HTTP Status[404] Errno [0]

Memangnya NA dan Dirut RS Cuma Pergi Mengunyah Onde-onde Jepang?

28 June 2019 09:44
Memangnya NA dan Dirut RS Cuma Pergi Mengunyah Onde-onde Jepang?
Oleh : Usdar Nawawi

BugisPos – Boleh jadi Pansus Hak Angket ini mulai panik menghadapi tekanan publik, yang tak sependapat dengan langkah DPRD Sulsel melancarkan hak angket.

Dalam tiga hari ini sudah begitu banyak pakar dan pengamat menentang hak angket yang diinisiasi Fraksi Golkar itu. Golkar memang berseberangan dengan PAN, PKS, dan PDIP di Pilgub 2018 lalu.

Golkar mengusung calon gubernur Nurdin Halid yang keok di Pilgub, sedang PAN, PKS dan PDIP mengusung Nurdin Abdullah yang kemudian memenangkan Pilgub Sulsel berpasangan dengan Andi Sudirman Sulaiman dengan enjoy.

PKS sendiri terkesan marah lantaran ada kadernya dari PKS tanda tangan hak angket dan hadir di Paripurna, yang harus menerima sanksi dikeluarkan dari jabatan Alat Kelengkapan Dewan (AKD).

Sedang PDIP sepakat tak hadir di Paripurna untuk memboikot hak angket.
Soal Pansus hak angket yang dinilai banyak orang mulai panik ini, yang tiba-tiba pula memuncutkan cerita yang rada lucu juga.

Mereka menyoal keberangkatan gubernur Nurdin Abdullah (NA) bersama sejumlah direktur rumah sakit ke Jepang.
Mereka para anggota dewan yang terhormat ini mempertanyakan seberapa urgennya keberangkatan mereka itu ke Jepang.

Mereka mencari-cari dan menduga-duga seperti apa efek kunjungan ke Jepang itu terhadap kemajuan dan kesejahteraan untuk masyarakat Sulsel.
Menjawab pertanyaan seperti ini, sejumlah orang tersenyum-senyum.

Mungkin juga senyum mereka itu mengisyaratkan betapa pendukung hak angket ini sungguh-sungguh cuma mencari kesalahan di setiap jengkal langkah Nurdin Nurdin Abdullah.

Bahkan mencari investor di kalangan teman-teman Jepang, Nurdin Abdullah juga dikuntit-kuntit habis.

Apa mereka pikir bahwa keberangkatan Nurdin Abdullah dan sejumlah direktur rumah sakit itu, hanya untuk sekadar datang ke mengunyah onde-onde Jepang?

Nurdin Abdullah itu punya banyak kolega di Jepang. Sahabat-sahabatnya adalah kalangan pengusaha Jepang yang punya potensi besar berivestasi di Sulsel. Perdana menteri Jepang saja sahabat Nurdin Abdullah.

Dan bila selama ini Nurdin Abdullah membagi-bagi mobil Damkar ke sejumlah bupati di Sulsel, itu cuma secuil bantuan gratis dari Jepang.

Pertanyaannya ialah, ada urusan apa sampai sejumlah direktur rumah sakit itu dibawa ke Jepang? Jawabannya adalah, hal itu tentu terkait erat dengan program Nurdin Abdullah Andi Sudirman Sulaiman membangun sebanyak enam rumah sakit regional di Sulsel.

Tidak mungkinlah untuk urusan rumah sakit, lantas Nurdin Abdullah memboyong sejumlah insinyur kapal. Tidak mungkin!!!
Bayangkan saja Prof Andalan di tahun pertama pemerintahannya, sudah sedang membangun tiga rumah sakit regional di tiga daerah, yakni, Palopo, Bone dan Parepare.

Proyek rumah sakit type B Parepare malah diberi nama RS dr Hasri Aimun Habibie. Tujuannya nyata, agar masyarakat sekitar Pinrang, Sidrap, Barru dan Barru sudah tak perlu lagi berobat ke Makassar, cukup ke Parepare.

Begitu pun rumah sakit di Palopo dan Bone yang sedang proses tender (yang proyeknya bukan dibagi-bagi begitu saja) untuk memudahkan masyarakar sekitar Palopo dan Bone tuk berobat.

Lha, apa hal ini bukan untuk kepentingan masyarakat Sulsel? Coba pikir baik-baik.

Karena itulah Nurdin Abdullah memboyong sejumlah direktur rumah sakit ke Jepang, untuk menemukan bahan pembanding bagaimana sistem pelayanan kesehatan di Jepang.

Bukan untuk sekadar pergi jalan-saja saja, bukan untuk plesiran seperti ‘orang lain’, yang hanya pergi menghabiskan uang negara tanpa tujuan yang jelas, tanpa hasil yang jelas ***

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya