma Fitnah
Usdar Nawawi

BugisPos — Gonjang-ganjing soal Hak Angket yang ternyata diloloskan melalui Paripurna di DPRD Sulsel, kini mulai mendapat serangan balik dari sejumlah pakar dan pengamat.

Sejumlah pakar tidak sependapat dengan DPRD Sulsel yang diketuai Moh Roem soal hak angket itu. Kata mereka, hak angket itu baru bisa dilakukan bila tindakan gubernur berdampak luas pada seluruh masyarakat di Sulsel.

Pelantikan pejabat eselon III dan IV oleh Wagub Andi Sudirman Sulaiman itu sesungguhnya tak punya dampak apa-apa di tengah masyarakat.

Masalahnya juga sudah diselesaikan Kemendagri, dan Wagub diberi ruang melakukan pelantikan ulang.

Andaikan Wagub dipersalahkan maka tidak mungkinlah Wagub dipercaya melakukan pelantikan ulang.

Artinya, urusan pelantikan ini sudah selesai, lantas mengapa DPRD yang kemudian naik pitam sehingga over menyikapinya dengan hak angket.

Sikap yang berlebihan kata banyak orang, dan mengesankan sebagai langkah balas dendam politik, dengan tujuan menjatuhkan kepemimpinan gubernur Nurdin Abdullah dan Wagub Andi Sudirman Sulaiman.

Satu hal dalam gonjang-ganjing ini yang sungguh terasa aneh. Mereka menuding kepemimpinan Prof Andalan terjebak dualisme.

Mereka menganggap terjadi dualisme kepemimpinan antara Gubernur Nurdin Abdullah dan Wagub Andi Sudirman Sulaiman.

Anggapan ataupun tudingan seperti ini sungguh keliru besar. Tudingan yang mengada-ada. Tudingan yang dibuat-buat tanpa dasar dan fakta.

Tujuannya terkesan hanya semata mencari alasan untuk menjungkalkan kepemimpinan Prof Andalan saja. Padahal alasan itu tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Siapa bilang di antara Nurdin Abdullah dan Andi Sudirman Sulaiman terjadi dualisme kepemimpinan? Mana buktinya?

Tidak ada secuil pun bukti yang bisa menunjukkan adanya dualisme itu. Mungkin saja orang yang menuding ada dualisme saat dia sedang ketiduran dan mimpi buruk.

Sesungguhnya gubernur Nurdin Abdullah di awal pemerintahannya sudah mengatakan, bahwa dia bersama Wagub Andi Sudirman Sulaiman membagi tugas.

Nurdin Abdullah turun ke kabupaten kota melihat langsung apa-apa yang diperlukan untuk dibangun, utamanya infrastruktur jalan yang selama ini belum mendapat perhatian dari pemerintahan sebelumnya. Karena itulah Nurdin Abdullah membuat kantor di Luwu, Toraja, dan Selayar.

Sedang Andi Sudirman Sulaiman bertugas menangani pemerintahan sekaligus melakukan pengawasan. Karena itulah Wagub lebih banyak berada di kantor gubernur Jl.Urip Sumoharjo.

Nah, apakah dengan pembagian tugas seperti ini lantas seenak dengkul orang dengan mudah menudingnya sebagai dualiame kepemimpinan? Semua itu oleh banyak orang disebutnya sebagai fitnah.

Kata Andi Sudirman Sulaiman, langkahnya dalam menjalankan tugas tak lepas dari koordinasi dengan Nurdin Abdullah. Sedang Nurdin Abdullah sendiri selalu bilang, semua keputusan yang diambil adalah keputusan berdua.

Tidak ada itu keputusan sendiri-sendiri. Dan semua itu dilakukan untuk suksesnya pelaksanaan janji politik di saat kampanye di Pilgub tempo hari.
Bahwa di masa sekarang ini, orang-orang yang nafsu menjatuhkan demikian banyak dengan segala rupa alasan.

Itulah fenomena kita di Sulsel, yang masih saja akrab dengan budaya panjat pinang. Yang di atas ditarik turun lalu diinjak setelah jatuh ***

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya